Romantisnya Pacarku

Romantisnya Pacarku
Perjodohan


__ADS_3

Jam makan siang, Nares sudah ada di rumah orang tuanya. Dan saat ini Nares sedang berhadapan dengan mereka. Sepuluh menit berlalu, di sekitar meja makan itu hanya dentingan piring bertemu sendok yang terdengar. Semuanya tampak fokus dengan makanan masing-masing.


Mungkin mereka sedang kelaparan.


“Ehem.”


Nares menengok malas ke arah papanya. Batuk pura-pura andalan papanya sudah keluar, tanda akan ada suatu hal yang ini di sampaikan.


Ah, ini pasti masalah pacar lagi. Decak Nares dalam hatinya.


“Bagaimana, Nares? Sudah punya pacar?”


Untung Nares sudah siap-siap, jadi dia tidak perlu kesedak makanannya. “Kenapa sih kalau belum punya pacar?” protesnya kesal.


Nadia, kakak Nares, bergerak memajukan kepalanya mendekati Nares, kemudian berbisik, “Kan kalo belum punya pacar bakal dijodohin. Lupa?”


Nares mendelik. “Memangnya Kakak sendiri sudah punya pacar?”

__ADS_1


Nadia tertawa pelan, mengejek Nares. “Sudah doong!” pamernya bangga.


“Karena Nadia sudah punya pacar, jadi kamu yang akan dijodohkan.”


“Tidak ada!”


“Ingat perjanjian, Nares.”


“Mamaaa,” rengek Nares, tapi mamanya seakan tidak mendengar suaranya barang sedikit pun. Wanita yang telah melahirkannya itu sibuk menyuapi sang belahan jiwa dengan buah.


“Kalau ngomong itu jangan sembarangan,” ujar Mama galak sambil berkacak pinggang lalu mengajak suaminya pergi. “Beresin!”


Nares mendelik tajam pada Nadia yang terkikik melihatnya dimarahi oleh Mama dan Papa. “Beresin!” kata Nares pada Nadia, meniru gaya sang Mama ketika memerintah. Padahal yang disuruh mama adalah Nares, tapi dia malah balik menyuruh kakaknya.


Nares segera berlari menyusul mama dan papanya di dalam kamar. Tanpa mengetuk, Nares membuka pintu dengan kasar yang kemudian ia sesali sendiri.


Orang tuanya sedang berciuman mesra dengan tangan menjelajah ke mana-mana.

__ADS_1


Nares berdecak melihat kelakuan orang tuanya. Tahu ada orang yang masuk, tapi tidak juga menghentikan kegiatan mereka. Malah gerakan mereka makin agresif.


Nares mengalihkan tatapannya, tangannya menggedor pintu agar kedua orang tuanya berhenti. Tapi sang Mama malah mengeluarkan erangan yang menggelikan di telinga Nares.


“Nggak ingat umur dan waktu sih, ih dasar.” Kesal Nares yang dihadiahi oleh sang mama dengan acungan jari tengah. Dan mau tak mau Nares pun segera keluar dari kamar orang tuanya dengan menutup pintu kuat-kuat.


Nares berjalan tergesa kembali ke ruang makan untuk mengambil minum. Wajahnya merah padam, antara menahan malu atau kesal.


“Dapat tontonan 21++ ya?” goda Nadia. “Kebiasaan nerobos kamar orang tuh dikurangi atau malah dihilangkan seklaian. Kayak nggak tahu aja gimana kelakuan mama papa kalau udah berduaan.” Tawa Nadia makin menjadi ketika hidung Nares kemasukan air akibat minum berdiri dan terlalu terburu-buru.


Nares duduk dan menelungkupkan kepalanya di atas meja makan, berusaha menyembunyikan wajah karena ia tak tahan untuk menangis. Bukan karena hidungnya yang kemasukan air, tapi tentang perjodohannya.


Kalau ia dijodohkan berarti impiannya untuk menikah dengan Satria sudah tidak bisa ia wujudkan. ia sudah harus mengubur dalam-dalam angan-angannya itu. jangankan untuk menikah, dapat status pacar Satria saja dia tidak bisa. Bisa saja sih, nanti kalaupun sudah menikah Nares bisa saja menjadikan Satria sebagai selingkuhan, kekasih gelapnya.


Bahu Nares bergetar, ia menertawakan pikirannya yang sungguh miris. Ia lupa kalau kini Satria sudah menghilang, pergi tanpa pamit padanya. Harusnya itu cukup membuat Nares tahu bahwa Satria tidak mau menjadikannya sebagai kandidat istri.


...

__ADS_1


__ADS_2