
Dua minggu tidak ada kabar.
Tarik ulur?
Hah. Nares mendengkus sebal. Mana ada tarik ulur selama itu?
Nares mulai panik. Apa Satria sudah bosan padanya? Sampai-sampai menghilang begitu saja? Kalau sudah bosan dan mau pergi setidaknya pamit dulu.
Nares melempar ponsel ke dinding kamarnya. Napasnya naik turun. Kesal dengan keadaan, dengan Satria dan dengan perasaannya sendiri.
Napas Nares naik turun. Perlahan air matanya meleleh.
Satria menghilang tanpa kabar. Satu-satunya orang yang bisa ia tanyai tentang Satria juga tiba-tiba menghilang. Nares tak mengerti kenapa Dinda tiba-tiba tidak pernah datang ke kantor juga tidak bisa dihubungi. Teman-teman kantornya yang lain juga tidak tahu Dinda ke mana. Termasuk bosnya sendiri. Entah kalau bosnya tidak mau memberitahu Nares perihal keberadaan Dinda.
Lagi-lagi dua kakak beradik itu bikin kepalanya pusing sampai terasa mau pecah.
__ADS_1
Harusnya Nares masih ada satu lagi yang bisa ia tanyai soal Dinda dan Satria, yaitu Danis, a.k.a Danendra Sasmaka. Seorang polisi yang Nares tahu adalah sepupu Dinda dan Satria.
Ketika Nares mencoba menemui Danis ke kantor polisi, ternyata sepupu Satria itu juga tidak ada. Katanya sedang izin. Benar-benar mengesalkan.
Nares ingin tak lagi pada tiga manusia bersaudara itu, tapi kalau ketiga mendadak menghilang pasti ada sesuatu diantara mereka. Siapakah gerangan yang punya masalah? Semoga bukan Satria. Tapi mungkin keluarga besar mereka.
“Ah, bodo amat.” Nares mengacak rambutnya kesal. Ia keluar kamar tanpa mencuci muka sehabis bangun tidur kesiangan.
“Selamat pagi, Tuan Putri Pemalas.”
Nares mendengkus, ia baru sekali ini hari minggu bangun kesiangan dan keluar kamar masih dalam keadaan berantakan, tapi sudah dikatakan pemalas.
“Ohiya, Res, tadi Papamu telepon, katanya kamu disuruh pulang hari ini.”
Nares menoleh pada Syena yang dari tadi mengubah-ubah tatanan rambut Angga. Bolak-balik gadis itu menyisir lalu dia acak lagi. Sampai-sampai pemilik kepala merasa pusing.
__ADS_1
Nares mengambil roti bakar yang entah buatan siapa, mengabaikan Angga yang meringis tapi tidak berani melarang. “Kenapa nggak telepon langsung ke aku?”
“Katanya nomormu nggak aktif.”
Nares mengernyit, mengingat-ingat apa iya ponselnya tidak aktif? Ah. Nares menepuk jidatnya. Ia baru ingat semalam lantaran kesalnya ia sampai membanting ponselnya ke dinding kamar. Nares tak tahu kondisinya bagaimana, tapi ia bisa pastikan bahwa ponselnya tak bisa digunakan lagi. “Nanti sore aku ke sana.”
“Sekarang!” Syena berdecak. “Kamu itu sudah disuruh pulang dari minggu lalu, kan? Tapi kamu terus bilang nanti-nanti terus.
Tanpa menjawab, Nares berdiri tiba-tiba membuat kursi yang didudukinya berderit nyaring. Ia bergerak pergi menuju kamarnya lagi.
“Nares!”
“Iyaaaa, ini mau mandi dulu,” kesal Nares.
Memang benar Nares sudah disuruh pulang dari minggu lalu, tapi dia tak mengindahkan perintah papanya. Karena ia yakin kepulangannya hanya untuk membahas pacar, lagi-lagi pacar dan terus-terusan tanyakan pacar. Tidak tahukah bahwa Nares nyaris mempunyai pacar? Iya, nyaris. Karena saat harapannya melambung tinggi, ia malah ditinggalkan tanpa kabar. Sepertinya harapan punya pacar polisi harus ia buang jauh-jauh.
__ADS_1
“Satria bangke. Padahal waktu itu sudah hampir berhasil move on.”
...