Romantisnya Pacarku

Romantisnya Pacarku
Dinda


__ADS_3

Satria


mendesah, melepaskan Dinda. Dia tahu Dinda tidak berbohong. Dia sudah mengenal


Dinda semenjak gadis itu hadir di dunia, bahkan sejak masih dalam kandungan


pun, ia sudah sering menyapa. Jadi ia tahu betul kalau adik kesayangannya itu


sedang berbohong atau tidak. Dia saja yang bodoh untuk sadar kalau adiknya dan


Nares bekerja di tempat yang sama, perusahaan milik Gusti, ayah Danis.


Lalu


Danis, entah kenapa Satria tidak ingin percaya pada Danis meski jauh di lubuk


hatinya ia sudah percaya. Hatinya terlalu percaya kalau Danis tidak akan


merebut Nares. Kalau Danis memang berniat seperti itu, mungkin saat ini mereka


sedang dekat-dekatnya atau mungkin sudah sampai ditahap sepasang kekasih.


Karena sejak awal, sejak Satria merasa menyukai Nares, Danis selalu mencoba


atau mengutarakan ide-idenya dalam mendekati Nares. Tapi Satria terlalu takut


mendekat. Dia pengecut sebenarnya. Dia terlalu takut menghadapi kenyataan yang


tidak sesuai dengan ekspetasinya.


“Eh,”


suara Dinda menyadarkan Satria dari lamunannya, “bukannya harusnya abang sudah


tahu dari dulu ya kalau Dinda sama Nares satu kantor? Abang tahu kalau Nares


kerja di perusahaannya Om Gusti, dan Abang dari awal jelas sudah tahu kalau


setelah ikut sama Abang ke sini, aku bakal kerja di kantornya om Gusti,” Dinda


mengutarakan pikirannya dengan semangat, “terus-terus, lebih dari sebulan lalu


kalau enggak salah, aku dan Nares ketemu abang di sana, kita cuma bertiga di lift


karena orang-orang sudah pulang semua. Kita berdua juga sempat ngobrol, kan?


Aku mau pulang sama Abang, tapi abang bilang masih mau kerja, jadinya aku tetap


pulang sama Nares.”


Satria


melirikkan matanya kesana kemari, terlihat sedang berpikir keras. “Errt … apa


iya ya?”


“Ih,


iyalah. Terus pas aku bareng Nares dan mobilnya mogok itu kita ketemu lagi.


Sebulan lalu ya? Masa Abang enggak tahu kalau itu Nares.”


“Sejujurnya


…,” Satria menelan liurnya dengan susah payah, “waktu itu Abang sama sekali


enggak ingat kalau kamu kerja di perusahaannya Om Gusti,” katanya diakhiri


dengan ringisan sedikit. “Dan kalau yang di lift itu … abang enggak ngeh kalau itu kamu. Cewek pendek itu


seriusan kamu?”


Dinda


mendengkus keras. “Wah, bagus banget,” teriaknya. “Ini parah, sumpah.” Kakinya


dinaikkan di atas meja sambil melirik kesal Danis yang tertawa. “Sebesar apa


sih pesona seorang Nares sampai bisa mengalihkan dunia Abang? Sampai bisa buat


Abang enggak ngenalin adiknya sendiri? Hah?” Dinda tidak tahan lagi, cepat


memindahkan kakinya ke atas paha Satria lalu mengentak-entakkannya.


Walau


sakit, Satria pasrah saja dengan apa yang dilakukan Dinda padanya. Dia sudah


sangat keterlaluan sepertinya, melupakan adiknya hanya karena seorang wanita.


Tapi kalau yang mobil mogok itu, Satria sadar kalau dua wanita yang di


tolongnya itu Dinda dan Nares. Buktinya ia membiarkan Dinda melompat


dipelukannya, macam anak monyet ketemu bapak monyet. Dan saat itulah Satria


teringat dan sadar kalau Dinda kerja di tempat yang sama dengan Nares, jadi dia


tidak heran lagi.

__ADS_1


“Pantas


saja waktu itu ditanya cuek banget, enggak mau nengok-nengok lagi. Matanya


sibuk mengamati Nares sih, sampai adiknya dikacangin,” sindir Dinda lagi.


“Kapan-kapan kalau jam sepuluh malam Dinda belum pulang tolong diingat untuk


dicari ya Kak Danis? Di Kota ini cuma abang yang Dinda punya,” katanya lagi


sambil menghampiri Danis dan memeluk pria itu.


Danis


tertawa saja dan balas memeluk Dinda. Memaklumi sifat Satria yang suka


melupakan keadaan sekitarnya kalau sudah terlalu fokus. Apalagi fokus


memikirkan Nares, ugh dampaknya bisa lebih parah.


Satria


memutar bola matanya, jengah melihat Dinda yang manjanya suka kelewatan. Suka


meluk sembarangan dan tidak tahu waktu. Satria berdiri dan masuk ke kamar.


Mengabaikan Danis dan Dinda, pikiran Satria melayang pada kejadian di mall


tadi.


Ada


raut tak suka, Satria lihat di wajah Nares. Mimik wajahnya tidak semringah


seperti pertemuan mereka yang sebelumnya. Raut terkejut dan antusias Nares tak


nampak lagi pada pertemuan mereka tadi. Nares tampak datar, malah cenderung


terlihat kesal dan tidak suka. Curiga Satria, Nares juga menaruh minat padanya,


dan saat Satria bilang akan menghubungi, gadis itu benar-benar berharap dan


menunggu. Bukannya Satria tidak ada niat menghubungi, tapi kesibukan yang


teramat dan dengan pikiran dipenuhi oleh kasus pembunuhan yang sedang ia


tangani, membuat Satria tidak memiliki waktu lebih untuk memikirkan hal itu.


Dan


saat kesibukannya telah meredah, Dinda sudah merengek untuk ditemani


berbejanja, adiknya itu tidak mau pergi sendiri dengan alasan, ingin jalan


Memang anu adiknya itu. Akibatnya,


Satria pasti terlihat tukang pemberi harapan palsu setelah kejadian tadi.


Satria


menghela napas. Sekarang dia tidak tahu bagaimana harus menghubungi untuk


mendekati gadis itu. Haruskah minta saran pada Danis, si mantan playboy?


__________________________


“Abang,


bangun!” Sudah lima menit Dinda mencoba membangunkan Satria, tapi laki-laki itu


tampaknya tidak berkeinginan untuk bangun. “Bang, bangun dong! Sekarang itu


hari senin kalau abang lupa.”


“Memangnya


kenapa kalau hari senin?”


“Enggak


ke kantor apa?”


“Enggak.”


Dinda


mengguncang-guncang tubuh Satria. “Mau dipecat ya?”


“Apa


sih Dinda? Abang sudah minta cuti dua hari ini.” Dengan kesal Satria menutup


kembali tubuhnya dengan selimut yang sebelumnya sempat dibuka Dinda.


Sebuah


ide terlintas begitu saja saat ia melihat ponsel Satria di nakas. Beruntung ia


tahu pola untuk membuka kunci ponsel Satria. Saat orang-orang sudah pakai  yang akhirnya ia tahu arti pola itu, huruf N,

__ADS_1


Nares. Dinda berdecak. Sepertinya kedudukan Nares lebih tinggi darinya dihati


Satria. Dan lagi nama kontak Nares di ponsel Satria diakhiri dengan emoticon love.


Alay enggak sih?


Satria: Hai,


Satria: Jalan yuk, nanti


malam.


Dinda


menunggu tidak sabaran, penasaran balasan apa yang akan Nares kirimkan dari


pesan Satria, oh ralat, darinya. Dua menit kemudian berlalu pesan Satria tak


kunjung mendapat balasan meski tanda ceklis duanya sudah berubah warna yang


artinya pesannya telah dibaca. Dinda berdecak pelan lalu mengirimkan pesan


lagi.


Satria: Nares?


Lagi-lagi


pesannya hanya dibaca. Dinda sampai ingin berjingkrak saking gemasnya.


Satria:Res, kok di read doang?


Nares♡: Siapa


Satria: Ini


aku, Satria.


Nares♡:Yang peduli


Dinda


nyaris tersedak ludahnya sendiri, tidak menyangka balasan Nares akan seperti


itu. Ternyata juteknya Nares bukan hanya padanya, tapi pada Abangnya juga. Atau


jangan-jangan Nares tahu lagi kalau yang mengirim pesan itu bukan Satria,


melainkan dia.


Satria: Haha,


nanti malam ya


Satria: Aku jemput!


Satria: Sampai


jumpa nanti malam ♡


Dinda


berusaha untuk tidak tertawa dan mengontrol ekspresinya sebelum membangunkan


Satria lagi. “Abang bangun dong! Anterin aku.”


“Minta


antar Danis sana!”


“Hah


dasar.” Dinda bangkit dan menjauh dari ranjang. “Tapi mendingan bangun deh


bang, dan balas WA dari Nares.” Satria hanya berguman tidak jelas merespon


ucapan Dinda. “Ku kasih tahu ya, kesempatan enggak selalu datang dua kali. Aku


serius!” katanya lagi sebelum keluar kamar Satria dengan membanting pintu


membuat Satria bangun seketika.


Sebenarnya


ia penasaran juga apa benar kalau Nares mengirimkan pesan padanya, tapi Nares


dapat nomornya dari mana? Dengan cepat Satria meraih ponselnya. Setelah ia


periksa ternyata tidak ada notifikasi apapun. Dinda membohonginya, sialan. Saat


hendak meneriakan nama Dinda, tiba-tiba ponselnya bergetar menandakan sebuah


notifikasi masuk.


Dinda: Ciee yang udah berani ngajak cewek


makan malam :D


“DINDAAA

__ADS_1


….”


...


__ADS_2