
Nares berlarian ke sana ke mari, memasuki kamar temannya satu per satu dan membuat berantakan, mengacak-acaknya hingga membuat sang pemilik geram.
“Cari apa sih, Res?” protes Tian sebagai pemilik kamar yang terakhir dibuat berantakan.
Nares menoleh cepat dan malah bertanya balik, “hape?”
“Memangnya kamu simpan di mana?”
“Enggak tahu. Lupa.”
“Apa sih pagi-pagi sudah ribut?” Muncul Syena dari ruang tamu.
Seketika Nares berlari menghampiri Syena seraya berteriak, “Yeeah, Syena sudah pulang.” Nares mengguncang tubuh Syena sebelum memeluknya.
“Apa sih? Capek tahu,” protes Syena melepaskan pelukan Nares. “Pulang ini cuma mau mandi, ambil baju sama makan,” beritahunya sambil berjalan memasuki kamarnya. “Betewe mobilmu ke mana, Res? Di garasi enggak ada.”
Nares diam, matanya melirik ke atas, tampak berpikir. “Oh iya, lupa. Semalam itu mobilku tiba-tiba mogok di jalan dekat taman yang sepi banget kek kuburan itu loh.”
“Sudah dikasih tahu jangan lewat situ kalau pulang di atas jam Sembilan malam.” Alana yang baru turun langsung ikut pembicaraan. “Jadi cowok mana yang nolong kamu semalam?”
“Kok tahu yang nolong itu cowok?”
“Penunggu di jalan itu tuh resek-resek. Kalau ada cewek lewat pasti kendaraannya dibuat mogok tiba-tiba. Terus cewek yang kendaraannya mogok itu dibuat enggak melihat dan dilihat orang-orang yang lewat. Kecuali yang lewat itu cowok dan sendirian,” kata Alana menjelaskan untuk kesekian kalinya. “Syukur-syukur cewek dan cowok yang
dipertemukan itu masih belum punya pasangan, karena enggak menutup kemungkinan kedua manusia itu akan berhubungan lebih lanjut.” Alana mengedikkan bahu. “Bisa saja kan? Mana tahu hati orang seperti apa.”
Nares menahan senyum mendengar penjelasan Alana yang sering dia lupakan. Ingin sekali percaya sepenuhnya pada ucapan Alana, siapa tahu memang benar seperti itu, dan ia akan bertemu dan berhubungan lagi dengan Satria. Senyumnya hampir benar-benar mengembang ketika ia teringat kalau semalam Satria malah memeluk Dinda erat. Kalau memang yang Alana ucapkan benar adanya, mungkin penunggu jalan itu hanya mau menyadarkan dirinya kalau Satria sudah ada yang punya dan untuk membuat hubungan Satria dan Dinda semakin menguat. Ah, memikirkannya, Nares jadi kembali kesal.
Nares mendengkus keras, lalu mengambil helm di lemari tak jauh dari sisinya dan memakaikannya tiba-tiba di kepala Sahda. Tak lupa juga ia mengambil helm untuknya sendiri. “Ayo antar! Udah telat.” katanya sambil menarik Sahda keluar. “Oh iya, Tian! Nanti antar Syena! Jangan biarkan sepupunya panda itu nyetir sendiri. Bahaya!” teriaknya lagi ketika teringat lingkaran hitam di sekitar mata Syena.
Nares pergi dengan mengingat-ingat di mana terakhir kali dirinya menyimpan ponsel, dan berharap sepulang dari kantor ia sudah menemukan benda keramat itu. Namun sayang, setelah empat hari berlalu Nares belum menemukan ponselnya. Ponsel kesayangannya telah resmi dinyatakan hilang membuat Nares uring-uringan.
Nares benar-benar tidak mengingat kapan dan di mana terakhir kali ia mengunakan ponsel itu. Ponsel yang lebih banyak menyimpan foto Satria dibanding dirinya sendiri. Sekarang ia mengerutuki diri yang tidak mendengarkan perkataan Wisya yang menyuruhnya menduplikasi foto-foto Satria yang ia punya, untuk berjaga-jaga bila saja hal seperti ini terjadi. Tapi ia tidak mendengarkan dan berakhir menyesal sekarang.
“Oh tidak apa!” Teriakan dan bangkitnya Nares dari berbaringnya di sofa dengan tiba-tiba membuat Izzi dan Tian terkejut. “Mungkin ini jalan menuju kebebasan,” katanya dengan tangan mengepal ke atas.
__ADS_1
“Kebebasan apa?” tanya Tian ingin tahu.
“Bebas dari bayang-bayang Satria,” bawabnya sambil menjatuhkan tubuhnya lagi ke sofa dan menutup mata.
“Doyan banget mendesah ya, Res,” cibir Izzi yang sudah bosan mendengar desahan Nares yang mungkin sudah mencapai lima puluh kali sejak mereka duduk diruang tengah satu jam yang lalu.
“Kan lagi kesal, Zi.” Bela Nares.
“Tapi ya enggak gitu juga kali, kemeng nih telingaku,” kesal Izzi yang merasa risih dengan kelakuan Nares.
Sekarang ini hanya ada mereka di rumah, ditambah Angga yang sedang belajar di kamarnya. Syena masih saja sibuk dengan koasnya, Wisya sedang malam mingguan dengan pacarnya, lalu Sahda dan Alana lagi sok sibuk, ala-ala enggak jomlo. Nares dibuat kesal jadinya, Tian sama Izzi saja ada yang lagi ngejar-ngejar tapi mereka masih stay di rumah, enggak sok mau malam mingguan di luar macam Alana dan Sahda.
Enggak. Enggak bisa seperti ini, enggak boleh marah-marah atau kesal. Malam minggu itu harus refresh otak biar enggak stress pas dipakai mikir kerja senin nanti.
“Anggaaaa … Anggaa!!!”
“Apa sih, Nares? Jangan manggil-manggil Angga, dia lagi belajar.”
“Anggaa ….” mengabaikan ucapan Izzi, Nares kembali memanggil Angga.
Nares tersenyum lebar, “kamu lagi ngapain?”
“Erm … belajar?”
“Ah, enggak belajar pasti itu, kan? Jawabannya ragu begitu.”
Angga tertawa, “belajar kok belajar, serius deh.”
“Belajar mulu, duduk sini lah sama kita.”
“Mau enggak ya?”
“Cepet!” paksa Nares tak mau dibantah membuat Angga tertawa dan kembali masuk ke kamarnya. “Bawa gitar!” perintah Nares lebih keras.
Tak lama kemudian Angga muncul dengan membawa gitarnya. Nares menyuruh Angga duduk di sampingnya dan memainkan berbagai macam lagu. Mereka pun bernyanyi keras-keras bersama-sama tanpa peduli dengan suara mereka yang bisa merusak gendang telinga.
__ADS_1
Tepat dilagu ke lima belas, Nares berhenti, ia tidak sanggup lagi berteriak. Merasa haus, Nares berdiri dan pergi mengambil minuman didapur. Sekembalinya dari dapur, teman-temannya juga sudah berhenti. Berbaring dengan napas naik turun tak beraturan. Tanpa ditawari, teman-temannya langsung menyerbu, menghabiskan tanpa sisa.
“Hape kak Nares belum ketemu ya?” ucap Angga menjadi pemecah keheningan, mulutnya masih terus mengunyah salad buah buatan Nares siang tadi.
Nares mendengkus. “Sudah enggak ada harapan kayaknya.”
“Kenapa enggak dicoba hubungi lagi? Kali aja sudah dikasih aktif ha—”
“Males, Angga. Mungkin ini jalan terba—”
“Eh, nyambung loh Res,” pekik Tian tiba-tiba memotong ucapan Nares. Seketika Nares dan Izzi mendekati Tian, dan ikut menempelkan telinga di ponsel milik Tian, berusaha ingin mendengar juga. Tapi karena risih, Tian mendorong dua kepala itu menjauh.
“Iya, halo. Boleh tahu ini dengan siapa? … Oh iya, besok ya, … oke, terima kasih.”
“Siapa namanya? Apa katanya? Bakal dia kembalikan enggak?” serbu Nares cepat bahkan sebelum Tian menutup teleponnya.
Tian mendengkus malas. “Dia enggak kasih tahu siapa namanya, dia kedengaran kayak lagi buru-buru banget. Agak ribut juga sih.”
“Terus dia bakal kembalikan enggak?”
Melihat Nares yang tidak sabaran membuat Tian mencibir, “tadi siapa yang bilang males?”
“Berisik ah,” spontan Nares menabok mulut Tian. “Niat kasih tahu enggak sih?” suara Nares terdengar penuh emosi.
Untung sayang ya. Tian menipiskan bibir. ”Katanya dia tunggu di Ratukafe jam 10 besok,”
“Hah, di situ lagi?” dengkus Nares terdengar tak suka. Menyadari tatapan kepo teman-temannya, Nares menjelaskan, “beberapa hari lalu kan habis ke sana, terus ada insiden nabrak gitu, terus enggak lama ketemu Satria.”
“Udah gitu doang?”
“Maunya?”
Tian mendengkus. Tumben Nares tidak girang seperti biasa ketika menceritakan sesuatu yang menyangkut Satria.
...
__ADS_1