
Minggu pagi pukul 06.00 Nares sudah siap di tempat ia janjian dengan Satria. Sambil menunggu ia melakukan pemanasan singkat. Dulu, saat masih SMA, Nares rutin joging setidaknya seminggu sekali. Tapi begitu masuk dunia perkuliahan pagi di hari liburnya lebih banyak dihabiskan untuk tidur, dan sore harinya ia lebih memilih hang out atau sekedar nonton drama di rumah bersama teman-temannya. Dia memang jarak berolahraga tapi setidaknya ia naik turun tangga hampir setiap hari. Dan hari ini, hari pertama setelah nyaris setahun lamanya dia tidak joging lagi. Kalau bukan karena Satria yang mengajak, sudah pasti Nares akan menolak dan lebih memilih seru-seruan dengan teman-temannya di rumah. Atau paling tidak dia pulang ke rumah orang tuanya.
“Hei,” sapaan Satria melegakan perasaan Nares. “Sudah lama?”
Nares menggeleng, “baru lima belas menit kok.”
Satria meringis, “maaf, tadi agak kesingan.”
“Biasa saja, mungkin cuma aku yang kecepetan.” Nares tertawa. “Ayo mulai?”
Satria mengangguk dan mulai berlari menjajari langkah Nares yang kecil.
ὥὣὣ
__ADS_1
Satria berdecak tanpa Nares sadari. Gadis itu masih fokus berlari meski sudah setengah jam berlalu membuat Satria keki sendiri. Pasalnya niatnya mengajak Nares pagi ini bukan benar-benar ingin joging tapi hanya sekedar bertemu dan menghabiskan waktu bersama dengan mengobrol seperti biasa. Tapi nampaknya Nares benar-benar mengira mereka akan joging terus-terusan tanpa ada obrolan yang menyelingi.
Satria berhenti, memilih berjalan di belakang Nares meski tertinggal lumayan jauh. Niatnya hari ini mau absen olahraga, ajak Nares jalan-jalan pagi, jalan ya bukan lari karena ia sudah nyaris bosan dengan olahraga lari setiap hari. Tapi jari-jari kemarin sedang tidak tidak mengikuti perintah otaknya dan berakhir mengajak Nares joging. Joging beneran kan jadinya.
Satria mendengkus kesal, melihat Nares yang tidak terpengaruh dengan dirinya yang berhenti lebih dulu. Tidakkah wanita itu memikirkan dirinya, yang mungkin saja sedang kelelahan lalu asmanya kambuh karena terlalu lama berlari. Tapi lihatlah gadis itu, meski dengan napas memburu dan keringat memenuhi tubuh, terlebih lagi tanpa dia disampingnya, gadis itu tak juga berhenti atau sekedar menoleh.
Cukup lama sampai gadis itu berhenti berlari, membuat jarak antara mereka cukup jauh. Dari kejauhan Nares terlihat mengatur pernapasannya, berdiri dibawah pohon sambil mengipasi tubuhnya menggunakan tangan. Dia menggeleng-geleng menatap Satria dari kejauhan.
Nares tertawa. “Kamu? Lari segitu doing capek? Punya asma?” ucapannya terdengar mengejek. “Ya kali, polisi punya asma.”
“Kenapa?” tanya Satria heran. “Memangnya kalau punya asma enggak boleh jadi polisi?” tanyanya berniat menggoda.
Nares mengangangkat bahunya sedikit, “entah ya, kurang tahu juga. Tapi coba pikir deh, kalau saja seorang polisi punya asma, lagi ngejar penjahat tiba-tiba asmanya kambuh, mau tetap ngejar enggak kuat, mau berhenti dulu penjahatnya enggak jadi ketangkap.” Jelasnnya.
__ADS_1
Satria tertawa, merasa lucu dengan gaya bicara Nares. “Tapi setidaknya berhenti dong, jangan sampai aku ada apa-apa.”
Nares balas tertawa, “buktinya enggak ada, kan? Tadi sebenarnya mau berhenti, cuma rasanya enggak pas kalau kurang dari tiga puluh menit.” Satria menaikan sebelah alisnya meminta penjelasan lebih. “Jadi jaman SMA dulu rutin joging setidaknya seminggu sekali, dan minimal tiga puluh menit sekali lari. Lagian saat kamu berhenti tadi sisa tujuh menit jadi dilanjutkan saja larinya sampai tiga puluh menit.”
Mata Satria sedikit melebar, “kamu hitung?” Nares tertawa dan mengangguk. Sedang Satria menggeleng, tidak menyangka Nares ternyata termasuk cewek yang kuat berlari. Padahal Satria pikir Nares bukan tipe orang yang suka olahraga jika dilihat dari jenis kulit putih Nares yang sensitive sehingga mudah memerah. Tipe-tipe anak rumahan yang manja tapi ternyata tidak.
“Mau langsung pulang?”
“Jangan, lah!” sentak Satria tiba-tiba membuat Nares terkejut. Satria lantas membalikan badan dan menggaruk kepala, salah tingkah. Malu dengan sikapnya.
Di luar dugaan Nares malah tertawa. “Kalau ayo cari makan!” ajak Nares tiba-tiba meraih tangan Satria dan menggandengnya. Tapi baru selangkah Satria sudah menyentak tangannya dengan kasar. “Oh, maaf!” kata Nares menutupi keterkejutannya. Lalu berjalan lebih dulu dengan mata yang mulai memerah, tak kuasa menahan penolakan dari Satria.
...
__ADS_1