
Sudah dua minggu Nares dan Dinda tidak bertegur sapa. Saling mendiamkan juga saling tidak peduli. Dan keadaan di divisi mereka semakin canggung kala Beni juga ikut-ikut tidak menegur Dinda dan Nares. Sejak hari itu mereka tidak berinteraksi sedikit pun. Untuk urusan pekerjaan pun mereka menggunakan penghubung dan hal itu sangat tidak membuat nyaman.
Ayu, selaku atasan mereka pun geram dibuatnya. Ia sempat memanggil dan menegur mereka agar tidak membawa urusan pribadi ke dalam urusan kantor. Mereka mengiyakan tapi tidak melaksanakan. Tidak ada yang tahu pasti apa permasalahan mereka, selain Nares yang sebelumnya selalu mencegah Beni mendekati Dinda. Jadi orang-orang kantor berpikir bahwa mungkin masalah di antara mereka adalah karena terlibat cinta segitiga.
Nares tahu apa yang teman-teman kantornya gosipkan tentang dirinya, Dinda dan Beni, tapi memilih diam saja dan tidak berkeinginan untuk mengklarifikasi hal itu. Saat ini ia sedang malas menempatkan dua mana itu di dalam otaknya.
Ai yai yai
I’m your little butterfly
Green, Black, an Blue
Make the colors in the sky
Nares terlonjak mendengar lagu tersebut yang terdengar tiba-tiba dengan keras. Kepalanya mendongak, celingak-celinguk mencari sumber suara.
Clarisa, teman yang meja kerja bersebelahan dengan Nares, tertawa. “Bukannya terdengar dari tempatmu ya, Res?”
Ai yai yai
I’m your little butterfly
Green, Black, an Blue
Make the colors in the sky
__ADS_1
Lantas Nares menolehkan kepalanya ke laci mejanya. Setelah didengar-dengar suara nyanyian yang biasa ada di ponsel mainan anak-anak itu memang berasal dari laci mejanya. Tapi seingatnya ia tidak pernah menyimpan ponsel mainan ke dalam lacinya.
Ai yai yai
I’m your little butterfly
Green, Black, an Blue
Make the colors in the sky
“Argt, sialan!” umpatnya saat mendapati musik itu adalah nada notifikasi dari ponselnya. Dalam hati dia memaki siapapun yang mengganti nada notifikasinya menjadi seperti itu. Volumenya begitu keras terdengar memekakan telinga.
Ai yai yai
I’m your little butterfly
Green, Black, an Blue
Make the colors in the sky
“Bener kan punya kamu?”
“Nggak nyangka ternyata kamu sukanya lagu kayak gitu ya, Res?”
“Ai yai yai I’m.”
__ADS_1
Beberapa teman Nares yang lain menggodanya lengkap dengan tawa geli. Padahal suasana hatinya sedang kurang baik, eh malah dapat godaan dari tema-teman kantor.
Nares memutar bola matanya malas, ia memilih membuka notifikasi itu yang ternyata sebuah pesan di whatsaap dari Satria.
Satria: Nares!
Satria: Ada acara nanti malam?
Satria: Aku mau ajak kamu dinner lagi.
Dengan cekatan Nares membalas tanpa berpikir panjang.
Nares: Maaf ya, aku enggak bisa. Twinssa udah janjian buat makan di luar nanti malam.
Satria: Ah, begitu ya. Bagaimana kalau malam minggu?
Untuk kali ini Nares berpikir, bingung antara harus mengiyakan atau kembali menolak. Sudah terlampau sering Nares mendapat ajakan makan malam oleh Satria tapi lebih banyak ia tolak dengan berbagai alasan, meski sebenarnya ia sangat ingin. Nares hanya tidak ingin Dinda semakin menganggapnya buruk. Tidak di pungkirinya bahwa ia telah menyayangi Dinda jauh sebelum ia tahu kalau Dinda adik Satria, meski acap kali bersikap ketus.
Satria: Nares?
Getaran di tangan menyadarakan Nares dari lamunan. Ragu-ragu Nares membalas.
Nares: Iya, bisa kok.
Satria: Ok, aku jemput asar ya, sekalian nonton.
__ADS_1
Nares tersenyum sambil membalas mengiakan. Seharusnya ia tidak menyia-nyiakan kesempatan setelah penantiannya yang panjang. Lagi pula siapa yang lain kali Satria akan mengajaknya lagi atau tidak. Jadi Nares harus mengambil kesempatan sebelum semua terlambat dan membuatnya menyesal.
...