Romantisnya Pacarku

Romantisnya Pacarku
Gagal


__ADS_3

“Saya berniat melamar Nares menjadi istri saya.” Satria berusaha keras agar tidak menunduk karena terus-terusan ditatap tajam oleh papa Nares.


Papa Nares menaikkan sebelah alisnya. "Kamu bilang tadi kamu seorang polisi, pangkat apa?"


Aduh. Keluh Satria dalam hati. Papa Nares yang tidak langsung menanggapi penyataannya bikin Satria makin gugup saja. "Baru Iptu, Pak."


Papa Nares menganguk pelan. "Umur?"


"Dua puluh delapan."


Papa Nares mengangguk lagi. "Sudah matang ya," katanya lalu membisikan sesuatu pada mama Nares.


Satria berusaha keras tidak mengalihkan pandangannya. Biar bagaimanapun tidak sopan berbicara pada orang tua dengan mata berkeliling mengamati yang lain.


"Kedatanganmu ke sini tidak diketahui anak saya, benar?" Satria mengangguk kaku. "Apakah kamu juga tidak memberitahunya kalau kamu berniat serius?"


Satria mengelap tangan basahnya di celana dengan perlahan, lalu sedikit menunduk. "Sebenarnya saya ingin memberinya kejutan dengan melamarnya secara langsung pada Bapak beberapa minggu lalu, tapi harus tertunda karena adik saya sakit dan kesibukan di kantor. Kemudian saya memberitahu dia saat ulang tahunnya beberapa hari lalu, tapi ternyata terlambat."


"Terlambat bagaimana?"

__ADS_1


Wah, benar-benar. Apa maksud papa Nares. Bukannya mengatakan kalo Nares sudah dijodohkan, malah bertanya terus. "Nares bilang, dia sudah dijodohkan."


Tiba-tiba papa Nares tertawa membuat Satria heran. Dan menghadirkan secercah harapan, semoga Nares hanya berbohong perihal perjodohan itu.


"Sudah saya duga. Kamu tahu Nares sudah dijodohkan."


Satria yang tadinya hendak tersenyum langsung kembali menelan kekecewaan. Harapannya tak berguna.


"Terus kenapa kamu masih nekat melamar Nares pada saya?"


Satria langsung kembali sigap. "Saya pikir saya belum boleh menyerah begitu saja. Dan tidak ada salahnya mencoba. Setidaknya Bapak sudah tahu niat baik saya." Suara Satria memelan. Dia sedikit menunduk. Melihat minum yang telah disuguhkan untuknya membuat tenggorokannya semakin kering.


Satria tersenyum kikuk. Ditegur begitu kan malah buat dia semakin malu. Astaga Calon Mertuanya ini.


Iya, iya. Bakal Calon.


"Karena kamu tahu kalau Nares sudah dijodohkan, berarti kamu juga sudah tahu jawaban atas lamaranmu, kan?"


Satria meletakkan gelasnya perlahan. Ia menelan ludahnya susah payah sembari menganggu pelan. Ia benar-benar sudah tidak punya harapan untuk memeliki Nares secara utuh.

__ADS_1


Tiba-tiba suara sapaan beberapa gadis terdengar. Twinssa, minus Nares, datang. Sama-sama terkejut ketika melihat satu sama lain.


"Loh Satria ngapain di sini?" celetuk Wisya setelah mencium punggung tangan papa Nares.


"Kalian kenal dia?"


"Jelas kenal dong, Pa," sahut Izzi juga mencium punggung tangan Papa Nares.


"Ini laki-laki yang suka nyogok kami dengan makanan biar dia kami izinkan bawa Nares jalan."


Izzi, Syena, Sahda, Alana, Tian dan Satria menipiskan bibir. Masing-masing dalam hati mereka menggerutui Wisya yang bermulut ember.


Karena ucapan ceroboh Wisya, akhirnya Satria mendapat lirikan tajam dari papa Nares. "Sebentar lagi calon suami Nares berserta keluarganya akan datang. Bagaimana kalo kamu ikut menyaksikan pertunangan wanita yang baru saja kamu lamar?"


Benar-benar. Licik sekali papa Nares ini. Sanggupkan ia melihat Nares bertunangan dengan orang lain?


"Bagaimana? Mau kan? Jarang-jarang kan ada momen seperti ini?"


Satria berniat menolak. Tapi tatapan tajam papa Nares membuat kata-kata penolakan ikut tersangkut di tenggorokannya.

__ADS_1


"Iya, Pak. Boleh."


__ADS_2