
I'm jealous of the nights
That I don't spend with you
I'm wondering who you lay next to
“Nares! Stop!”
Mengabaikan peringatan Izzi, Nares tetap melanjutkan lagu yang dia nyanyikan. Bukannya terdengar merdu di telinga, nyanyian Nares malah bikin sakit telinga siapa pun yang mendengar. Pasalnya ia bernyanyi dengan suara yang cempreng.
Oh, I'm jealous of the nights
I'm jealous of the love
Love that was in here
Gone for someone else to share
“Oh, I'm jealous o—hmmp…”
Berteriak menyuruh berhenti saja tidak cukup untuk menghentikan aksi. Akhirnya Wisya mengambil langkah ekstrem dengan membekap Nares menggunakan bantal secara diam-diam dari belakang. Wisya menahan bantalnya hingga Nares meronta minta dilepaskan.
“Parah banget! Sebenci itu kamu sampai bunuh aku di depan teman-temanku?” Nares melotot pada Wisya.
Mulai deh dramanya. Tian mendesah pelan.
“Lebai, ah.” Wisya memutari sofa lalu duduk di samping Nares. “Diam-diam gitu mereka juga pasti pengin bunuh kamu,” lanjutnya dengan menggerakkan dagu menunjuk teman-temannya yang sebagian duduk di bawah.
“Beneran itu?” tanya Nares histeris yang dibalas dengkusan teman-temannya.
“Lagian kamu, sudah punya suara paling jelek juga malah tiba-tiba teriak-teriak.”
Nares melotot pada Sahda, “Itu nyanyi!”
“Nyanyi tuh pake nada ya, enggak asal teriak-teriak aja. Sudah malam juga.”
Oh, love
Never knew what I was missing
But I knew once we start kissin'
I found…
Tiba-tiba Alana muncul dari ruang tamu. Gadis itu baru pulang. Dan bukannya mengucap salam malah bernyanyi. Mungkin mendengar obrolan mereka.
__ADS_1
“Love. Never knew what I was missing. But I knew—enggak usah ikutan,” tegur Alana saat Nares ikut bernyanyi.
“Sialan,” umpat Nares merasa kesal, dan spontan melempar Alana dengan bantal kecil yang tadi pakai Wisya membekap dirinya. Alana tertawa menangkap bantal itu lalu ikut duduk bersama mereka.
Ai yai yai
I’m your little butterfly
Green, Black, an Blue
Make the colors in the sky
“GILA! Nada notifikasinya belum diganti.” Wisya tertawa keras bersama Sahda. Membuat Nares mengumpat dalam hati, memaki Wisya dan Sahda yang pasti dalang di balik perubahan nada notifikasinya, juga memaki dirinya sendiri yang kelupaan menggantinya lagi.
Nares berniat mengabaikan notifikasi itu tapi karena melihat nama Satria dengan sapaannya yang tertera di layar membuatnya bergegas membuka pesan dari Satria. Apalagi ini? Ajakan keluar lagi? Nares bertanya dalam hati dengan tidak sabaran. Terlalu senang mendapat pesan dari Satria, ia sampai lupa dengan kata sandi ponselnya sendiri.
“Sya, Sya.” Teriak Nares heboh sambil memukul-mukul lengan Wisya. “Ini sandinya hapeku apa?” tanyanya histeris.
“Lah, dapat WA dari siapa sih sampe sandi sendiri lupa.” Sahut Tian heran.
“Pasti Satria, kan?” Tebak Izzi, dan Nares mengangguk senang.
Wisya menarik ponsel Nares. “Sandinya sudah pernah kamu ganti belum?” Melihat gelengan Nares, lantas Wisya segara mengetikkan sesuatu di ponsel Nares sebelum mengembalikannya.
Nares menerima ponselnya dengan senang hati. Segera ia membalas pesan dari satria. “Sandinya apa?” tanyanya pada Wisya tanpa mengalihkan tatapan dari ponselnya.
“Enak aja.” Pekik Nares spontan saat mendengar ucapan Tian. Matanya melotot kesal.
“Dih, ngapain marah?” Wisya memukul jidat Nares. “Kita semua di sini tahu kalau kata sandi hape sama semua akun sosmed-mu itu Lupakan Satria!”
Angga tertawa. “Kalau begitu ya mana bisa lupa, Kak. "Usaha melupakan"-nya wacana doang dong jadinya. Kak Nares ada-ada saja.”
Nares cemberut. Mengabaikan ucapan teman-temannya, ia lebih fokus saling mengirim pesan dengan Satria.
Satria: Aku minta maaf ya, enggak bisa ajak kamu jalan besok malam.
“Kenapa dia malah minta maaf?” gumam Nares pelan. Ia jadi bingung harus membalas apa. Setelah berpikir beberapa lama akhirnya ia memutuskan untuk membalas: iya enggak apa-apa.
“Eh, jangan! Kalau begitu dia pasti mikir kamu mengharap ajakan jalannya.”
“Terus mesti balas apa dong?”
“Balas saja; Biasa saja, toh kamu bukan pacarku."
Nares terdiam. Berusaha mencerna kalimat yang didengarnya. Tapi suara siapa itu? Nares melotot dua detik kemudian. Ia menoleh dan menatap Wisya tajam karena terang-terangan melirik ponselnya.
__ADS_1
“Huh, apa sih!” Nares serentak berdiri dan masuk ke dalam kamarnya tanpa menoleh atau menjawab pertanyaan teman-temannya.
Sesampainya di kamar, Nares masih kebingungan perihal balasan yang harus ia kirim. Beberapa saat berpikir akhirnya ia memutuskan untuk membalas. Harap-harap cemas Nares menunggu balasan Satria.
Nares: Ngapain minta maaf deh, aneh. Kan kamu nggak punya kewajiban buat ajak aku malam mingguan.
Satria: Memang tidak, tapi aku berkewajiban membuat kamu bahagia.
Nares berteriak girang membaca balasan Satria. Sungguh di luar dugaan. Dan gilanya Nares malah meladeni ucapan Satria.
Nares: Bahagia tidak hanya didapat dengan ajakan malam minggu.
Satria: Iya, ada banyak cara untuk membuat kamu bahagia, aku tahu itu.
Nares: Hahhaha gombal banget
Satria: Aku enggak gombal.
Nares: Serah deh ya serah.
Satria: Hahaha tapi serius ya, demi misiku membuat kamu bahagia, aku mau ajak kamu jalan minggu pagi ini.
Nares: Masih lanjut?
Satria: Apanya?
Nares: Gombalnya.
Satria: Di bilang aku enggak lagi gombal.
Nares: Iya deh iya.
Satria: Hahha jadi gimana? Mau enggak? Minggu pagi kita joging sama-sama. Di taman Walikota kayaknya juga bagus, enggak jauh dari rumah kamu.
Nares: Boleh deh, ketemuan di sana saja ya.
Satria: Okesip, kalau gitu GN ya, aku mau lanjut kerja lagi, jangan lupa bahagia ♡
Nares tersenyum membaca pesan Satria yang terakhir. Satria tidak pernah absen menyematkan emoticon love di setiap akhir pesannya. Yang tanpa Satria sadari hal sederhana itu sudah mampu membuat Nares bahagia.
“Semoga kewajibanmu membuatku bahagia bukan sekedar tulisan gombal di pesan WhatsApp,” bisik Nares sebelum jatuh tertidur.
...
Terima kasih buat temen-temen yang udah mau like, vote atau komen, seneng banget rasanya.
__ADS_1
Buat aku tambah semangat update.
InsyaAllah up lagi nanti siang 😙