
Dengan stelan dres panjang berwarna biru berpadu dengan blezer putih dan hijab senada dresnya tapi lebih terang membuat tampilan Laura terkesan manis.
Degub jantungnya sudah mulai bertalu-talu sejak tadi sore dan semakin mendekati waktu bertemu dengan orang tua Dirga jantungnya semakin cepat berpacu. Ia mondar mandir didalam kamarnya layaknya setrikaan.
Ini kali pertamanya bertemu orang tua dari seorang lelaki yang insyaallah akan menjadi suaminya nanti.
Begitu banyak pertanyaan yang berseliweran diotaknya apakah, orang tuanya Dirga galak, apakah orang tua Dirga mau menerimanya dan merestui hubungan mereka, apa orang tua Dirga memandang bibit bebet bobot seperti dalam cerita novel yang dibacanya ataupun kisah dalam film yang ditontonnya.
Huh Laura pusing memikirkan hal itu, sampai jari jemarinya berkeringat dingin.
Tok Tok Tok
"Sayang Dirga sudah datang, ayo temui dia, " ujar bu Ambar akhirnya mampu memecah lamunan Laura.
"Iya mah sebentar, " sebelum turun Laura menghela nafasnya lalu menghembusnya perlahan guna menutupi kegugupannya.
Laura menuruni tangga masih sambil mengatur nafasnya.
"Hay, " sapa Dirga diiringin senyumannya, terpana akan kecantikan Laura, sedangkan Laura hanya membalas senyum kikuk pada Dirga dan melambaikan tangan.
Keduanya terpaku tak ada yang mau berpindah dari tempatnya larut dalam fikiran mereka masing-masing.
"Ekhmm, " hingga sebuah deheman akhirnya
membawa mereka kembali kedunia nyata.
"Eh iya, tunggu dulu aku kedapur dulu, " ujar Laura, ia mengambil kue yang tadi dibuatnya.
Sementara Laura kedapur...
"Tuh terpesonakan sama anak om, makanya om cuman kasih waktu satu bulan buat kamu halalin anak om, takut kebablasan kalo kelamaan perkenalannya, " ujar pak Wahyu tersenyum simpul.
Dirga hanya bisa tersenyum malu dan menjadi salah tingkah hingga menggaruk kepalanya yang sebenarnya tak gatal, karena kepergok sudah memperhatikan Laura terlalu dalam.
"Udah yuk, " ajak Laura tiba-tiba dari arah dapur sambil menenteng goddibag yang berisikan kuker.
"Eh iya, om, tante, aku pinjam Lauranya dulu ya, " pamit Dirga pada kedua orang tua Laura, tak lupa ia menyalim tangan kedua paru baya itu.
"Tumben pamit biasanya juga enggak, " sindir pak Wahyu, bukan ia tak tau pertemuan Laura dengan Dirga bersama Sofia dan Agung biasanya, ia tau semuanya karena ia mengawasi putrinya itu meski tidak secara langsung.
Kedua sejoli itu mengerutkan keningnya mendengar perktaan pak Wahyu mereka tak menyadari jika mereka sedang disindir.
Melihat raut kebingungan diwajah putri dan calon menantunya bu Ambar angkat bicara, " udah gak usah didengerin papa kamu, cepetan berangkat nanti kemalaman, " kata bu Ambar, sedangkan pak wahyu
Akhirnya keduanya pergi meninggalkan rumah Laura menuju rumah Dirga.
"Kamu bawa apa itu ? " tanya Dirga setelah ia menjalankan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Laura, seraya matanya melirik ke arah goddybag yang dibawa Laura.
"Oh itu kuker, khusus buatan aku untuk orang tua kamu," jawab Laura tersenyum senang.
"Lah kok gitu, aku gak dikasih gitu ? " Dirga pura-pura ngambek karena namanya tak disebut Laura.
"Ya kan kuenya dibawa kerumah kamu juga, ya kamu minta aja sama orang tua kamu nanti kalo mereka kasih ya kamu makan kalau engga berarti kamu gigit jari aja, " Laura tergelak usai mengatakan itu.
__ADS_1
"Ih mulai jail ya sekarang? " goda Dirga, " awas kamu nanti tunggu pembalasan aku, " lanjutnya lagi.
Mereka terus saja berdebat lucu, sepanjangperjalanan hingga tak sadar jika mereka sudah tuiba di kediaman Dirga, meski tidak sebesar rumah Laura tapi ini hasil kerja keras Dirga sendiri.
Bukan hanya pertama kali akan bertemu orang tua Dirga, tetapi ini juga kali pertama Laura menginjakkan kaki dirumah Dirga.
"Maaf ya rumah aku kecil, " ujar Dirga setelah turun dari mobil karena melihat Laura nampak memperhatikan rumahnya.
"Yuk masuk, " ajak Dirga.
"Iya, " saut Laura
Dirga pun berjalan mendahului Laura namun ketika ia membuka pintu Dirga menyadari sesuatu, ya Laura tidak mengikutinya.
"Loh kok malah diam disini, " Dirga mendekat kembali ke arah Laura berdiri.
"Mmm aku gugup, " kata Laura jujur.
"Udah gak usah gugup orang tuaku gak akan telan kamu kok, " kelakar Dirga.
"Ihh mas ini, " Laura tersenyum mendengar perkataan Dirga.
"Nah gitu senyum kan manis, " puji Dirga, ia pun ikut tersenyum.
"Ayo, " sekali lagi Dirga mengajak Laura masuk kedalam rumahnya.
Degub jantungnya yang sudah kembali normal tadi saat Dirga datang menjemputnya kini malah semakin berdegub tak ngaruan, gugup luar biasa.
"Assalamualaikum, " salam Dirga ketika memasuki rumahnya.
"Waalaikumsalam, " saut ibu dan abah dari dalam, mereka ternyata sudah menunggu sejak tadi diruang tamu.
Mereka menyambut kedatangan Dirga dan Laura dengan senyuman tak ada wajah judes disana.
"Wah ini calon mantu ibu, cantik, " kalimat pertama yang keluar dari mulut bu Rahma ialah pujian untuk calon menantunya itu.
"Iya dong harus cantik, kan anak ibu ini ganteng, " ujar Dirga dengan gaya songongnya.
Laura tersenyum sekaligus kaget meluhat tingkah Dirga yang baru kali ini ia perlihatkan.
"Narsis amat, gak takut tu calon mantu abah ilpil liat kamu, " timpal pak Arman.
"Ilfil bah bukan ilpil, " koreksi Dirga.
Sedangkan Laura hanya menjadi pendengar sejak tadi, eh iya mereka masih berdiri diruang tamu loh ya, gak duduk loh itu berdiri lupa kali ya.
"Astaga maaf-maaf nak ibu lupa, yuk sini duduk, " bu Rahma membawa Laura duduk disofa.
"Nama kamu siapa? " tanya bu Rahma sambil menunjukan senyum ramahnya agar calon menantunya itu merasa nyaman dengannya.
"Laura bu, " jawabnya, Laura membalas senyum bu Rahma dengan senyum kehangatan pula.
Alhamdulillah kesan pertama mereka sepertinya baik-baik aja, ibu nampaknya suka dengan Laura, batin Dirga, ia tersenyum dalam diam.
__ADS_1
"Bu kapan makannya ? " tanya pak Arman, mengalihkan atensi semua orang yang ada disana termasuk Dirga yang sejak tadi menikmati pemandangan indah keakraban dua wanita tercintanya.
"Hehe ibu lupa, yuk kita kedapur, " ajak bu Rahma sambil terkekeh.
"Mas boleh minta tolong? " bisik Laura.
" Apa, mau liat kamar aku ? " ucap Dirga asal.
Puk
Dirga pun mendapatkan pukulan dibahunya dari Laura, akibat dari perkataannya itu.
"Iya maaf-maaf becanda, minta tolong apa? "
"Ambilin kuker tadi ketinggalan di mobil, "
Dirga lalu keluar untuk mengambil kuker buatan calon istrinya itu.
Sedangkan Laura sudah tiba di meja makan, ia duduk tepat disamping bu Rahma, di meja makan sudah tersaji banyak makanan dan salah satunya ada makanan favorit Laura.
Ada pete balado disana, huh nampaknya sangat menggiurkan untuk disantap.
Bu Rahma menuangkan nasi beserta lauk pauknya untuk pak Arman, Laura tersenyum melihatnya teringat akan kebiasaan orang tuanya dirumah hingga ia membayangkan dirinya nanti akan melakukan hal itu juga untuk Dirga.
"Sini ibu ambilin, " bu Rahma mengambil piring dihadapan Laura untuk ia isi dengan nasi dan lauk pauk.
"Gak usah bu, biar aku ambil sendiri, " tolak Laura tak enak hati.
"Gak papa biar ibu aja, kamu kan tamu sekarang, nanti kalau kamu sudah jadi istri Dirga baru deh boleh kamu yang siapin semuanya, " bu Rahma tetap mengambilkan makan untuk Laura tak lupa ia bertanya dahulu apa lauk pauk yang diinginkan Laura.
Setelah tau jika Laura sangat menyukai makanan berbau tapi sedap itu, alias pete bu Rahma senang sekali ternyata makanan kesukaannya juga disukai olen calon menantunya, merasa satu frekuensi deh bu Rahma.
"Bu ini kuker buatan Laura, " tiba-tiba Dirga datang meniterupsi pembicaraan kedua wanita itu.
"Wah enak nih sepertinya, " komentar bu Rahma setelah ia membuka goddybag yang dibawa Laura.
"Pas banget nih buat teman minum kopi, " ujar pak Arman.
Mereka pun melanjutkan makan malam ini dengan penuh kehangatan, Laura pun senang ia diterima dengan baik dikeluarga Dirga.
.
.
.
.
.
Maaf ya baru up,, semoga suka ya....
Jangan lupa like komennya 🤗
__ADS_1
Selamat Tahun Baru Semua semoga ditahun depan akan lebih baik lagi, amiin.