Romantisnya Pacarku

Romantisnya Pacarku
Prolog


__ADS_3

Bibir Nares mengerucut. “Kamu ingat peristiwa sebulan lalu di depan sekolah?” Tian mengangguk ragu. “Jadi … aku suka sama polisi yang nolong aku waktu itu,” katanya dengan suara berbisik dan kepala sedikit maju.


“Kamu suka sama angin?” tanya Tian dengan nada mengejek. Nares mendengkus sebal. “Seingatku tidak ada satu pun polisi yang berani nolong kamu,” katanya lagi dengan mata menerawang berusaha mengingat peristiwa dua puluh delapan hari yang lalu, di mana Nares menjadi sandera seorang guru yang terpojok kerena ketahuan telah membunuh seorang muridnya.


“Tahu dari mana kalau dia polisi?”


“Jelas tahu dong, aku pernah lihat dia di kantor polisi.”


“Napi kali.”


“Ish, dia pake seragam.”


“Seragam napi.”


“Seragam polisi, lah!” sentak Nares kesal, suaranya menggema membuat beberapa pengunjung menatap heran ke arah mereka.


Tian terkikik geli, puas membuat Nares kesal. Dia ingat sekali kejadian hari itu, di mana sababatnya yang paling tua itu menjadi sandera. Dan selama kurang lebih dua puluh menit tidak ada polisi yang berani menyelamatkan Nares. Bodoh. Umpat Tian untuk para polisi yang pengecut itu. Tapi untungnya, secara tak terduga, seorang polisi muncul dari arah belakang dan menyelamatkan Nares.


Nares mengernyit setelah menyesap kopi hitam miliknya. Tubuhnya berdigik dengan lidah mencuat keluar. Ekspresinya terlihat seperti seseorang yang hendak muntah.


“Pahit banget, enggak enak!” katanya, menggeleng kepala tak suka. “Enggak-enggak lagi deh nyobain kopi.” Dia adalah anak SMA tingkat dua yang baru mencoba merasakan bagaimana pahitnya kopi. Ia pikir kopi tidak sepahit penampilannya, ternyata pahitnya melebihi ekspetasi. Dan dia menyesal sudah nekat memesan minuman pahit itu.


“Kan udah dikasih tahu kalau pahit, ngeyel sih.” Tian tertawa sambil menyodorkan minumannya, menawarkan pada Nares untuk menghilangkan rasa pahit itu. Tanpa diperintah lagi Nares langsung menandaskan minuman milik Tian, membuat sang empunya berdecak, niat hati bukan menyuruh Nares menghabiskan.


“Ah ini baru enak,” kata Nares dengan cengiran khasnya. “Ini aku kembalikan, gelaskan aku enggak suka.” Nares terkikik melihat Tian yang mendengkus.


“Kamu tahu, enggak ada anak SMA masih pake seragam jalan-jalan ke sini.”

__ADS_1


“Adalah,” sahut Nares cepat dengan kekehan. “Kita, kan?” katanya dengan menaikkan sebelah alisnya menggoda Tian.


“Kamu ingat jelas wajah polisi itu?” Tian tak begitu ingat wajahnya. Polisi itu langsung pergi setelah berhasil mengalahkan guru itu dan menyerahkan pada polisi lain karena lengannya yang terbungkus jaket kulit robek akibat terkena pisau si guru.


“Pasti dong!” jawab Nares dengan semangat. “Waktu dia narik aku dari Pak Darma, kan sambil meluk tuh, pelukannya itu kayak ngejaga banget, ngelindungin banget sampai dia rela lengannya terkena pisau ….”


“Udah, udah! Sudah bosan aku dengar yang bagian itu.” Potong Tian sebelum Nares lepas kontrol lalu menceritakan kejadian itu berulang kali lagi.


Nares tertawa. Matanya kembali melirik ke arah pintu masuk, tapi masih belum ada tanda-tanda kalau orang yang ditunggunya akan datang.


“Heh, Papa nelpon tuh,” kata Tian memberitahu.


Nares menoleh pada ponselnya yang masih dalam mode diam. Nares mengangkatnya, berbicara sigkat sebelum ia matikan kembali. “Papa di rumah, marah-marah karena aku belum pulang,” katanya pada Tian.


Bibir Nares mengerucut. “Kamu ingat peristiwa sebulan lalu di depan sekolah?” Tian mengangguk ragu. “Jadi … aku suka sama polisi yang nolong aku waktu itu,” katanya dengan suara berbisik dan kepala sedikit maju.


“Kamu suka sama angin?” tanya Tian dengan nada mengejek. Nares mendengkus sebal. “Seingatku tidak ada satu pun polisi yang berani nolong kamu,” katanya lagi dengan mata menerawang berusaha mengingat peristiwa dua puluh delapan hari yang lalu, di mana Nares menjadi sandera seorang guru yang terpojok kerena ketahuan telah membunuh seorang muridnya.


“Tahu dari mana kalau dia polisi?”


“Jelas tahu dong, aku pernah lihat dia di kantor polisi.”


“Napi kali.”


“Ish, dia pake seragam.”


“Seragam napi.”

__ADS_1


“Seragam polisi, lah!” sentak Nares kesal, suaranya menggema membuat beberapa pengunjung menatap heran ke arah mereka.


Tian terkikik geli, puas membuat Nares kesal.


“Nah, kan, ketahuan. Mampus!”


Nares meringis. “Tapi polisinya?” tanyanya dengan wajah memelas.


“Mau dihukum dua minggu nggak boleh ke mana-mana lagi? Lagian kita sudah sejam di sini, dan orang itu nggak nongol-nongol,” kata Tian seraya berdiri siap meninggalkan tempat.


Mau tidak mau Nares pun ikut pergi. Meninggalkan tempat itu tanpa mendapat hasil yang diinginkan.


Dia ingat sekali kejadian hari itu, di mana sababatnya yang paling tua itu menjadi sandera. Dan selama kurang lebih dua puluh menit tidak ada polisi yang berani menyelamatkan Nares. Bodoh. Umpat Tian untuk para polisi yang pengecut itu. Tapi untungnya, secara tak terduga, seorang polisi muncul dari arah belakang dan menyelamatkan Nares.


Nares mengernyit setelah menyesap kopi hitam miliknya. Tubuhnya berdigik dengan lidah mencuat keluar. Ekspresinya terlihat seperti seseorang yang hendak muntah.


“Pahit banget, enggak enak!” katanya, menggeleng kepala tak suka. “Enggak-enggak lagi deh nyobain kopi.” Dia adalah anak SMA tingkat dua yang baru mencoba merasakan bagaimana pahitnya kopi. Ia pikir kopi tidak sepahit penampilannya, ternyata pahitnya melebihi ekspetasi. Dan dia menyesal sudah nekat memesan minuman pahit itu.


“Kan udah dikasih tahu kalau pahit, ngeyel sih.” Tian tertawa sambil menyodorkan minumannya, menawarkan pada Nares untuk menghilangkan rasa pahit itu. Tanpa diperintah lagi Nares langsung menandaskan minuman milik Tian, membuat sang empunya berdecak, niat hati bukan menyuruh Nares menghabiskan.


Tian memutar bola matanya malas. “Jadi apa tujuan kamu sebenarnya ajak aku ke sini?” Akhirnya Tian bisa menanyakan pertanyaan itu, karena sejak tadi Nares tidak kunjung memberinya kesempatan untuk bersuara. Sejak datang ke warung kopi ini, Nares berceloteh banyak, mengomentari apapun yang dilihatnya. “Enggak mungkin hanya karena ingin tahu bagaimana rasanya kopi, kan?”


Nares mengulum senyum, ingin jujur tapi malu. Sejak tadi ia tahu kalau Tian ingin menanyakan kenapa mereka ke sini alih-alih ke mall sesuai perkataannya. Well, ajakan menemani ke mall hanya alasan Nares. Kalau dia bilang alasan yang sebenarnya pasti Tian tidak akan mau. Untuk apa coba datang ke warung kopi depan kantor polisi sepulang sekolah dan masih pakai seragam pula, terlebih jarak antara sekolah mereka dan warung


kopi ini sangat jauh.


“Jadi?” Suara Tian terdengar memaksa dan tidak sabaran.

__ADS_1


__ADS_2