Romantisnya Pacarku

Romantisnya Pacarku
Sebuah Pelukan (b)


__ADS_3

Kalau bisa pulang dari sini dengan selamat dengan kondisi tubuh utuh tanpa lecet, Nares janji akan memeluk teman-temannya di rumah dan meminta maaf, terutama pada Alana yang baru-baru ini ia siram wajahnya dengan jus saat sedang bicara. Kalau diingat-ingat sikapnya yang itu keterlaluan sekali. “Ya Allah, izinkan Nares pulang dengan selamat malam ini.”  Perlahan Nares memeluk Dinda erat.


“Dinda juga, Ya Allah,”


“Dinda, kita harus gimana?”


“Enggak tahu, huhu.”


Tiba-tiba terdengar suara mobil datang kearah mereka. Silaunya lampu mobil menyilaukan pandangan mereka. Tanpa sadar pelukan mereka kembali mengerat setelah sempat mengendur. Dalam hati merasa was-was, barang kali yang menghampiri mereka bukanlah orang baik.


“Loh, Dinda?”


Mendengar suara itu, seketika Dinda melepaskan pelukannya. Dan berlari ke arah pria yang memanggil namanya. “Abang,” teriak Dinda dan meloncat memeluk pria itu erat.


Sementara Nares malah mematung. Di bawah pencahayaan remang-remang, Nares bisa menebak kalau pria yang dipeluk Dinda itu adalah Satria yang masih lengkap dengan seragamnya. Dan apa kata Dinda tadi? Abang? Jantung Nares semakin berdegup kencang.  Matanya memerah menahan tangis, tak kuasa melihat pelukan Dinda yang begitu erat.


“Res, kok malah bengong sih?”


Tangannya yang digoyang-goyang Dinda membuat Nares kembali pada kesadarannya. Ia menatap Satria sekilas dan tersenyum yang dipaksa manis.

__ADS_1


“Mobilnya kenapa?” Tanya Satria datang mendekat.


Nares menggeleng. “Enggak tahu. Tiba-tiba mati dan enggak bisa nyala lagi.”


“Saya coba periksa ya?” Nares mengangguk.


Mata Nares mengikuti pergerakan Satria yang memeriksa mobilnya. Beberapa kali laki-laki itu menggelengkan kepala setelah mencoba menyembunyikan mobilnya tapi masih gagal.


“Harusnya sih bisa menyala karena tidak ada yang salah, tapi kenapa ya?” kata Satria menutup kap mobil, kemudian berbalik. “Begini saja, karena ini sudah malam bagaimana kalau menghubungi bengkel kenalan saya, biar mobilnya mereka ambil. Dan kalian biar saya antar pulang.” Tawaran yang bagus sekali, menyenangkan hati Nares seandainya ia tidak melihat adegan pelukan tadi.


Nares mengangguk mengiyakan tanpa menatap Satria. Ia tidak sanggup menatap mata pria itu yang begitu teduh. Menenangkan sekaligus menyakitkan.


“Uhg, untung tadi abang lewat situ.”


Nares menggerutu dalam hati mendengar suara manja Dinda. Apalagi dengan panggilannya pada Satria yang entah kenapa Nares merasa itu panggilan sangat spesial. Dan Nares sangat kesal dibuatnya. Padahal bisa saja kan kalau mereka tidak ada hubungan apa-apa dan panggilan itu hanya bentuk sopan santun pada yang lebih tua. Nares dan rasa cemburunya.


Kalau enggak ada hubungan apa-apa, ngapain meluknya erat banget? Jerit Nares dalam hati.


 “Kenapa jam segini belum pulang?”

__ADS_1


“Ya tadi itu mau pulang, cuma mobilnya tiba-tiba mogok, kan.”


“Sudah lama di sana?”


“Lumayan sih, sekitar dua puluh menitan lah, ya kan, Res?”


Nares yang sejak tadi memandang keluar jendela hanya mengangguk pelan. Malas ikut bergabung diobrolan mereka. Bikin sakit hati.


Karena keasikan melamun, Nares tidak sadar kalau mobil yang mereka kendarai sudah tiba di rumahnya. Setelah mengucapakan terima kasih, Nares keluar dari mobil tanpa ada basa basi lainnya.


Sesuai janji, Nares berniat memeluk temannya begitu ia pulang tanpa cacat sedikit pun. Eh cacat ding, kalau patah hati juga termasuk. Kan hatinya terluka gara-gara lihat Satria dipeluk erat cewek lain.


Nares mendatangi teman-temannya satu per satu di kamar, karena kemunginan besar mereka sudah tidur. Tentu saja sebelumnya tak lupa memasukkan tiga lembar uang seratus ribuan ke dalam kotak kayu diruang tamu. Hal itu termasuk wajib disegarakan, karena kalau ditunda, keterlambatannya tetap dihitung sampai ia memasukkan denda.


Usai memeluk teman-temannya satu per satu yang sedang tidur kecuali Alana karena gadis itu masih asik dengan laptopnya, Nares kembali ke kamarnya sendiri. Melanjutkan tangis yang sempat keluar dipelukan Alana. Alana tidak menanyakan perihal kedatangannya atau tentang raut Nares yang tidak bersemangat, gadis itu hanya mengucapkan sepatah kalimat yang membuat Nares semakin yakin kalau temannya itu punya indra ke enam. Yeah, meskipun Alana memang punya indra keenam.


“Sini peluk!” kata Alana begitu Nares masuk setelah minta izin. Dan seketika tangis Nares keluar begitu saja. Alana tidak bertanya apa pun, hanya menepuk-nepuk punggung Nares untuk menenangkan. Satu-satunya temannya yang hanya akan menawari sebuah pelukan tanpa ada paksaan untuk bercerita atau sekedar bertanya ada masalah apa.


Nares membanting tubuhnya di tempat tidur. Tidak dipungkirinya kalau perasaannya menjadi lebih baik setelah menangis dipelukan Alana. Setidaknya tidak seburuk sebelumnya. Sekarang waktunya mengistirahatkan tubuhnya yang sudah teramat lelah. Tentang Satria biarlah ditunda dulu, atau lebih bagus kalau tidak memikirkan apapun tentang Satria lagi. Mungkin ia bisa mencoba untuk move on lagi.

__ADS_1


...


__ADS_2