Romantisnya Pacarku

Romantisnya Pacarku
Kecewa


__ADS_3

“Biar saja, biar dia tahu sekarang juga kalau Satria tuh sukanya sama kamu!”


Deg.


Apa maksudnya ucapan Wisya itu. Cepat-cepat Nares membukakan pintu. Matanya memarah, tak percaya apa yang dia dengar.


“Maksudmu apa?”


Wisya dan Alana menoleh terkejut, wajah keduanya berubah tegang. Lalu tak lama tawa canggung Alana terdengar.


“Nggak usah dengarkan Wisya. Dia lagi ngelindur.”


 “Apanya yang ngelindur? Jelas-jelas kamu tahu kalau Satria dekati Nares itu untuk mendapat kamu.” Emosi Wisya tampak memuncak, ia sampai mendorong bahu Alana.


Alana tak menghiraukan Wisya, ia mendekati Nares berusaha merangkul dan membawa gadis itu masuk ke dalam kamar. Tapi tangannya malah ditepis kasar oleh Nares.


Nares menatap kedua temannya itu dengan tajam, matanya memerah dan mulai berair. “Tolong katakan yang jujur!”


Alana melihat Nares dengan tatapan bersalah. “Maaf,” lirihnya. Dan lagi-lagi tangannya ditepis oleh Nares.


Nares membuang pandangannya dari Alana. Air matanya tidak bisa lagi ia tahan. Ia tidak menyangka Alana begitu tega padanya. Bagaimana bisa Alana membiarkan Satria mendekatinya padahal Alana tahu laki-laki itu tidak menyukainya. Apa Alana menganggap ini sebuah lelucon lalu menertawakan dirinya diam-diam?


Kenyataan Satria hanya memanfaatkannya memang sakit, tapi lebih menyakitkan ketika orang yang sudah dianggap sahabat, dianggap keluarga malah tega menyakitinya.

__ADS_1


Alana anggap apa Nares selama ini.


“Kenapa?” Nares kembali menghadap Alana.


Alana membalas tatapan Nares dengan mata yang juga berkaca-kaca. “Maaf.”


“Kenapa kamu tidak pernah cerita?”


“Maaf.”


Bukannya menjawab pertanyaan Nares, lagi-lagi Alana hanya mengumamkan kata maaf.


“Aku nggak suruh kamu minta maaf!” Emosi Nares memuncak. Ia sungguh amat sangat kecewa pada kawannya yang satu ini.


Nares menggemelatukkan giginya karena Alana menghentikan penjelasannya.


“Karena aku juga suka kamu dikerjain.” Tawa Alana amat kencang memekakan telinga.


 “SURPRISE!”


Nares terbelalak. Tiba-tiba teman-temannya yang lain keluar dari persembunyian dengan wajah puas. Masing masing di tangan mereka membawa balon.


Lalu Satria muncul dengan kue ulang tahun di tangannya.

__ADS_1


“Selamat ulang tahun, Nares!” teriak teman-temannya dengan wajah semringah.


Namun, Nares terduduk seketika, berpangku tangan di atas lutut dan menangis kuat. Perasaannya kini campur aduk.


Satria mendekat, ikut duduk di depan Nares. “Kejuatan kami berlebihan ya?”


“Kalian jahat!”


Satria meringis, ia menoleh ke teman-teman Nares yang mundur beberapa langkah. Curiga Satria, mereka akan melarikan diri agar tak mendapat omelan Nares.


“Maaf.” Satria berusaha mengangkat wajah Nares untuk ditatapnya. Dengan lembut dihapusnya air mata Nares.


Sadar Satria terlalu dekat dengannya, Nares segera mundur. “Ngapain kamu di sini? Cewek yang kamu suka ada di sana.” Nares menunjuk Alana yang sudah berpindah tempat.


Satria meringis. “Hei, yang mereka bilang tadi cuma pura-pura, aku sukanya sama kamu.”


Nares memperbaiki duduknya menjadi bersila, diikuti oleh Satria. Mereka duduk berhadapan dengan jarak dua jengkal orang dewasa.


Lalu Nares melirik tajam teman-temannya, sedang yang dilirik pura-pura tak tahu. Seolah bisa bertelepati, ia mengusir teman-temannya agar menjauh dari hadapan mereka.


Setelah teman-temannya pergi, ia beralih lagi menatap Satria. “Ngapain kamu ke sini? Tengah malam lagi,” ucapnya galak, tangganya ia lipat di depan dada.


 

__ADS_1


...


__ADS_2