
Nares tersenyum congkak begitu keluar dari kamar, berjalan melewati teman-temannya di ruang tengah dengan dagu terangkat. Menyombongkan diri dihadapan mereka yang tidak ada acara di senin malam.
“Lagaknya, gila!” ketus Tian, “Padahal tadi sok-sok enggak mau.”
“Al, kata-kata pedismu mana? Bantuin gih ejek Nares,” bujuk Wisya pada Alana yang baru saja pulang dengan wajah masam.
Nares menatap heran Alana yang meliriknya dan yang lain dengan tajam sebelum pergi ke dapur. Ia menggeleng sekali sebelum berpamitan, “Aku pergi dulu ya.”
“Kayak Satria bakal beneran datang aja.”
“Dia sudah di depan kok.” Nares menjulurkan lidahnya pada Sahda.
Sahda berdehem. “Bawa masuk gih.”
“Malas ah, buat apa juga.” Nares keluar dengan melambaikan tangan. Ia juga merubah ekspresinya agar tidak terlihat begitu senang. Mau taruh di mana wajahnya kalau ketahuan antusias padahal sebelumnya menjawab chat Satria dengan ogah-ogahan. Chat pertama mereka, di senin pagi. Nares akan mengingat itu dengan baik.
Begitu sampai di luar, Nares melihat Satria sedang berdiri berhadapan dengan Agha, pacar Wisya. Dilihat dari raut wajah keduanya, sepertinya obrolan mereka cukup tegang.
“Satria,” panggil Nares sambil mendekat.
“Sudah siap?”
Nares mengangguk menjawab pertanyaan Satria. Nares menatap kedua laki-laki di depannya bergantian. “Saling kenal ya?”
“Tidak.”
Mata Nares memicing curiga mendengar jawaban kompak keduanya. Tidak saling kenal tapi tatapan matanya seperti dua musuh yang kebetulan dipertemukan. “Satria, dia Agha, pacar –”
“Pacarnya Nares!” Pria bernama Agha itu lantas merangkul Nares, guna mempertegas ucapannya.
Tapi dengan kasar Nares menepisnya. “Kamu mau merusak persahabatanku dengan Wisya, ya?” Nares melotot pada Agha, bukan apa-apa, masalahnya Wisya itu tipe cewek yang tingkat kecemburuannya amat sangat tinggi.
Agha mendengkus. “Jangan kembalikan dia larut malam!” katanya menatap Satria tajam sebelum berbalik masuk ke dalam rumah.
“Ayo?”
Nares hendak melangkah setelah mengangguk, tapi gerakannya terhenti ketika mendengar suara Agha dari depan pintu yang menyapa Alana. Tak lama Alana muncul dengan tergesa, mengabaikan pertanyaan Agha dan sampai menabrak Satria.
“Alana, mau ke mana malam-malam begini?” tanya Agha dengan suara agak keras.
“Mau ke mana saja bukan urusanmu!” jawab Alana tanpa menoleh.
Waktu terasa melambat ketika Alana menyenggol Satria, hingga Satria merasa cukup lama bertatapan dengan gadis bernama Alana itu. Satria terperangah dengan mulut terbuka sedikit, kepalanya mengikuti ke mana arah langkah Alana sampai membuatnya harus memutar tubuh.
__ADS_1
“Aku bisa mengenalkan dia sama kamu.”
Meski samar, Satria tersadar oleh ucapan Nares itu. “Hah?”
“Aku bilang aku bisa mengenalkan Alana sama kamu kalau mau.”
Satria melirik bingung. “Kenapa?”
Nares sebisa mungkin menyembunyikan raut tak sukanya. Tapi sayangnya hal itu masih terlihat juga. Ia bukan jenis orang yang pandai menyembunyikan perasaannya apalagi berhadapan langsung seperti ini. “Aku pikir kamu tertarik sama dia karena menatapnya sampai tidak berkedip.”
Satria tertawa pelan. Bolehkah dia mengasumsikan bahwa ada raut kesal Nares itu menandakan adanya percikan cemburu. Satria tahu untuk membayar lima tahun waktunya yang terbuang, ia harus bergerak cepat. Secepat senyum Nares yang membuat jantungnya berdetak tak keruan.
Satria memilih menggiring Nares terlebih dahulu memasuki mobilnya ketimbang menanggapi ucapan Nares. Mereka bisa mengobrol selama di perjalanan, kan?
“Jadi, kapan kamu akan mengenalkan kami?” tanya Satria berniat menggoda. Ia penasaran reaksi apa yang akan diberikan Nares.
“Hah?” Nares mendengkus, “ternyata kamu playboy buntung, ya?” desisnya pelan.
Satria tertawa alih-alih merasa tersindir. “Aku tidak sedikitpun merasa tertarik dengan gadis tadi, siapa namanya?”
“Alana,”
“Ah, Alana.” Satria terlihat berpikir sebelum melanjutkan ucapannya. “Aku pikir aku mengenal suaranya. Terdengar tidak asing.”
“Hapenya Danis, laki-laki yang waktu itu kamu tabrak lalu meminta tanggung jawab tapi malah minta nomor hapemu. Ada banyak video berdurasi singkat dengan suara mirip seperti suara Alana, hanya memang wajahnya tidak terlihat sih. Bahkan rekaman suara juga banyak dia punya.”
“Ah, begitu.” Nares mengangguk-angguk. “Aku pikir kamu playboy buntung.”
“Playboy … buntung?” ulang Satria merasa heran.
“Iya, playboy buta dan tak tahu diuntung.”
Satria tertawa lagi. “Lalu kenapa bisa kamu berpikir seperti itu tentangku?”
Nares terlihat berpikir sejenak sebelum menjawab, seperti ragu untuk mengucapkannya. “Ya … kamu sudah punya Dinda, tapi mengajakku jalan lewat chat dengan emoticon yang aneh, kemudian mulai tertarik dengan Alana.” Nares mengucapkannya sambil memalingkan wajah ke arah jendela.
Tanpa Nares ketahui, Satria terbengong karena ucapannya. Satria sampai bingung menjawab Nares, dan akhirnya ia tidak menanggapi apa-apa hingga mereka sampai di tujuan.
Sebuah restoran bergaya klasik menjadi pilihan Satria. Memilih duduk di pojokan yang tidak begitu ramai. Sampai pelayan pergi setelah mencatat pesanan mereka, keduanya masih diam. Bingung mau berucap apa.
“Nares,” panggil Satria. Otaknya berpikir cepat, memilih bahasan yang enak mereka obrolkan. “Yang kamu maksud aku punya Dinda tadi apa?”
“Ah,” Nares lantas memalingkan wajahnya, menatap ke mana saja, asal bukan ke wajah Satria. “Bukannya kamu memang punya hubungan special sama Dinda? Semacam pacaran gitu atau … masih dalam tahap pendekatan mungkin.”
__ADS_1
Satria berusaha keras untuk tidak tertawa. Ia tidak menyangka Nares akan menduganya berpacaran dengan Dinda. “Alasanmu berpikir seperti itu?”
“Aku pernah melihat kalian berpelukan.”
“Jadi kalau orang berpelukan sudah pasti mereka pacaran?”
Nares mengangguk tapi kemudian menggeleng.
“Kami tidak pacaran. Kalau dekat … iya.”
Nares tidak tahu harus merasa lega atau kecewa. Kenyataan bahwa Satria memeluk seorang wanita tanpa ikatan yang pasti mengusik pikirannya. Apa Satria termasuk orang yang pergaulannya bebas?
“Kamu tipe orang yang bebas memeluk siapa saja ya.”
Senyum di wajah Satria lenyap melihat raut muka Nares yang berubah sendu. Ia jadi tidak tega untuk menggoda Nares lebih jauh. Ia berniat memberitahu tentang siapa Dinda yang sebenarnya saat pramusaji datang membawakan pesanan mereka. Satria membalas senyuman sopan pramusaji kepadanya dan Nares. Dalam hati mengomentari cara kerja pemuda itu yang professional, tidak ada senyum-senyum genit dan curi-curi pandang ke Nares.
“Apa Dinda pernah cerita kalau dia punya pacar?” Tiba-tiba Satria ingin tahu bagaimana pendapat Nares tentang Dinda. Mana tahu gadis itu menjelek-jelekkan adiknya karena berpikir bahwa Dinda adalah wanita yang sedang dekat dengannya, dan merubah pendapatnya setelah tahu kalau Dinda adik kandung Satria.
“Aku selalu jutek sama dia. Tapi dia orangnya masa bodoh sih, mau aku jutekin kayak apa juga enggak bakal ngaruh.” Nares melihat dahi Satria berkerut. Mungkin bingung dengan ucapannya. Pertanyaan dan jawaban yang ia berikan tidak selaras. “Aku pikir kamu hanya mau tahu bagaimana pendapatku tentang Dinda.”
Satria mengangguk, tak mengira Nares akan secepat itu menangkap maksudnya. “Jadi, kenapa kamu selalu jutek sama dia?”
“Aku tidak begitu suka dia.”
“Kenapa?”
Nares menghirup napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. “Dia cerewet. Kalau nanya pasti sampai ke akar-akarnya. Suka ngajak bergosip juga.” Awalnya Nares ragu untuk cerita tentang apa yang tidak dia suka dari Dinda karena ada bagian dari hatinya yang melarang untuk menjelek-jelekkan Dinda. Eh, tapi yang dia ucapkan bukan untuk menjelek-jelekkan. “Dia itu berisik, ceroboh dan … polos.”
“Dinda polos?”
Nares mengedikkan kepalanya. “Entah ya, menurutku dia terlalu polos. Pernah beberapa kali dia mau-maunya diajak pulang bareng sama playboy cap kadal. Sore saja kadang bisa bahaya, apalagi kalau tengah malam." Nares mendengkus diakhir ucapannya dan berhenti sesaat. "Untung aku baik, jadinya aku cegah deh.”
“Bukan karena kamu iri, kan? Dinda diajak kamu enggak?”
“Enggak lah!” pekik Nares spontan sampai membuat orang di sekitar mereka menoleh penasaran.
Satria tertawa, Nares dengan wajah sewotnya memang lucu. Ah tapi kapan dia akan bilang kalau Nares tidak lucu, imut, atau cantik? “Tapi terima kasih ya, sudah melindungi adikku dari laki-laki seperti itu.”
“Hah?”
...
__ADS_1