Romantisnya Pacarku

Romantisnya Pacarku
Pengin Cipok


__ADS_3

“Terlalu cepat ya kalau makan jam segini?” tanya Satria begitu pramusaji pergi.


Saat ini mereka tengah berada di restoran di sebuah mall. Selama dua jam sebelumnya, bersama hanya duduk bersebelahan tanpa berucap apa-apa bagai pasangan yang tengah bertengkar tapi masih ingin nonton berdua. Lalu karena harus melakukan ibadah wajid, mereka berpisah sejenak dan baru bertemu lagi hampir setengah jam kemudian.


Nares menggeleng, “enggak begitu sehat juga kan kalau makan terlalu malam.” Lagian ini kan sudah jam tujuh malam.


Satria tersenyum, “iya.”


Mereka menikmati makan malam dengan keheningan. Entah mengapa pertemuan mereka kali terasa canggung. Saling diam satu sama lain.


 Sebenarnya Satria ingin mengobrol tapi tampaknya tidak begitu dengan Nares. Gadis itu terlihat tidak bersemangat sejak mereka berangkat sore tadi. Senyum yang diperlihatnya tampak dipaksakan. Dan Satria tidak suka itu.


“Ehem,” Nares berdeham, salah tingkah karena nyaris sepanjang mereka menghabiskan makan, Satria menatapnya intens.


“Kenapa?” tanya Satria.


“Eh, kamu-lah yang kenapa?” Nares balik tanya.


Satria mendesah pelan, “kamu enggak suka ya jalan aku?” lagi-lagi Nares menghindari tatapan Satria, seperti makan malam mereka yang sebelum-sebelumnya Nares jarang sekali membalas tatapan Satria. “Beberapa kali kita jalan, kamu keliatan enggak semangat, tidak seperti waktu kita jalan pertama kali. Jalan bberapa hari lalu dan hari ini sebenarnya kamu … terpaksa?”


“Bukan begitu,” terbata-bata Nares menjawab. “Aku senang, serius. Enggak ada paksaan sama sekali.” Meski berucap seperti itu, tapi Nares tetap tidak menatap Satria.

__ADS_1


“Tapi kenapa ekspresimu seperti itu? Bahkan sekarang kamu tidak membalas tatapanku.”


Nares menegakkan tubuhnya, tapi matanya masih belum menatap Satria. Ragu-ragu Nares menggerakan matanya menatap Satria. Ia berkedip beberapa kali sambil menggigit bibirnya.


“Kenapa?”


“Enggak,” jawab Nares cepat sambil menggeleng. “Kenapa liatin terus sih?” kesal Nares setelah beberapa lama, karena ia jadi salah tingkah dan deg-degan terus.


“Kalau tidak terpaksa, kenapa bohong kemarin?”


“Hah? Bo..bohong apa?”


“Aku enggak sengaja lihat kamu sendirian di kafe sekitar jam delapan.” Dari gerak-geriknya Satria tahu kalau Nares sedang berusaha mencari alasan. “Jujur saja, aku terima.”


Mata Satria menyipit diakhir kalimat Nares. “Kamu risih ya aku ajak terus?”


Nares menangkap nada sedih pada ucapan Satria. “Maaf kalau kamu merasa seperti itu.” Ia kembali menatap Satria. “Dinda … beberapa hari lalu dia mulai menghindari dan tidak mau membalas sapaanku. Mendengar namaku pun dia terlihat muak. Sikapnya mulai berubah setelah aku coba untuk enggak ketus lagi, tapi ternyata dia mengira perubahanku ke dia itu karena aku pengen dekati kamu lewat dia. Sejak itu mulai benci aku, dan aku takut dia makin benci.”


 “Kayaknya kamu yang salah paham. Dinda enggak mungkin benci kamu.” Karena setiap kali Satria bertanya tentang Nares, Dinda selalu menjawab dengan semangat dan masih mendukungnya mendekati Nares.


“Tapi sampai sekarang dia masih enggak mau tegur-tegur aku.”

__ADS_1


“Aku yakin cuma dia malu, atau takut mungkin. Aku enggak yakin alasannya, tapi yang pasti dia enggak benci kamu, aku jamin.”


Nares mendesah pelan, seperti kurang yakin dengan ucapan Satria.


“Kita pulang sekarang?”


“Eh kok cepet?”


Spontan Nares membekap mulutnya yang bertindak lebih cepat dari otaknya. Ia menunduk, malu karena secara tidak langsung tidak belum mau berpisah.


Satria tertawa, dalam hati menjerit, berteriak memuji sikap Nares yang menurutnya manis. Astaga dia harus bertindak cepat sebelum terlambat.


“Jadi bagaimana?”


Nares mendongak. “Hah, apanya?”


“Entah.” Satria mengedikkan bahu.


“Dih nggak jelas.” Nares cemberut membuat bibirnya sedikit mengerucut dan maju.


Satria melotot. Di gapainya kepala Nares dan menarik kedua pipi Nares ke arah luar. Ia lakukan itu agar ekspresi Nares kembali normal. Ia sungguh tak rela sisi Nares yang itu dilihat orang lain. Bagi Satria saat Nares cemberut itu sangat menggemaskan dan berpotensi membuat para kaum adam berniat untuk mengecupnya. Seperti yang ia rasakan. Satria melepaskan Nares sambil menggelengkan kepala.

__ADS_1


Satria bangke, bisa-bisanya pengin *****. Astaga, mikir apa dia.


__ADS_2