
Nares kembali melirik Dinda yang sedang mengobrol dengan Clarisa. Nares masih ragu akan ucapan Satria tempo hari yang mengatakan Dinda tidak membencinya. Karena tidak ada tanda-tanda gadis itu akan menyapanya walau di depan mata sekalipun. Ah, Nares jadi kesal sendiri, masa harus dia yang menyapa lebih dulu, kan gengsi.
“Iya, makan itu gengsi,” ucap Nares pada dirinya sendiri.
Nares mendesah pelan. Waktu pulang telah tiba, dan pekerjaannya pun telah selsai, tapi Nares masih belum ingin pulang. Ia berpikiran untuk lembur tapi semua pekerjaannya sudah beres. Jadi ia hanya bersandar di kursi sambil menutup mata. Niat hati hanya menutup mata tapi apalah daya jika ketiduran.
Nares bergumam pelan saat merasa ada yang memanggil-manggil namanya. Lalu tersenyum lebar saat menyadarai di depannya ada Satria yang juga sedang tersenyum. Tapi senyum Nares tak bertahan lama karena ekspresi Satria berubah datar. Tiba-tiba Satria memukul dahinya membuat Nares mengaduh.
“NARES!”
Nares terlonjak dari kursinya, “Iya, iya, APA?” Matanya membola ketika sadar kalau Satria tadi hanya ada dimimpinya.
“Lanjutkan gih, mimpinya!”
Nares menoleh ke samping kirinya di mana suara ketus itu berasal. “Loh Dinda ngapain di sini?” tanyanya heran.
Dinda mendengkus, “harusnya aku pulang saja tadi ya, enggak usah nungguin kamu di sini.”
Nares menggangguk. “Iya, tidak ada yang suruh juga kan? … akh,” Nares melotot pada Dinda dan memegang lengannya, “sakit ****!”
__ADS_1
Dinda membalas tatapan Nares tak kalah sengit. “Lihat jam sono! Sudah jam setengah Sembilan, mau tidur di sini sampai besok?” omelnya.
Nares tertawa pelan.
“Ayo pulang!” seru Dinda sambil berlalu.
***
“Makasih,” ucap Nares dan Dinda bersamaan pada pramusaji sebelum menyantap pesanan mereka.
Saat ini keduanya tengah berada di kafe, mengisi perut yang sudah berdemo. Keduanya sedang menunggu Satria yang terpaksa Dinda hubungi karena Nares tak membawa mobil. Mereka sempat berdebat karena Nares bersikeras pulang lebih dulu dengan taksi dan membiarkan Dinda menunggu sendiri. Dinda yang kesal memaki Nares dan menyumpahi wanita itu kehilangan dompetnya. Dan sepertinya Dinda punya indra keenam karena dompet Nares tidak ada di tasnya, entah hilang atau ketinggalan di rumah, Nares juga tidak sadar, karena sejak pagi tadi ia tidak memegang dompetnya.
“Hah?” Dinda mendongak heran, “marah apa?” tanyanya cuek.
Nares tertawa pelan, “jadi bagaimana? Mau dibaik-baikin atau diketusin aja?” tanyanya sambil memainkan alis kirinya naik turun.
Dinda mendengkus, “orang gila mana yang suka di ketusin?”
“Oh, jadi kamu orang gila ya? Baru tahu.”
__ADS_1
Dinda mendengkus sambil memanyunkan bibir.
“Sekarang jadi kamu yang ketus ya?” Nares tertawa.
Dinda menatap kesal, lalu dengan asal menedang kaki Nares. Sayangnya bukan Nares yang kesakitan karena kakinya malah menabrak kursi Nares. Hal itu membuat tawa Nares semakin menjadi.
“Ah, Bang Sat, lama nih,” keluh Dinda setelah setengah jam menunggu. Ia dan Nares sudah lelah dan tampak mengantuk. “Hampir jam setengah sepuluh loh. Mana sih?”
Lain Dinda yang menggerutu snediri, lain Nares yang sudah tak begitu fokus. Matanya sedikit lagi akan tertutup.
Dinda menggaruk alisnya yang terasa gatal melihat Nares yang … “satu dua ti—” Dinda hendak tertawa tapi tidak jadi. Ia mengira kepala Nares akan jatuh membenturmeja, tapi Satria datang tepat waktu dan menahan kepala Nares.
“Ciee, pangeran,” cibir Dinda geli.
Satria memberi kode agar Dinda tidak berisik. Laki-laki itu juga memerintahkan agar Dinda segara membayar makanan mereka. Sementara itu Satria berusaha menggendong Nares tanpa membaut gadis itu bangun.
“Wajah tidurmu juga nggak kalah cantik ya,” puji Satria sembari menggendong Nares keluar dan membawanya masuk ke dalam mobilnya untuk diantarkan pulang. Tentu saja dengan bantuan Dinda yang membukakan pintu.
__ADS_1
...