
…
Sejak kencan mereka pada minggu pagi waktu itu, hubungan Nares dan Satria makin dekat. Pertemuan dan komunikasi mereka makin intens. Meski tanpa status yang jelas Nares sudah cukup senang dengan kedekatan mereka ini.
Karena kalau mengingat masa lalunya yang bisa hanya melihat dari jauh dan itupun sangat jarang, sekarang Nares sudah merasa sangat bersyukur.
“Lebih membahagiakan lagi kalau kami sampai nikah. Kyaaaa.” Nares berteriak gemas dengan pemikirannya. Padahal Satria bahkan belum pernah menyatakan perasaannya secara gambling. “Semoga dia nggak kayak cowok kebanyakan yang suka PHP deh, apalagi ditinggal pas lagi sayang-sayang.” Nares berguling ke sana-kemari di atas tempat tidurnya.
Tiba-tiba Nares teringat sesuatu. Diperksanya ponsel pintarnya, menegcek apa ada panggilan atau pesan dari Satria. Ia baru ingat hari ini Satria belum menghubunginya sama sekali. Padahal selama dua minggu ini Satria rutin menelponnya tiap pagi hanya untuk sekadar menyapa Nares.
__ADS_1
Nares menggelengkan kepala, berusaha menolak pikiran yang mulai datang. Dia harus berpikir positif. Iya, bisa jadi sekarang ada kasus yang membuat Satria tidak bisa bersantai. Dalam hati Nares mendoakan semoga Satria baik-baik saja.
Tiga hari berlalu. Satria masih belum menghubunginya juga. Namun, Nares masih berpikir positif. Dan untuk memperkuat dugaan positifnya, Nares menanyakan tentang Satria pada Dinda. Cukup sulit untuk berbincang santai dengan Dinda, karena gadis itu tampak selalu sibuk. Dan beberapa hari terakhir memang Dinda tidak seperhatian biasanya, bisa dibilang lumayan cuek, tapi Dinda masih membalas sapaannya.
Saat Nares menanyakan perihal Satria pun, Dinda tampak terburu-buru. Nares bertanya pagi hari, tapi Dinda baru menjawabnya sore hari saat ia mau pulang. Itupun Nares harus menghampiri Dinda dulu dan agak sedikit memaksa. Nares harus mendesak Dinda dulu baru Gadis itu mau mengalihkan perhatian dari pekerjaannya ke Nares. Dan jawaban terburu-buru Dinda membuat Nares keki sendiri. Dinda bilang Satria masih sering santai di rumah, tidak nampak bahwa laki-laki itu sedang sibuk.
Argh, kenapa dua kakak beradik itu membuat Nares kebingungan. Tapi mari kita lupakan dulu soal Dinda. "Ayo fokus ke Satria dulu," perintah Nares pada otaknya.
Nares duduk di tepi ranjang. Memeriksa lagi ponselnya. Membaca riwayat chat-nya bersama Satria. Terbesit suatu pemikiran, “Apa Satria lagi tarik ulur? Kan biasanya, katanya orang-orang kalau pendekatan ada yang namanya tarik ulur.” Nares tersenyum malu. “Dasar! Okelah, aku akan ikuti permainanmu.”
__ADS_1
Setelah tiga hari tak bisa tidur nyenyak, akhirnya mala mini Nares bisa tidur dengan damai, dengan perasaan tenang. Satria baik-baik saja. Tak menghubungi dan tak bisa dihubungi itu bagian dari startegi pendekatannya pada Nares. Tarik ulur. Nares yakin itu.
Namun, Nares tak menyadari bahwa pemikirannya yang seperti itu malah berpotensi membuatnya merasakan rasa sakit baru. Rasa sakit karena patah hati yang selama ini mungkin belum pernah ia rasakan.
Namun, sayangnya Nares hanya memikirnya yang hari ini
...
Makasih buat like dan votenya. Semoga Allah senantiasa memberikan kita kebahagiaan 😙
__ADS_1