
"Randi, apa maksudnya ini?" tegur Mama Randi sambil menarik Randi yang hendak menggapai Nadia.
Sementara itu papa Nares dan papa Randi saling pandang, ada raut bersalah di papa Randi.
"Ini semua gara-gara Papa sama Mama," teriak serak Randi, akhirnya bersuara. "Sudah Randi katakan dari awal kalau Randi punya pacar, Randi cinta sama Nadia, tapi kalian terus memaksa menjodohkan."
Mama Randi meneguk ludahnya susah payah. Ia yang dengan keras kepala tetap mau menjodohkan Randi, tanpa mau bertemu dulu dengan pacar Randi. Dan lebih menyesalnya lagi dia pernah menjelek-jelekkan pacar Randi, Nadia.
"Jadi, bagaimana sekarang?" papa Nares mengajukan pertanyaan, yang entah ditujukan pada siapa.
"Saya mencintai Nadia, Om." Randi mendekat pada papa Nares. "Mohon restui saya untuk menjadi suami Nadia," pintanya dengan sungguh-sungguh. Bahkan dia siap bertutut untuk memohon yang langsung ditahan papa Nares.
"Nadia," panggil Randi pelan. Ia menarik Nadia agar berhadapan dengannya. "Maafkan aku ya, aku tidak menyangka kalau yang dijodohkan denganku itu adalah adikmu."
"Kenapa kamu tidak pernah bilang kalau kamu dijodohkan? Kalau yang dijodohkan denganmu bukan Nares, jelas kamu akan meninggalkan aku tanpa kata." Nadia menangis tersedu-sedu.
"Aku tidak ingin kamu sedih, dan tidak mau berpisah dengan kamu. Aku akan lakukan apapun agar perjodohan ini batal. Aku mencintai kamu. Sungguh. kumohon jangan menangis lagi."Randi mengulurkan tangan untuk memeluk Nadia tapi langsung dicegah papa Nares. Dan ia dihadiahi pelototan tajam.
__ADS_1
Asik menonton, tanpa sadar Nares sudah berada di sini Satria. Saat sadar ia tiba-tiba jadi gugup. Tadi ia diberitahu teman-temannya bahwa Satria menghadap papanya untuk melamar yang tentu saja ditolak. Dan ia cukup terkejut ketika bukannya pulang, Satria malah mau menyaksikan acara lamarannya ... yang gagal.
Iya, ini sudah pasti gagal kan? Yang dijodohkan dengannya ternyata kekasih kakaknya, mereka saling mencintai, jadi harus disatukan. Nares sendiri entah merasa apa sekarang. Ia senang, sedih, juga gugup. Senang perjodohannya batal. Sedih karena kakaknya sedih. Gugup karena ada Satria di sampingnya dengan status sebagai pelamarnya yang ditolak.
Jadi, kalau perjodohan ini batal, apakah Satria masih mau kembali melamarnya? Uhg, Nares harap-harap cemas memikirkannya.
"Bagaimana, Bagus? Apa kamu menerima lamaran anak saya untuk Nadia?" papa Randi mengambil alih, bertanya pada papa Nares.
Papa Nares segara menyuruh mereka duduk kembali. Membicarakan masalah itu sambil duduk, agar semuanya jadi jelas. Setelah bercakap-cakap, akhirnya telah ditentukan bahkan acara ini adalah lamaran Randi untuk Nadia. Tanggal pernikahan dan segala ***** bengek tentang pernikahan keduanya sudah ditentukan.
Satria yang sejak tadi diam tiba-tiba jadi grogi. Semua orang jadi menatapnya, termasuk Nares. "Saya ingin melamar Nares sekali lagi, Pak. Kali ini saya sangat berharap kesediaan Bapak untuk menerima." Satria beralih menatap Nares yang langsung menunduk.
"Nares?"
Nares sontak mendongak gugup, ia kaget mendengar namanya dipanggil dengan agak keras oleh papanya.
"Kenapa melamun? Papa tanya bagaimana jawabanmu mengenai lamaran Satria?"
__ADS_1
Nares melirik Satria sekilas. Tampak ada bulir keringat yang turun melewati pelipis Satria. Ternyata Satria juga gugup seperti dirinya, karena ia yakin keringat Satria bukan sebab kepanasan. Ada dua AC di ruang tengahnya dan masih bekerja normal, jadi tidak mungkin kepanasan.
"Nares mengikut keputusan Papa saja."
"Loh kamu ini bagaimana sih? Kalau Papa terima tapi ternyata kamu tidak suka sama dia, atau Papa tolak lalu ternyata kamu suka, bagaimana? Papa tidak mau ya ada kejadian seperti Nadia dan Randi lagi."
Nares melirik Satria malu-malu. Tapi tak kunjung menjawab.
"Nares? Ayo cepat jawab, sudah azan magrib," desak papanya.
"Iya, iya. Nares mau terima lamaran laki-laki jahat itu," jawab Nares akhirnya dengan mata tertutup dan bibir yang sedikit mengerucut.
Sontak Nares mendapat sorakan dari teman-temannya.
Sementara itu Satria tersenyum lebar. Ia tidak menyesal telah nekat datang melamar Nares meski tahu gadis itu sudah dijodohkan.
Kini ia makin percaya dengan hatinya.
__ADS_1