Romantisnya Pacarku

Romantisnya Pacarku
30 Lamaran


__ADS_3

Sabtu sore, pukul 15.34, Satria sudah berada di depan rumah orang tua Nares.


Jangan tanya dari mana atau sejak kapan Satria tahu alamat rumah orang tua Nares. Jawabannya adalah jelas karena dia seorang polisi. Lalu sejak kapan, sejak Satria mulai tertarik pada Nares. Beberapa tahun yang lalu.


Satria menarik embuskan napasnya. Berusaha untuk tidak tegang karena akan menghadap bakal calon mertua. Iya, bakal calon. Karena dia baru saja mau menghadap orang tua Nares untuk melamar yang mana belum tentu diterima. Jadi sebutan calon mertua saja tidak cukup.


Satria memeriksa penampilannya sekali lagi. Rambut rapi, tubuh wangi, wajah kinclong, kemeja abu-abu yang licin, celana bahan berwarna hitam yang lipatannya tajam. Oke, perfect, dia siap untuk turun.


Namun, tunggu. Dia lupa membawa buah tangan. Apakah itu sangat diperlukan atau tidak?


Ah, sudahlah. Yang penting tulus. Niat baik harus disegerakan.


Padahal harusnya Satria menghadap orang tua Nares dua minggu lalu, tapi karena keadaan Dinda yang memburuk dan juga ada kasus pembunuhan berantai, dia pun mengundurnya.

__ADS_1


Berbicara mengenai keadaan Dinda. Sebenarnya adiknya itu sudah sakit sejak lama, tapi selalu berpura-pura baik-baik saja. Bersikap ceria dan mengikuti Satria ke kota ini. Ketika bertemu Nares, Dinda pun semakin enggan untuk kembali ke kota asal mereka atau setidaknya berobat teratur di rumah sakit. Dan akhirnya kondisinya makin drop dan harus kembali ke kota asalnya. Karena jika di kota ini tidak ada yang akan menjaga, Satria dan Danis sibuk di kepolisian nyaris setiap hari.


Balik lagi ke keadaan Satria saat ini.


Dengan gugup Satria memencet bel. Tadi di gerbang, syukurnya ia langsung dipersilakan masuk oleh satpamnya. Bagaimana kalau dia diusir. Bisa kacau.


Sembari menunggu respon, Satria mengedarkan pandangannya ke halaman. Baru ia sadar ada beberapa kendaraan yang terparkir. Salah satunya mobil Nares. Waduh, Nares ada di dalam sana.


Dan nampaknya ada beberapa sanak saudara Nares juga. Kenapa ramai ya? Apa pertunangan Nares akandimulai, sudah dimulai atau bahkan sudah selesai? Wah, kacau.


“Cari siapa?” tanya seorang wanita yang wajahnya cukup mirip dengan Nares.


Mungkin Nadia, kakak Nares yang pernah diceritakan padanya.

__ADS_1


Satria tersenyum kecil. “Pak Arya dan Bu Rahma-nya ada?”


“Oh, Papa sama Mama, ada kok. Mari masuk. Saya panggilkan.” Nadia membuka pintunya lebih lebar. Lalu mempersilakan Satria untuk duduk.


Seperginya Nadia, samar-samar Satria mendengar yang menanyakan siapa yang datang. Tak berselang lama, papa Nares menghampirinya, diikuti mama Nares dengan membawa tampan berisi minum dan cemilan.


Satria mengangguk sopan pada mama Nares yang meletakkan suguhan di depannya. “Maaf, Bu, saya merepotkan.” Lalu Satria menghadap papa Nares, mengabaikan telapak tangan dan kakinya yang mulai basah. “Perkenalkan Pak, Bu, saya Satria Wirayudha, seorang polisi kenalannya Nares.”


“Loh ke sini mau ketemu Nares?”


“Tidak, Bu.” Satria segera mencegah mama Nares yang hendak berdiri berencana memanggil Nares. “Saya sengaja ke sini untuk bertemu Bapak sama Ibu.”


“Ada apa?”

__ADS_1


Satria menelan air liurnya susah payah. Setelah sejak tadi papa Nares hanya mengamatinya, akhirnya papa Nares bersuara. Terdengar berat khas laki-laki berumur. Sebenarnya tidak begitu seram jika dibandingkan dengan atasannya, tapi entah mengapa berhadapan dengan papa Nares membuatnya lebih takut dan gugup.


“Saya berniat melamar Nares menjadi istri saya.” Satria berusaha keras agar tidak menunduk karena terus-terusan ditatap tajam oleh papa Nares.


__ADS_2