Romantisnya Pacarku

Romantisnya Pacarku
Patah Hatinya Satria


__ADS_3


“Aku sudah dijodohkan. Kita tidak usah ketemu lagi.”


Kalimat itu terus terngiang-ngiang di telinganya. Berputar-putar dalam kepala hingga membuatnya sulit berkonsentrasi. Padahal saat ini ia dan timnya sedang menjalankan misi penyelidikan sebuah kasus pembunuhan.


Namun di kepalanya saat ini hanya ada Nares, Nares dan Nares. Harusnya ada satu orang lagi, tapi karena pertemuan terakhirnya dengan Nares malam itu membuat satu orang itu agak tersisihkan. Padahal satu orang itu bisa dikatakan lebih penting daripada Nares. Dan karena satu orang itu, jatah cuti Satria hanya tinggal cuti tahunan, itu pun tersisa dua hari saja.


“Keadaan Dinda bagaimana ya sekarang?” gumamnya. Satria mengamati teman-temannya yang keadaannya kurang lebih sama seperti dirinya. Kucel, belum mandi dua hari, belum tidur tiga hari. Entah kapan mereka bisa istriahat. Padahal ia sudah sangat lelah. Dan semakin lelah karena beban pikirannya.


Belum lama berharap dalam hati agar segera istirahat, Atasannya datang memberitahu agar ia dan timnya untuk istirahat dan penyelidikan akan dilanjutkan tim lain. Satria menerima dengan senang hati membuat mereka yang menyaksikan tercengang. Pasalnya Satria dikenal dengan kegigihannya, ia tidak akan dengan muda menyerahkan hasil penyelidikannya kepada tim lain, ia selalu bertekad untuk selalu menyelesaikan apa yang sudah dimulainya.


Namun tampaknya tidak untuk kali ini. Pikirannya bercabang ke mana-mana. Saat Satria akan pergi, atasannya memanggil.


“Saya dengar, adikmu makin kritis. Semoga lekas sehat kembali.”


Satria mengangguk, berucap terimakasih lalu bergegas pergi. Tidak berusaha membenarkan ucapan atasannya, karena nyatanya masa kritis Dinda sudah lewat. Itu kabar terbaru tadi pagi yang ia ketahui. Dan harapnya semoga sekarang sudah lebih baik.


***

__ADS_1


Satria mengerutuki diri, karena tidak sadar telah mengemudi dengan keadaan linglung. Untungnya ia sampai dengan selamat di depan rumah Twinssa. Agak heran juga kenapa ia tanpa sadar pergi ke rumah itu, padahal niatnya adalah pulang ke rumahnya sendiri.


Satria gelagapan ketika melihat mobil Nares memasuki pekarangan rumah Twinssa. Ia berniat turun untuk menemui gadis itu tapi langsung dicegah oleh Danis.


Satria mengumpat. Ternyata sepupunya itu tidak tidur. “Eh, ****, kalo nggak tidur kenapa nggak cegah aku nyetir ke sini?”


“Heh Abang **** saja tidak sadar aku ada di sini! Berkali-kali dikasih tahu kalau salah jalan malah diam saja kayak nggak dengar apa-apa.”


Satria mendengkus. Ia melepaskan tangan Danis yang menahannya dan bergerak membuka pintu mobil.


“Mau ke mana?”


“Aku mau ketemu Nares.” Dan sekalian menanyakan dari mana saja gadis itu pergi sampai pukul sebelas malam begini baru pulang.


Mau tidak mau Satria menurut, tapi bukannya turun ia malah menyebrang ke tempat duduk Danis yang mana laki-laki itu belum bergeser sedikitpun. Danis menggeram, ia mendorong kepala Satria agar kembali duduk di tempatnya.


“Benar-benar ya, patah hati bikin orang bodoh. Keluar!”


Satria menggaruk rambutnya yang lepek, ia menipiskan bibir lalu turun. lalu disusul dengan Satria.

__ADS_1


Setelah bertukar posisi, Danis mengemudi perlahan menjauhi kediaman Twinssa.


“Mumpung besok hari sabtu. Kenapa tidak coba saja luluskan Nares?”


“Aku nggak mau membuat telinga Nares sakit.” Satria menjawab dengan malas.


Danis berdecak lagi. “Abang pikir kepalaku hanya tahu meluluhkan hati wanita dengan bernyanyi?”


“Kan hanya itu yang sering kamu lakukan untuk memburu para gadis saat SMA dulu. Dasar playboy.”


“Ck, itu dulu. Mau dengar saranku tidak?”


“Tidak perlu.”


Iya, tidak perlu, karena Satria sudah punya rencana sendiri. Yaitu melamar langsung pada orang tua Nares.


***


**Maaf ya teman-teman, kemarin nggak bisa up karena keburu penyakit lama kambuh.

__ADS_1


selamat menikmati. Terima kasih.


love you all 😙😙**


__ADS_2