
di novel memenuhi kepala Nares. Rasanya menyesakkan.
Saat Nares akan terisak, riuh orang berbisik menganggu fokusnya. Semua pandangan orang menuju ke arah pintu masuk. Di sana berdiri Satria dengan penampilan kurang rapi. Rambut lepek , bekas keringat di dahi yang dihapus dengan tangan masih berjejak. Napas Satria terdengar ngos-ngosan, bahkan dari jarak jauh Nares bisa mendengarnya.
Sudah lewat dua puluh menit, tapi Satria dan keluarganya belum juga datang. Memang pernikahan kakaknya lebih dulu dilaksanakan, menyusul mereka satu jam berikutnya. mempelai pria diharuskan datang setidaknya dua jam sebelum akad.
Mama Nares dan beberapa sanak saudara, termasuk Nadia, kakaknya sendiri, berusaha menenangkan. Namun, wanita mana yang bisa tenang saat hari pernikahannya tiba, mempelai prianya tak kunjung datang?
Waktu berlalu, prosesi ijab Kabul Randi dan Nadia sudah selesai, juga segala ***** bengeknya. Dan Satria berserta keluarganya belum juga menampakkan diri. Dihubungi pun tidak ada kabar.
Mata Nares sudah berkaca-kaca. Bayangan-bayangan wanita ditinggal saat hari pernikahan yang ada
Satria sudah siap menerima amarah Nares lagi yang mungkin akan dilampiaskan dengan umpatan, cacian atau bahkan pukulan lagi. Tapi ia tersentak ketika Nares malah memeluknya erat dengan terhisak. Mau tak mau Satria pun membalasnya diiringi dengan permintaan maafnya.
__ADS_1
“Maaf, sudah buat kamu cemas, takut, dan khawatir. Maaf atas keterlambatanku. Maaf atas keteledoranku. Maaf sudah buat kamu sedih.”
“Kamu jahat,” ucap Nares sambil memukul pelan punggung Satria. “Kalau ada apa-apa itu bilang! Kalau nggak niat nikahin aku ya juga bilang!” Nares melepaskan pelukannya. Dengan mata merah ia berusaha menatap Satria dengan galak. “Jangan iya-iya saja!”
***
Saya mohon maaf karena lama sekali baru melanjutkan cerita ini. Saya habis terkena DBD untuk kedua kalinya dengan gejala yang lebih parah dan penyembuhan yang lebih lama.
Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Terima kasih untuk semuanya 🖤🖤🖤
Padangan Nares dan Satria bertemu. Nares membuang muka. Rasa kesal itu tetap ada meski telah didominasi oleh rasa syukur. Ia sangat bersyukur Satria tetap datang meski dengan penampilan acak acakan.
__ADS_1
Selagi memperbaiki penampilan Satria agar lebih rapi, Nares tertunduk lesu. Masih memikirkan alasan keterlambatan Satria. Juga penampilan Satria yang seperti dikejar an*ing.
Sampai proses ijab Kabul selesai, Nares masih juga berwajah lesu. Bahkan selama acara berlangsung, senyum yang terbit di wajah Nares bisa dihitung, itupun nampak sangat terpaksa. Apapun yang orang tuanya dan Satria ucapkan atau orang-orang di sana, Nares hanya iya-iya saja, mengikut tanpa bantahan. Ia murung seperti wanita yang dipaksa menikah oleh keluarganya karena tuntutan ini itu.
Kini tiba saatnya Nares dan Satria punya waktu hanya berdua tanpa gangguan apapun.
Satria tersenyum pelan, gemas dengan wajah Nares yang memerah. Karena berpikir sudah halal, Satria mendekatkan wajah berniat mengecup bibir Nares.
Namun sayang, tangan Nares bergerak lebih cepat menutup wajahnya.
“Mau ngapain sih dekat-dekat?” wajah Nares yang suka memerah, semakin memerah sampai di telinga. Rasa panas seketika menjalar dengan buas.
“Kenapa masih murung?” bisik Satria pelan. berjongkok di hadapan Nares yang di tepi ranjang. “Hei.” Satria mengangkat dagu Nares, berusaha agar Nares menatap matanya.
__ADS_1
Nares menatap Satria datar. Lalu tanpa aba-aba, telapak tangan kanan Nares melayang menampar Satria. Jejak tangan seketika tergambar di pipi pria yang baru saja menikahi Nares itu.
Pukul 8.13 pagi, kediaman keluarga Arya Halim sudah sangat ramai. Randi sekeluarga sudah hadir, siap melaksanakan ijab Kabul membuat Nadia lantas tersenyum tenang. Sementara itu, Nares yang mendadak murung dan gelisah setelah berjam-jam sejak bangun tidur, bibirnya tak melepaskan senyum.