Romantisnya Pacarku

Romantisnya Pacarku
Berbicara dari hati ke hati


__ADS_3

Randi sekeluarga dan tamu-tamu yang lain sudah pulang, bahkan beberapa keluarga Nares juga sudah pulang.


Tinggal Twinssa minus Alana, entah ke mana lagi gadis itu pergi, kebiasaan, padahal tak punya pacar juga.


Dan tentu saja Satria, yang saat ini berhadapan dengan Nares. Hanya berdua di ruang tamu.


Sudah lewat sepuluh menit berhadapan, tapi keduanya masih belum bersuara juga. Satria malah terus-terusan minum. Entah sudah berapa gelas dia habiskan. Nanti pasti dia tidak bisa tidur tenang karena harus bolak-balik kamar mandi.


"Katanya, Dinda sakit ya? Sakit apa?"


"Kanker darah," jawab Satria lesuh.


Nares terperanjat. "Ya Allah, sejak kapan? Selama ini dia keliatan baik-baik saja."

__ADS_1


"Sudah lama, sebelum dia ke kota ini. Dia tidak pernah bilang. Datangnya ke kota ini menyusulku itu adalah upayanya melarikan diri. Dia tahu aku jarang di rumah. Jadi dia bisa bebas. Selama ini dia selalu sukses berpura-pura baik-baik saja."


"Makanya itu kemarin kamu dan dia menghilang?"


"Oh, awalnya karena ada kasus pembunuhan yang tidak bisa membuat pihak kepolisian bersantai, jadinya aku sama sekali tak bisa berurusan dengan hal lain. Saat sedang pusing-pusingnya, tiba-tiba dapat kabar dari Om Gusti kalo Dinda masuk rumah sakit. Habis itu yaa begitulah."


Nares menjatuhkan tubuhnya disandaran sofa. Matanya mengamati hewan-hewan kecil yang mengitari lampu di langit-langit ruangan. "Sekarang keadaan Dinda bagaimana?"


"Sudah lebih baik dari beberapa hari lalu."


"Dinda titip salam untuk kamu. Besar harapan dia bisa jadi adik iparmu." Satria tertawa pelan mengingat Dinda yang terdengar antusias ketika ia beritahu akan melamar Nares.


"Lalu kita ini bagaimana?"

__ADS_1


"Bagaimana apanya?"


Nares menendang meja, cukup membuat benda-benda di atas meja bergoyang. Ia agak kesal ditanya balik.


Satria tertawa kecil. "Aku sudah mengobrol sedikit dengan ayahmu tadi, minggu depan kuusahakan orang tuaku datang." Satria menegakkan tubuhnya, menghadap Nares dengan raut lebih serius. "Tentang pernikahan kita, apa kamu keberatan kalau kita tidak buat pesta besar? Hanya mengundang kerabat dan teman-teman dekat. Karena kalau pesta besar, pasti banyak yang harus dipersiapkan, dan butuh waktu lebih lama juga. Aku ... ingin hubungan kita resmi dengan cepat."


Diam-diam wajah Nares memerah. Ia tersipu dengan ucapan Satria yang mengatakan resmi lebih cepat. Sekuat tenaga ia menahan bibirnya yang hendak tersenyum lebar. "Terserah saja," ucap Nares sambil membuang wajahnya ke samping kanan, berusaha agar tidak dilihat Satria. Ia malu.


Namun, Satria mengartikan lain. Cepat cepat ia maju sedikit. "Kamu marah ya? Maaf, aku akan buat sesuai mau kamu. Iya, namanya pernikahan hanya sekali seumur hidup, harus harus buat yang meriah."


"Heeh," Nares bangkit cepat menghadap Satria. "Aku nggak apa-apa kok, serius, aku nggak apa-apa." Nares menunduk sedikit lalu melanjutkan, "Bukannya lebih cepat lebih baik? Toh Dinda juga dalam keadaan kurang sehat. Jadi ya ... sederhana saja." Nares mengucapkannya dengan malu-malu juga.


Sebenarnya, Nares malah berharap Pernikahan mereka dalam sebulan ini. Ia sudah tidak sabar untuk hidup dan tinggal bersama Satria. Dan supaya pemikiran-pemikiran mesum di otaknya segera bisa terealisasi.

__ADS_1


"Ah, maksudku supaya bisa terlupakan," runtuk Nares tanpa sadar, membuat Satria bertanya tak paham.


__ADS_2