
Satria
mendesah, melepaskan Dinda. Dia tahu Dinda tidak berbohong. Dia sudah mengenal
Dinda semenjak gadis itu hadir di dunia, bahkan sejak masih dalam kandungan
pun, ia sudah sering menyapa. Jadi ia tahu betul kalau adik kesayangannya itu
sedang berbohong atau tidak. Dia saja yang bodoh untuk sadar kalau adiknya dan
Nares bekerja di tempat yang sama, perusahaan milik Gusti, ayah Danis.
Lalu
Danis, entah kenapa Satria tidak ingin percaya pada Danis meski jauh di lubuk
hatinya ia sudah percaya. Hatinya terlalu percaya kalau Danis tidak akan
merebut Nares. Kalau Danis memang berniat seperti itu, mungkin saat ini mereka
sedang dekat-dekatnya atau mungkin sudah sampai ditahap sepasang kekasih.
Karena sejak awal, sejak Satria merasa menyukai Nares, Danis selalu mencoba
atau mengutarakan ide-idenya dalam mendekati Nares. Tapi Satria terlalu takut
mendekat. Dia pengecut sebenarnya. Dia terlalu takut menghadapi kenyataan yang
tidak sesuai dengan ekspetasinya.
“Eh,”
suara Dinda menyadarkan Satria dari lamunannya, “bukannya harusnya abang sudah
tahu dari dulu ya kalau Dinda sama Nares satu kantor? Abang tahu kalau Nares
kerja di perusahaannya Om Gusti, dan Abang dari awal jelas sudah tahu kalau
setelah ikut sama Abang ke sini, aku bakal kerja di kantornya om Gusti,” Dinda
mengutarakan pikirannya dengan semangat, “terus-terus, lebih dari sebulan lalu
kalau enggak salah, aku dan Nares ketemu abang di sana, kita cuma bertiga di lift
karena orang-orang sudah pulang semua. Kita berdua juga sempat ngobrol, kan?
Aku mau pulang sama Abang, tapi abang bilang masih mau kerja, jadinya aku tetap
pulang sama Nares.”
Satria
melirikkan matanya kesana kemari, terlihat sedang berpikir keras. “Errt … apa
iya ya?”
“Ih,
iyalah. Terus pas aku bareng Nares dan mobilnya mogok itu kita ketemu lagi.
Sebulan lalu ya? Masa Abang enggak tahu kalau itu Nares.”
“Sejujurnya
…,” Satria menelan liurnya dengan susah payah, “waktu itu Abang sama sekali
enggak ingat kalau kamu kerja di perusahaannya Om Gusti,” katanya diakhiri
dengan ringisan sedikit. “Dan kalau yang di lift itu … abang enggak ngeh kalau itu kamu. Cewek pendek itu
seriusan kamu?”
Dinda
mendengkus keras. “Wah, bagus banget,” teriaknya. “Ini parah, sumpah.” Kakinya
dinaikkan di atas meja sambil melirik kesal Danis yang tertawa. “Sebesar apa
sih pesona seorang Nares sampai bisa mengalihkan dunia Abang? Sampai bisa buat
Abang enggak ngenalin adiknya sendiri? Hah?” Dinda tidak tahan lagi, cepat
memindahkan kakinya ke atas paha Satria lalu mengentak-entakkannya.
Walau
sakit, Satria pasrah saja dengan apa yang dilakukan Dinda padanya. Dia sudah
sangat keterlaluan sepertinya, melupakan adiknya hanya karena seorang wanita.
Tapi kalau yang mobil mogok itu, Satria sadar kalau dua wanita yang di
tolongnya itu Dinda dan Nares. Buktinya ia membiarkan Dinda melompat
dipelukannya, macam anak monyet ketemu bapak monyet. Dan saat itulah Satria
teringat dan sadar kalau Dinda kerja di tempat yang sama dengan Nares, jadi dia
tidak heran lagi.
__ADS_1
“Pantas
saja waktu itu ditanya cuek banget, enggak mau nengok-nengok lagi. Matanya
sibuk mengamati Nares sih, sampai adiknya dikacangin,” sindir Dinda lagi.
“Kapan-kapan kalau jam sepuluh malam Dinda belum pulang tolong diingat untuk
dicari ya Kak Danis? Di Kota ini cuma abang yang Dinda punya,” katanya lagi
sambil menghampiri Danis dan memeluk pria itu.
Danis
tertawa saja dan balas memeluk Dinda. Memaklumi sifat Satria yang suka
melupakan keadaan sekitarnya kalau sudah terlalu fokus. Apalagi fokus
memikirkan Nares, ugh dampaknya bisa lebih parah.
Satria
memutar bola matanya, jengah melihat Dinda yang manjanya suka kelewatan. Suka
meluk sembarangan dan tidak tahu waktu. Satria berdiri dan masuk ke kamar.
Mengabaikan Danis dan Dinda, pikiran Satria melayang pada kejadian di mall
tadi.
Ada
raut tak suka, Satria lihat di wajah Nares. Mimik wajahnya tidak semringah
seperti pertemuan mereka yang sebelumnya. Raut terkejut dan antusias Nares tak
nampak lagi pada pertemuan mereka tadi. Nares tampak datar, malah cenderung
terlihat kesal dan tidak suka. Curiga Satria, Nares juga menaruh minat padanya,
dan saat Satria bilang akan menghubungi, gadis itu benar-benar berharap dan
menunggu. Bukannya Satria tidak ada niat menghubungi, tapi kesibukan yang
teramat dan dengan pikiran dipenuhi oleh kasus pembunuhan yang sedang ia
tangani, membuat Satria tidak memiliki waktu lebih untuk memikirkan hal itu.
Dan
saat kesibukannya telah meredah, Dinda sudah merengek untuk ditemani
berbejanja, adiknya itu tidak mau pergi sendiri dengan alasan, ingin jalan
Memang anu adiknya itu. Akibatnya,
Satria pasti terlihat tukang pemberi harapan palsu setelah kejadian tadi.
Satria
menghela napas. Sekarang dia tidak tahu bagaimana harus menghubungi untuk
mendekati gadis itu. Haruskah minta saran pada Danis, si mantan playboy?
__________________________
“Abang,
bangun!” Sudah lima menit Dinda mencoba membangunkan Satria, tapi laki-laki itu
tampaknya tidak berkeinginan untuk bangun. “Bang, bangun dong! Sekarang itu
hari senin kalau abang lupa.”
“Memangnya
kenapa kalau hari senin?”
“Enggak
ke kantor apa?”
“Enggak.”
Dinda
mengguncang-guncang tubuh Satria. “Mau dipecat ya?”
“Apa
sih Dinda? Abang sudah minta cuti dua hari ini.” Dengan kesal Satria menutup
kembali tubuhnya dengan selimut yang sebelumnya sempat dibuka Dinda.
Sebuah
ide terlintas begitu saja saat ia melihat ponsel Satria di nakas. Beruntung ia
tahu pola untuk membuka kunci ponsel Satria. Saat orang-orang sudah pakai yang akhirnya ia tahu arti pola itu, huruf N,
__ADS_1
Nares. Dinda berdecak. Sepertinya kedudukan Nares lebih tinggi darinya dihati
Satria. Dan lagi nama kontak Nares di ponsel Satria diakhiri dengan emoticon love.
Alay enggak sih?
Satria: Hai,
Satria: Jalan yuk, nanti
malam.
Dinda
menunggu tidak sabaran, penasaran balasan apa yang akan Nares kirimkan dari
pesan Satria, oh ralat, darinya. Dua menit kemudian berlalu pesan Satria tak
kunjung mendapat balasan meski tanda ceklis duanya sudah berubah warna yang
artinya pesannya telah dibaca. Dinda berdecak pelan lalu mengirimkan pesan
lagi.
Satria: Nares?
Lagi-lagi
pesannya hanya dibaca. Dinda sampai ingin berjingkrak saking gemasnya.
Satria:Res, kok di read doang?
Nares♡: Siapa
Satria: Ini
aku, Satria.
Nares♡:Yang peduli
Dinda
nyaris tersedak ludahnya sendiri, tidak menyangka balasan Nares akan seperti
itu. Ternyata juteknya Nares bukan hanya padanya, tapi pada Abangnya juga. Atau
jangan-jangan Nares tahu lagi kalau yang mengirim pesan itu bukan Satria,
melainkan dia.
Satria: Haha,
nanti malam ya
Satria: Aku jemput!
Satria: Sampai
jumpa nanti malam ♡
Dinda
berusaha untuk tidak tertawa dan mengontrol ekspresinya sebelum membangunkan
Satria lagi. “Abang bangun dong! Anterin aku.”
“Minta
antar Danis sana!”
“Hah
dasar.” Dinda bangkit dan menjauh dari ranjang. “Tapi mendingan bangun deh
bang, dan balas WA dari Nares.” Satria hanya berguman tidak jelas merespon
ucapan Dinda. “Ku kasih tahu ya, kesempatan enggak selalu datang dua kali. Aku
serius!” katanya lagi sebelum keluar kamar Satria dengan membanting pintu
membuat Satria bangun seketika.
Sebenarnya
ia penasaran juga apa benar kalau Nares mengirimkan pesan padanya, tapi Nares
dapat nomornya dari mana? Dengan cepat Satria meraih ponselnya. Setelah ia
periksa ternyata tidak ada notifikasi apapun. Dinda membohonginya, sialan. Saat
hendak meneriakan nama Dinda, tiba-tiba ponselnya bergetar menandakan sebuah
notifikasi masuk.
Dinda: Ciee yang udah berani ngajak cewek
makan malam :D
“DINDAAA
__ADS_1
….”
...