Romantisnya Pacarku

Romantisnya Pacarku
Prasangka


__ADS_3

Dinda datang ke kantor seperti biasanya, dengan wajah riang yang terlihat tanpa beban. Tersenyum dan menyapa siapapun yang dilewatinya tanpa peduli ia kenal atau tidak.


“Pagi, Dinda cantik.” Sapaan Beni membuat Dinda memutar bola matanya dengan kesal. Tapi ia berusaha agar laki-laki itu tidak melihat kemudian membalas dengan senyuman.


Dinda mempercepat langkahnya ketika sadar Beni mensejajarkan langkah mereka. Beni adalah playboy kesekian yang berusaha mendekatinya. Awalnya Dinda biasa saja saat Beni mendekatinya, sapaan-sapaan Beni dibalasnya ramah seperti membalas sapaan laki-laki yang mengenalnya. Tapi makin lama Beni mulai menunjukkan kegenitannya, menggoda dan selalu mengajak kencan. Hal itu membuat Dinda risi. Ingin Dinda bersikap tegas saat menolak semua ajakan Beni tapi ia takut hal itu berdampak pada pekerjaan mereka. Biar bagaimanapun mereka satu divisi, dan Dinda tidak ingin tempatnya menghabiskan waktu sepanjang hari jadi tidak menyenangkan.


“Jalannya buru-buru banget sih Din,”


“Udah kebelet, pengin ke toilet.”


“Lah tadi itu kan toilet.” Beni menunjuk lorong yang baru saja mereka lewati.


Dinda mengangkat tasnya sedikit tinggi, “mau simpan ini dulu.” Kilahnya.


Mata Dinda berbinar melihat sedang berdiri membelakanginya di ruangan divisi mereka bersama teman kantor yang lain. Biarpun selalu cuek padanya tapi Nares selalu berada dibarisan paling depan untuk menjauhkannya dari Beni. Entah mengapa ia merasa Nares itu kakak perempuannya yang beda ayah-ibu, selalu cuek tapi diam-diam perhatian.


“Pagi semuanya!” Sapa Dinda, langsung mengambil posisi disamping Nares. “Kok berhenti? Tadi lagi menggosip tentang aku, ya?” tuduhnya jenaka. Matanya menatap satu persatu teman-temannya. Dan tatapannya yang terakhir jatuh pada Nares yang ternyata sedang tersenyum kepadanya. Sontak Dinda mengalihkan pandangan, “ah, aku mesti ke toilet. Dadah,” katanya sambil menjauh ke arah toilet berada.


Dinda menatap horror pantulan dirinya di cermin wastafel. Sambil menepuk-nepuk pipinya ia menggeleng. Merasa syok dengan ekspresi Nares kepadanya. Tadi itu benar senyum ya? Nares senyum sama dia? Nares enggak lagi kerasukan, kan ya? Pasalnya selama mereka kenal, Nares belum pernah semanis itu senyum sama Dinda. Kalau bukan senyum terpaksa, senyum kecut, ya senyum mengejek yang selalu Nares lemparkan kepadanya. Jadi ini sesuatu yang … terasa aneh.


“Tidak biasa. Bikin merinding!” Dinda memeluk tubuhnya sendiri. “Serem loh, serius.” Bisiknya lagi pada dirinya sendiri sambil menatap cermin. Untung sepanjang sepuluh menit keberadaannya disana belum ada seorang pun yang masuk.


ὥὣὣ

__ADS_1


Dinda benar-benar tidak bisa menikmati makan siangnya dengan tenang. Lagi-lagi pikirannya dipenuhi oleh perubahan sikap Nares padanya yang tiba-tiba. Sulit rasanya mencerna perubahan Nares dengan otaknya yang memiliki IQ tidak seberapa. Katakanlah ia lebai, tapi begitulah yang ia rasakan.


Kalau biasanya makan siang Dinda akan mengikuti Nares, kini ia lebih memilih menghindar, dengan makan di meja yang berbeda. Sesekali melihat Nares yang sama sekali tidak meliriknya. Ah kalau itu sudah biasa sih, kalau Nares melihatnya mungkin itu karena tidak sengaja. Jadi kali tidak heran.


Dinda: Abang!


Dinda: Abang! Semalam Abang apain Nares?


Dinda merasa harus mempertanyakan perubahan Nares pada Satria. Barang kali, kakaknya itu tahu sesuatu. Atau mungkin telah melakukan sesuatu semalam dan membuat Nares seperti itu.


Dinda: Ih, Abang, chat Dinda dibaca dong!


Dinda kembali mengirim pesan karena Satria tak kunjung membalasnya. Pasti sengaja.


Dinda: Ah, abang, kayak orang **** aja pertanyaan jelas gitu masa enggak ngerti.


Satria: Ya kamu nanyanya yang jelas dong! Maksudnya apa aku apain Nares?


Dinda: Hah! Nares itu tiba-tiba senyumin aku. Biasanya enggak pernah, kan aneh.


Satria: Bagus dong kalau dia jadi lebih baik ke kamu.


Dinda: Ah, pokoknya aneh. Aku enggak siap!

__ADS_1


Satria: Heh lagakmu kayak mau ditembak saja


Dinda: Aku serius, ini aneh sumpah.


Dinda mengarahkan ponselnya seakan-akan mau melakukan selfie, tapi yang ada dia malah memotret Nares yang sedang tertawa entah karena apa bersama teman-temannya. Sekali lagi Dinda mengambil gambar Nares dan itu bertepatan ketika Nares menoleh padanya dan sedang tersenyum. Dinda pura-pura tidak melihat dan tak acuh. Ia pun segera mengirimkan dua foto Nares itu ke Satria, berharap Satria mengerti yang dimaksud Dinda akan perubahan Nares. Tapi respon Satria malah membuat Dinda kesal.


Satria: Ugh cantiknya, love love


Dinda: Dasar budak cinta!


Dinda: Lihat tuh foto kedua dia senyum ke aku pas aku lagi motret dia. Terus senyumnya aneh lagi


Satria: Dia senyum karena tahu kamu foto. Lagian senyumnya tetap cantik kok, kayak biasanya, apanya yang aneh.


Dinda: Fix, anda resmi dipecat jadi abang dari Kaniadinda Sahla!


Satria: Hahhaha, apaan.


Satria: Semalam Abang kasih tahu kalau kamu adikku. Terus mungkin dia pengin jadi kakak Iparmu, makanya dia enggak jutek lagi. Gini gini abangmu ini banyak yang suka loh.


Apa? Nares suka sama abangnya? Jadi karena itu Nares enggak jutek lagi. Suka senyum sama dia. Terus tadi juga beberapa kali Nares nyapa dia. Semua itu hanya karena Nares suka Satria, abangnya?


Entah mengapa Dinda merasa kecewa dengan kenyataan itu. Nares memperlakukannya lebih baik karena ada maunya, bukan karena Dinda sendiri. Dinda tidak menyangka Nares akan seculas itu.

__ADS_1


...


__ADS_2