Reoni Pembawa Jodoh

Reoni Pembawa Jodoh
Kegagalan


__ADS_3

Terik matahari tak menggoyahkan semangat Dirga untuk memberi kejutan pada kekasihnya. Tepat pukul dua belas tadi Dirga meninggalkan kantor pusat karena urusannya sudah selesai.


Sesuai rencana Dirga akan mengajak Juli makan siang bersama di taman layaknya orang piknik dengan menu sederhana hasil karyanya di dapur kantor tadi. Namun sebelum itu ia akan memberikan kejutan pada pujaan hatinya dengan datang kerumahnya tanpa memberi tahu terlebih dahulu.


Senyum semangat seorang Dirga tak pernah luntur sepanjang perjalanan menuju kediaman orang tua Juli. Cukup tiga puluh menit ban mobil Dirga merayap diatas aspal akhirnya sampai dikomplek perumahan elite milik keluarga Juli.


Ini pertama kalinya Dirga mengunjungi kediaman kekasihnya itu, karena selama ini Juli selalu menolaknya jika ia ingin bertamu kerumah, katanya belum saatnya. Juli bilang masih malu bawa pacar kerumah.


Hari ini Dirga nekad bertandang walau nanti Juli akan ngambek ataupun marah itu urusan belakangan, atau disuruh orang tuanya nikahin Juli, Dirga sip lahir batin.


"Permisi pak, " ucap Dirga kala melihat satpam penjaga komplek.


"Benarkah di komplek ini ada yang namanya Juli? " tanya Dirga pada pak satpam. Maklum selama menjalin kasih dengan Juli tak pernah sekalipun Juli mengajaknya kerumah, sekalipun Dirga mengantar Juli pasti ia minta turunkan di sekitaran depan komplek sini.


"Maaf mas nya tamu undangan ya? Mana undangannya mas boleh saya lihat? " mendengar penuturan pak satpam bernametag Sapto itu membut Dirga bingung, undangan apa yang dimaksud beliau.


"Undangan? " tanyanya memastikan, sedangkanseingat Dirga hari ini bukanlah hari ulang tahun Juli.


"Iya, undangan, " jelas pak Sapto, " undangan pernikahan mba Juli sama mas Fabian, " lanjutnya lagi.


Sontak saja mendengar hal itu Dirga terkejut bukan main. Bukankah Juli itu kekasihnya, mengapa malah menikah dengan lelaki lain.


Namun tak mau ambil kesimpulan hanya dari mendengar kata orang jadi selagi gak ada bukti Dirga yakin jika mungkin Juli yang dimaksud pak Sapto bukanlah Juli kekasihnya, karena yang namanya Juli pasti bukan hanya kekasihnya.


"Maaf pak saya gak punya undangan, dan maksud saya datang kesini juga ingin menemui kekasih saya namanya Juli, mungkinJuli yang bapak maksud bukanlah jUli kekasih saya, "


"Loh mas ini jangan ngada-ngada ya orang bener kok yang nikah itu mba Juli, "


"Mungkin yang namanya Juli gak cuman satu dikomplek ini pak, "


"Setahu saya hanya ada satu yang namanya Juli disini mas, ya mba Juli yang nikah hari ini, "

__ADS_1


Namun jika mata dan kepalanya tak melihat secara langsung Dirga masih enggan percaya, akhirnya ia meminta tolong sama pak Sapto untuk membawanya masuk.


Mau tak mau pak Sapto membawa Dirga ke rumah Juli dimana disana sedang diadakan pesta pernikahan Juli dengan syarat Dirga tidak akan mengacaukan acara.


Keduanya pergi menuju kediaman Juli, sedangkan pak Sapto meminta pak Slamet untuk jaga pos sendiri dulu.


Sekitar lima menit waktu yang mereka lalui akhirnya tiba di kediaman Juli. Benar saja itu adalah rumah Juli kekasih Dirga pasalnya didepan rumah berdiri kokoh sebuah banner yang terpampang jelas foto Juli dengan lelaki lain yang nampak mesra.


Dirga terdiam memandang banner tersebut, rasanya sakit sekali bahkan lebih pedih daripada tersayat sembilu kala melihat kekasih yang selama ini dicintai dengan tulus tega mengkhianati.


Hancur...


Itulah yang saat ini Dirga rasakan, ingin tak ingin rasanya masuk kedalam karena itu hanya akan membuat hatinya hancur lebur.


Namun ia harus membuktikan jika ia tegar menghadapi kenumyataan dan ia akan berterimakasih pada suami dari pacarnya itu karena sudah menunjukan siapa dan bagaimana sifat wanita yang ia puja puja selama ini.


Dirga masuk kedalam ditemani pak Sapto sebagai tamu tak diundang.


"Selamat ya sayang, " ucap Dirga begitu ia menginjakan kakinya di atas pelaminan.


Juli refleks melepaskan gandengan tangannya dari suaminya karena terkejut melihat keberadaan Dirga bahkan tangan Dirga yang menggantung tak juga disambut oleh Juli.


"Dii Dirga..! " Juli menyebut nama kekasih yang ia putuskan dengan cara selingkuh itu terdengar gagap.


"Ah iya maaf aku datang tanpa diundang, dan maaf tadi juga masih memanggil sayang, tapi setelah ini aku pastikan aku tidak akan memanggilmu sayang lagi, aku lepaskan kamu untuknya. " Dirga tersenyum getir, namun berusaha terus tegar saat ia di khianati.


"Sekali lagi selamat atas pernikahan kalian, " Dirga menatap suami istri itu bergantian. " Dan satu lagi terimakasih untuk semuanya, termasuk luka ini, selamat tinggal Juli semoga bahagia, " lanjut Dirga, bunga yang tadinya akan ia berikan pada Juli saat menjemputnya ia jadikan kado terakhir untuk Juli.


Sedangkan Juli hanya diam memandang Dirga, ingin berucap kata namun nyatanya lidahnya kelu, apa juga yang harus ia katakan pada Dirga, ingin membantah jika ia terpaksa nikah itu tidak mungkin, karena nyatanya pernikahan ini bukan pernikahan paksa.


Juli memang sudah berselingkuh dari Dirga dengan suaminya semenjak lama, karena intensitas pertemuan mereka yang sangat jarang membuat Juli diam-diam mencari kekasih baru tetapi ternyata selingkuhannya itu gaya pacarannya bebas akhirnya Juli ikut masuk dalam perangkap Fabian hingga sekarang ia hamil dan harus menikah dengan Fabian.

__ADS_1


Sedangkan Fabian hanya memandang Dirga dengan senyum kemenangan, tak ada kata-kata yang terucap dari bibirnya tetapi dari senyumnya sudah mampu dibaca jika ia tengah mengejek Dirga.


Dirga berlalu pergi meninggalkan kediaman Juli. Gagal sudah ia memberi kejutan pada kekasihnya eh ralat mantan kekasih maksudnya. Niat memberi kejutan malah dirinya yang terkejut dengan kejutan luar biasa dahsyat yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.


Dirga kembali menjalankan mobilnya, namun tak memiliki tempat tujuan yang jelas, dalam keadaan kalut ia menyetir begitu cepat hingga tak menyadari ada rintangan didepan, Dirga terkejut dan langsung menginjak rem mobilnya.


Ckkiiiiitttt


Suara ban yang sedang bergesekan dengan aspal namun dipaksa berjenti.


Sedangkan di delan sana seoranv gadis sudah pasrah jima ia akan tertabrak mobil, gadis itu menutup mata dan telinganya ia tutup dengan tangan di posisi berdiri.


"Maaf kamu gak papa kan? " tanya Dirga yang sudah keluar dari mobil dan menghamoiri gadis yang hampir saja meregang nyawa karena ulahnya.


Gadis itu masih syok ia hanya mampu menggeleng. Dirga mengajaknya minggir untuk duduk dulu dibahu jalan rtak lupa Dirga memberi air mineral pada gadis itu agar ia lebih tenang lagi.


"Maaf sekali lagi, saya tidak hati-hati berkendara, " ujar Dirga tulus.


Gadis itu hanya mengangguk, dan kini ia berani mengangkat kepalanya hingga wajahnya terlihat dengan jelas.


"Kamuu.... "


.


.


.


.


Baru up, ketiduran kemarin. 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2