Romantisnya Pacarku

Romantisnya Pacarku
Kesal


__ADS_3

“Nares, maaf!”


Oh. Nares membuka matanya yang tadi sempat tertutup. Orang di depannya ini benar Satria? Nares menipiskan bibirnya. “Tak apa,” katanya singkat lalu pergi menghampiri meja kosong dibagian sudut.


Nares melotot melihat Satria ikut duduk didepannya. “Kenapa duduk di sini?”


Satria tertawa pelan. “Enggak boleh, ya? Sendirian, kan? Dari pada makan sendirian, makan bersama lebih enak.”


Rasanya Nares ingin mencekik Satria. Bagaimana bisa Satria bisa bicara sesantai itu padanya setelah menyematkan harapan palsu padanya beberapa minggu lalu? Tak ingin kekesalannya tentang itu terbaca, Nares memilih diam dan memanggil pramusaji. Memesan beberapa makanan yang ia rasa akan enak dimakan saat sedang kesal seperti ini.


Saat menunggu pesanan datang, Nares mengabaikan Satria sepenuhnya meski ia tahu kalau Satria terus memperhatikannya. Berusaha acuh terhadap keberadaan Satria yang membuat salah tingkah.


“Makasih, ya.” Nares terseyum manis membalas senyuman semringah pramusaji yang membawakan pesanannya. Nares menyadari perubahan raut muka Satria yang terlihat tidak menyukai Raka. “Kamu kenal?” tanya Nares penasaran.


Satria mendongak. “Siapa?”


“Pramusaji tadi. Raka.”


“Tidak.”


“Lalu, kenapa ekspresimu seakan tidak suka sama dia?” Nares merasa harus bertanya karena pramusaji itu, Raka, adalah sepupunya yang baru saja masuk perguruan tinggi dan sedang mencoba mandiri dengan bekerja paruh waktu. Nares sendiri baru tahu kalau sepupunya itu bekerja di restoran ini.


“Aku tidak suka dia tebar pesona sama kamu.” Jawab Satria terdengar merengut.

__ADS_1


Nares ingin tertawa keras. Tertawa mengejek lebih tepatnya. Satria. Dia sedang apa sebenarnya? Kenapa kalimat seakan sedang cemburu, dan kenapa mengubah sapaannya menjadi aku-kamu.


Jujur, Nares sempat hampir terbang dibuatnya. Tapi begitu mengingat Satria sudah mengantungnya selama tiga minggu, kekesalan Nares muncul menghempaskan perasaan senang itu. Mungkin sekaranglah waktunya ia tahu tentang sifat Satria yang lain. Yang suka menggombal dan merayu siapa saja yang ia temui. Karena tidak wajar rasanya Satria bersikap seperti itu padanya padahal pertemuan mereka saja masih bisa dihitung jari.


“Aku tidak sangka, kamu makannya banyak juga.” Kata Satria lagi setelah beberapa saat Nares tidak juga menimpali ucapannya. “Tidak takut gemuk?”


“Gemuk juga masih manusia,” jawab Nares ketus.


Satria tertawa lagi. “Kamu marah ya?”


“Tidak.”


“Iya, kamu marah.”


“Akh…” pekik Satria tertahan.


“Eh, maaf. Aku enggak sengaja. Tadi ada sesuatu di kakiku jadi … begitulah.” Jelas Nares tidak terlihat merasa bersalah sedikit pun. Dan Satria menyadari itu. Nares sengaja.


“Tulang keringku,” ringis Satria sambil menunduk.


Sudah kan ya? Janjiku sudah bereskan? Tendang kakinya dengan keras. Pasti sakit. Rasakan! Nares ikut meringis. Pura-pura simpati atas rasa sakit Satria yang ia sebabkan.


Setelah merasa sakitnya berkurang, Satria tertawa. “Ternyata benar kamu marah.” Suara Satria terdengar serius, seserius tatapannya yang ia layangkan pada Nares.

__ADS_1


“Kenapa mesti marah?” tanya Nares tidak mengerti maksud Satria. Maksudnya Nares harus marah karena apa? Kalau hanya karena dibilangkan banyak makan, sepertinya Nares kelebihan stok marah kalau hanya karena itu.


“Kamu marah karena tidak aku hubungi sejak hari itu.”


“Hah.” Nares mendengkus keras. Ternyata Satria punya kepercayaan diri yang tinggi. Dan yang terpenting dari mana laki-laki itu tahu. Untuk menutupi kegugupannya, Nares tertawa. “Kamu percaya diri sekali, ya?” ucapnya bermaksud mengejek.


“Oh jelas. Orang ganteng memang harus percaya diri.”


Tunggu. Ini laki-laki yang Nares kagumi selama ini? Laki-laki dengan tingkat kenarsisan


yang menjulang ke atas? Tapi Satria memang ganteng sih.


“Terserah kamu mau berpikir apa.” Nares berdiri. “Dan sepertinya janji traktirku bisa dilakukan saat ini juga," katanya sambil tersenyum lalu berjalan santai ke arah kasir. Meninggalkan Satria yang wajahnya berubah masam. Nares tidak yakin dengan pengelihatannya yang melihat ekspresi kecewa di wajah Satria.


Tolong jangan buat aku kegeeran!


Saat dalam perjalanan keluar mall, tidak sengaja Nares melihat Dinda, gadis itu celingukan seperti sedang mencari sesuatu atau … lebih tepatnya mencari seseorang. Siapa yang dicarinya? Satria-kah? Jadi Satria pergi ke mall bareng Dinda, begitu?


Mungkin Dinda dan Satria memang pacaran. Jadi, apakah masih pantas ia menyimpan rasa ini? Masihkah pantas mencintai laki-laki yang merupakan kekasih teman yang telah ia anggap saudara? Nares melenggang dengan senyuman lemah. Kali ini usahanya harus lebih keras dari sebelumnya.


 


 

__ADS_1


....


__ADS_2