
Satria menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kan kasih kamu kejutan ulang tahun.”
Nares mendekus. “Setelah berminggu-minggu hilang tanpa kabar, buat apa muncul lagi?”
Satria gelagapan. “Itu karena pekerjaan, jangankan pegang hape, mandi saja susah.”
Nares menghela napas pelan. “Mumpung ketemu kamu di sini. Ada yang mau aku kasih tahu. Mungkin lebih baik mulai saat ini kita nggak usah ketemu lagi.”
“Maksudnya?”
Nares berdiri. Satria juga langsung ikut berdiri.
“Aku sudah dijodohkan. Jadi tidak mungkin dekat lagi sama cowok lain.”
Satria tertawa hambar. “Kamu mau balik ngerjain aku? Jangan gitu, dong.”
“Aku bukan pendendam.” Nares tertawa sinis. “Lagipula nggak ada untungnya ngerjain kamu. Kamu cuma cowok kurang kerjaan yang deketin orang lalu hilang tanpa kabar.”
“Nares, aku nggak pernah main-main sama kamu. Aku serius. Bukan untuk kujadikan pacar, tapi kujadikan istri.”
Nares langsung buang muka. “Sudah terlambat kamu bilang itu. Kamu sudah pergi, harusnya tidak usah datang lagi,” ujarnya sambil bergerak meninggalkan Satria menuju ruang tengah.
__ADS_1
Satria mengejar, ia menangkap tangan Nares untuk menahan. “Aku nggak ada maksud gitu. Dengar dulu penjelasanku.” Satria memohon. Ia tidak menyangka akan jadi seperti ini.
“Sudahlah, perlu penjelasan apa lagi? Toh aku sekarang udah punya calon suami. Jadi, kita nggak akan ketemu lagi.” Nares melepaskan tangan Satria. Ia tidak jadi ke ruang tamu dan berbalik menuju kamarnya sendiri.
Tiba di dalam kamar, Nares menelungkupkan tubuhnya, lalu menangis sejadi-jadinya.
Sementara itu Satria terpaku di tempatnya. Pikiriannya melayang ke mana-mana. Nares dijodohkan, Nares yang minta tidak bertemu lagi. Belum lagi masalah yang membuatnya mengilang beberapa minggu ini. Padahal untuk perihal tak memberi kabar itu, Satria tidak bermaksud.
Satria menghela napas, lalu menghampiri teman-teman Nares di ruang tengah. Pasti mereka menunggu-nunggu kedatangannya dengan Nares.
“Loh Nares mana?”
“Dia marah banget ya?”
Satria tak membalas pertanyaan-pertanyaan itu, ia hanya menampakkan raut lesu. Selain ia memang lapar karena dari kantor dia langsung datang untuk memberikan kejutan ulang tahun Nares. Itu pun dia hampir lupa jika saja Alana tidak menanyakan tentangnya pada Danis. Ohiya, sekadar informasi, . Bahkan Satria juga belum mandi dari pagi. Entah mungkin Nares mencium aroma tak sedap dirinya, makanya saat mendekat tadi Nares langsung menjauh.
“Kalian nggak pernah cerita kalau Nares ternyata sudah dijodohkan.”
Berkebalikan dengan wajah Satria, Wisya malah tertawa keras. “Apaan dijodohkan? Nggak ada jodoh-jodohan.”
“Tapi Nares sendiri yang bilang tadi.”
__ADS_1
“Nggaklah. Dia ngomong gitu pasti buat ngerjain kamu balik.” Wisya masih ngotot kalau perihal perjodohn itu tidak benar.
“Iya. Nares nggak pernah cerita soal perjodohan, berarti itu hanya untuk ngerjain kamu.”
“Nah, kaan.” Wisya tertawa lagi menyetujui ucapan Izzi.
“Bisa diam nggak sih? Berisik.” Alana memijat keningnya yang berdenyut. “Perjodohan itu … memang benar.”
“Hah? Kamu diceritain sama dia?”
Alana menghela napas lelah. “Nares kan sudah cerita sejak dulu, kalau usia 24 dia belum punya pacar juga, dia kan dijodohkan.”
“Ah iya, mampus.” Wisya lagi-lagi berteriak panik.
“Tunggu, tunggu.” Sahda menginterupsi. “Kalian bukannya udah pacar ya?”
“Pacaran apaan, mereka itu Cuma deket doing.” Syena ikut meletuk. “Padahal intesitas pertemuannya ngalah-ngalahin orang pacaran,” cibirnya.
Satria meringis, malu karena merasa tersindir. “Aku memang nggak ada niat buat ngajak Nares pacaran, tapi mau langsung ajak nikah.”
“Kalau gitu selamat, kamu terlambat.” Alana tertawa pelan. Sedikit mengejek.
__ADS_1
....
❤❤❤