Reoni Pembawa Jodoh

Reoni Pembawa Jodoh
Sebelum Janji Temu


__ADS_3

Kicau burung terdengar merdu Saling bersahutan , seorang wanita nampak tersenyum penuh semangat dengan pakaian formal menandakan ia sudah siap berangkat kerja.


Senyum terus tersungging dibibir mungilnya, Laura, gadis itu siap menyongsong hari ini.


"Sumringah banget nih putri mamah, sudah jatuh cinta ya sama Dirga ? " goda bu Ambar.


"Apaan sih mah, " Laura tampak malu-malu, terlihat dari rona merah diwajahnya.


" Mama loh sudah gak sabar mau punya mantu, sudah banyak teman-teman mama yang punya cucu bahkan lebih dari satu cucunya, tinggal mama aja nih yang belum, " bu Ambar memasang wajah menyedihkan.


"Iya mah iya, nanti juga mama bakal ngerasain seperti teman-teman mama punya mantu, punya cucu, tapi sabar dulu ya oke, sekarang Laura harus kekantor dulu," Laura pamit tak lupa bersalaman mengecup punggung tangan sang mamah.


Lama-lama dirumah mama bakal ceramah panjang lebar soal menantu dan cucu, batin Laura.


Laura bingung dengan mamanya, menurutnya selama ini ia jomblo mamanya gak sibuk tuh ngomongin mantu apalagi cucu, slow aja gitu. Lah ini giliran sang papa memberi waktu Laura untuk mengenal Dirga malah si mama hampir tiap hari ngomongnya seputaran itu-itu mulu.


Seperti biasa Laura berangkat dengan motor matic kesayangannya, ia mengendarai motornya sambil tersenyum, untung aja pake helm kalo enggak bisa-bisa dia dikira orang gila lagi atraksi motor.


Sesampainya di kantor Laura langsung mengerjakan pekerjaannya berharap cepat selesai agar bisa pulang cepat hari ini, karena dikantor ini tidak masalah mau pulang cepat asal pekerjaan sudah beres.


Hari ini Laura akan bertemu dengan Sofia, Agung dan tentu saja Dirga, mereka sudah menyusun agenda pertemuan ini untuk membahas perihal kepribadian dua orang ini, siapa lagi kalau bukan Laura dan Dirga.


"Sibuk banget bu, " sapa Lidya, ia sengaja mendatangi Laura keruangannya karena ia sedang tidak sibuk.


"Ya, harus gercep biar cepat kelar, " saut Laura tanpa melihat kearah Lidya karena tengah sibuk dengan kertas-kertas dihadapannya.


"Cie yang gak sabar mau ketemu calon suami, " goda Lidya, dan sontak saja membuat hati Laura berdesir, wajahnya pun bersemu merah.


"Lidya ih diem deh, " Laura tak mau temannya itu membuatnya tidak fokus bekerja.


Hahahaha


Tawa pecah Lidya menggema diruangan tersebut, karena telah berhasil menggoda Laura.

__ADS_1


Lidya kembali keruangannya, ternyata niatnya datang keruangan Laura cuman hanya untuk menggoda Laura semata.


Laura hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Lidya. Setelah Lidya berlalu ia pun kembali fokus pada pekerjaannya.


Waktu sudah menunjukan pukul dua belas siang, saatnya istirahat. Laura pun berjalan kearah ruangan LIdya menjemputnya untuk makan siang di kantin kantor.


Sementara itu dikantor tempat Dirga bekerja ia juga sedang makan siang tetapi ikut bersama bosnya menemani klien diluar.


"Bagaimana pak Dirga siap membantu pak Tirta dalam proyek ini ? " tanya si klien.


"Siap pak, insyaallah saya sangat siap dalam membantu pak Tirta, " sautnya dengan bersemangat.


Mendengar jawaban Dirga baik si klien ataupun pak Tirta tersenyum mendengar jawaban Dirga. Merekapun saling bersalaman sebagai tanda terjalinnya kerjasama diantara dua perusahaan itu.


Namun bukan hanya ada Dirga, pak Tirta dan pak Doni (si klien) disana melainkan juga ada Surya sekretaris pak Tirta. Berbeda dengan pak Tirta dan pak Doni yang begitu menyukai kinerja Dirga, Surya malah sebaliknya.


Mereka berempat pun berpisah dan kembali ke kantor masing-masing.


Didalam mobil...... "Dirga kamu temui saya nanti habis ini diruangan saya, " ujar big bos alias pak Tirta.


"Ah tidak apa-apa nanti juga kamu akan tau, " ucap pak Tirta seraya menepuk-nepuk pelan bahu Dirga sambil tersenyum.


Mendengar itu Surya yang duduknya dijok depan bersama supir wajahnya sudah lebih tidak bersahabat alias nampak wajah kebencian. Entah apa yang membuatnya seperti itu, yang pasti ia tidak menyukai Dirga.


********


Sejak kemarin tak ada komunikasi dari Laura dan Dirga, bukan tak ingin saling menghubungi melainkan itu semua permintaan Sofia, katanya jangan komunikasi dulu sebelum pertemuan sore nanti.


Namun tak sulit bagi Laura dan Dirga karena mereka juga tak seintens orang pacaran yang harus chatingan atau telepon tiap hari, tak ada pertanyaan seperti sudah makankah, lagi apa, jangan lupa inilah itulah yang sebenarnya gak penting banget, toh hanya sekedar bertanya. Itu gaya pacaran anak ABG.


Tapi mereka kan sudah dewasa bukan lagi masanya, kalau kangen tinggal samperin, kalau mau makan ya bawain makanannya atau jemput kerumah lalu ajak makan diluar, berhubung mereka belum pacaran masih proses perkenalan jadinya tak ada juga acara serperti itu, paling-palingyang ada makan berempat bareng Sofia dan Agung.


Sejak awal mereka kenal akan selalu ada Agung dan Sofia yang menemani, tak ada ceritanya mereka makan berdua selain yang kemarin.

__ADS_1


Bukan tak ingin hal seperti itu, hanya saja Laura menahan dirinya agar tidak melakukan hal itu. Karena ia sadar diri jika do'a nya pada sang pencipta ialah tak ingin pacaran dan meminta untuk dijagakan dirinya dari hal-hal seperti itu.


Sesungguhnya Laura bukanlah gadis yang tak tersentuh, ia juga sama seperti orang kebanyakan yang bersentuhan dengan lawan jenis (dalam konotasi positif aja ya 😁) seperti bersalaman, hal itu yang sering terjadi pada lawan jenis apalagi seorang wanita karier, tak bisa menghindari hal yang seperti itu kecuali bagi mereka yang benar-benar menjaga diri.


πŸ“² Sofia : "Kamu bareng aku aja ya pulangnya, "


πŸ“±Laura : " Loh gak bisa beb, motorku gimana ? "


πŸ“² Sofia : "Tinggalin aja tu motor di kantor, gaakan hilang juga kok aku jamin, "


πŸ“±Laura : "Bukan itu masalahnya 😒 , "


πŸ“² Sofia : "Lah terus ? πŸ€” "


πŸ“±Laura : "Motornya yang satunya lagi dibengkel, jadinya aku sama Bara pergi barengan, aku nganterin Bara dulu baru kekantor, "


πŸ“² Sofia : " Oh gitu ya, kalau begitu gak jadi jemput kamu, aku jemput suamiku aja 🀣 , "


πŸ“± Laura : "Iya deh yang sudah punya suami, "


πŸ“² Sofia : "😁😁😁😁😁😁😁, "


Percakapan mereka diaplikasi hijau pun berakhir. Laura melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit itu.


Semakin mendekati jam janji temu hati Laura rasanya tak karuan, padahal biasanya kalau gak sengaja bertemu Dirga biasa aja, ini kok malah rasanya campur aduk.


.


.


.


.

__ADS_1


Maaf slow update πŸ™πŸ™


Semoga masih ada yang mau baca ya 😁.....


__ADS_2