
Mengapa beberapa orang suka menghayal atau mengenang kisah-kisah manis di masa lalu kala hujan datang? Ada pula yang menyalahkan hujan saat ingatan yang terbesit itu tak menyenangkan, memaki lalu membenci hujan. Tahukah kamu bahwa hujan itu tidak salah? Bukan kemauannya datang kala kamu bersedih. Bukan kemauannya datang membawa kenanganmu kembali. Jadi berhentilah menyalahkan hujan, karena hujan tak layak disalahkan apalagi dibenci.
“Apaan-apaan tulisan ini? Jelek.”Tulis Nares mengomentari postingan terbaru Alana tentang hujan di Instagram. “Kalimatnya jelek @itsreinalana kamu itu enggak cocok jadi penulis, enggak usah sok-sok puitis lah.” tambahnya lagi.
Nares tertawa puas. Ah kurang puas sebenarnya. Tapi ia tidak bohong, tulisan Alana memang kurang bagus, sepertinya. Sebenarnya Nares hanya kurang suka Alana menulis hal-hal yang berbau fiksi seperti itu karena semenjak Alana menulis, gadis itu jadi sering kurang tidur. Dan Nares tidak suka.
Kembali ke keadaannya sendiri. Saat ini Nares sedang duduk sendiri di Ratukafe, menunggu seseorang yang akan mengembalikan ponselnya. Sebelum datang kesini, Nares sudah lebih dulu menyuruh Tian untuk memberi tahu orang itu tentang ciri-ciri Nares saat datang ke kafe. Nares tidak memiliki ponsel lain dan tidak berniat membeli yang baru. Jadi ia bersyukur jika memang ponselnya bisa kembali.
Nares sedang memperhatikan jatuhnya air hujan saat seseorang datang mengetuk mejanya. Bola mata Nares nyaris mencuat keluar kalau saja ia tidak bisa mengendalikan keterkejutannya. Ia berdehem untuk mengembalikan ekspresi wajahnya yang hampir terlihat aneh.
“Ada yang bisa dibantu?” tanya Nares berusaha tidak menyunggingkan senyum lebar.
Bukannya menjawab, laki-laki itu, Satria malah duduk didepannya dengan santai. “Jadi kamu ya si pemilik hape? Nares?” Satria mendorong ponsel Nares mendekat. “Iyakan? Nama kamu Nares, kalau saya tidak salah ingat.”
Wah dia ingat namaku, sodara-sodara. Pekik Nares girang dalam hati, nyaris saja diucapkan oleh mulutnya. Jelaslah dia ingat, cewek jorok yang datang ke kantor tidak mandi. Lalu sisi negatif otaknya ikut berkomentar membuat Nares tersenyum kecut.
__ADS_1
“Kenapa?” tanya Satria heran.
Nares menggeleng cepat. “Makasih ya, sudah mau repot-repot mengembalikan.”
Satria tertawa pelan membuat Nares terkesima. Jadi begini rasanya melihat melihat orang yang dicinta tertawa dan tersenyum dari dekat?
“Kalau tidak ikut punya ya harus dikembalikan dong,” Satria tertawa lagi. “Kalau saya tahu itu punya temannya Dinda, sudah pasti saya kasih dia buat kembalikan.”
“Ah, iya,” jawab Nares singkat menutupi kekecewaannya.
“Kenapa?”
“Karena saya jadi bisa ketemu kamu di sini.”
Serius? Nares tidak tahu bagaimana warna wajahnya, yang ia tahu rasanya begitu panas. Ia tidak menyangka kalimat sederhana Satria itu bisa sebegitu berdampak padanya. Satria tidak bermaksud menggombal, kan?
__ADS_1
“Ah, maaf saya harus pergi. Urusan saya masih belum selesai,” kata Satria tiba-tiba. Dan Nares spontan menahan tangan Satria.
“Saya … terima kasih.” kata Nares gugup, menyadari tindakannya yang tiba-tiba dan melepaskan tangan Satria. “Mungkin saya bisa traktir kamu lain kali sebagai ucapan terima kasih.” Nares ingin memukul mulutnya sendiri yang sudah lancang. “Ah, itupun kalau kamu tidak keberatan.”
“Tentu.” Satria menyodorkan ponselnya, “tulis nomormu, begitu saya ada waktu, akan saya hubungi.”
Dengan semangat Nares mengetikan nomor ponselnya di ponsel Satria. Masa bodoh dengan Dinda yang mungkin ada hubungan special dengan Satria. Ia tidak peduli. Karena kesempatan seperti ini terkadang tidak datang dua kali. Lagi pula yang ia tahu, Satria belum beristri, jadi masih bebas untuk didekati.
Satria tersenyum menerima ponselnya. “Sampai ketemu lagi, Nares.”
Senyum itu lagi. Rasanya Nares akan pingsan sekarang juga. Nares mengiringi kepergian Satria dengan senyum terlebarnya.
....
__ADS_1