Romantisnya Pacarku

Romantisnya Pacarku
Kejutan Tak Terduga


__ADS_3


Nares sudah kembali ke rumah Twinssa dari dua hari yang lalu. Kabar perjodohannya masih ia simpan sendiri, dia belum mau bagi-bagi. Ia belum siap, belum menerima kenyataan itu. rasanya sulit.


Memikirkan bahwa tiga hari lagi ada pertemuan keluarga antara keluarganya dengan keluarga laki-laki yang akan dijodohkannya bikin kepala Nares cenat cenut. Ia masih tidak habis pikir dengan kedua orang tuanya, zamannya kan bukan zaman Siti Nurbaya yang masih dijodoh-jodohkan.


Padahal ia baru jomlo selama 23 tahun. Seusia itu kan masih muda, belum jadi perawan tua. Untuk apa pula perjodohan itu.


Belum lagi memikirkan Satria yang belum muncul batang hidungnya. Nares masih belum terima Satria pergi begitu saja. Datang kan pakai permisi, ya kalau mau pergi juga harus pamit dong.


“Aduh, Pak Polisiku yang ganteng, kamu ke mana, di mana, sama siapa, sedang apa?” Saat ini Nares sedang berbaring menelungkup di tempat tidur. Suaranya teredam oleh bantal yang membungkus wajahnya. “Kalau ada kesempatan untuk kita dekat lagi  kayaknya aku harus agresif, biar kamu nggak lari lagi. Eh tapi kalau tambah lari gimana huwaaaa.”


Nares menghentak-hentakkan kakinya di atas ranjang. Lalu berguling-guling dan membungkus tubuhnya dengan selimut.


Ia kesal, gemas, marah, sedih, dan entah apalagi yang ia rasakan. Campur aduk seperti sampah sisa-sisa makanan yang dicampur, bikin mual.


Yang lebih mengesalkan lagi, teman-temannya seakan masa bodoh dengan tingkah lakunya yang tidak biasa. Teman-temannya cuek saja melihat dirinya yang kadang terlihat uring-uringan.


Dan sekarang sejak sore tadi tidak keluar kamar pun tidak ada yang mencarinya, mengingatkan makan atau sekadar basa-basi menanyakan sedang sibuk apa. Tidak ada sama sekali.


“Memang teman-teman kampr*t. Nyari kalo pas butuh doing.”


Nares ganti posisi menjadi duduk. Samar-samar ia mendengar suara dari perutnya. Lapar karena sejak sore ia belum makan apa-apa. Ingin keluar, tapi tak mau bertemu teman-temannya.

__ADS_1


Teman-temannya tak lagi perhatian seperti dulu.


“Dulu sebelum dekat dengan Satria, mata merah sedikit, bengkak sedikit pada heboh, kenapa-kenapa, ada apa. Sekarang? Cuih.”


Nares meremas-remas bantal gulingnya kesal.


Lalu tak lama ia terdiam, kemudian menghela napas. Merasa bersalah karena sudah kesal pada teman-temannya, padahal mereka tidak ada salah apa-apa padanya. Hanya dirinya saja yang akhir-akhirnya sensitif.


Ting!


Nares melirik jam digital di nakas samping ranjangnya. Tidak terasa hari sudah berganti. Tapi masih terdengar suara aktivitas di luar kamarnya. Teman-temannya belum tidur.


“Sedang apalah mereka itu? Bergosip kok nggak habis-habis.” Nares berdecak dan menggeleng pelan.


Itu suara Alana, berteriak?


“Aku bilang jangan ya, nggak usah!”


Mereka sedang bertengkar kah? Nares mengerutkan dahi.


“Nares!”


Sebuah teriakan dari depan kamarnya membuat Nares tersentak. Pasalnya ini sudah tengah malam, mereka malah adu mulut dengan suara nyaring. Bagaimana kalau ada yang terganggu? Nares berdecak kesal, ia berjalan menuju pintu hendak membukakan dan memarahi mereka berdua.

__ADS_1


“Jangan Wisya!”


“Biar Nares tahu.”


“Nggak usah. Nares sudah tidur.”


“Bodo amat, pokoknya dia harus tahu.”


“Kubilang jangan ya jangan! Nggak usah.”


Gerakan Nares yang hendak menyentuh gagang pintu terhenti. Ada Alana dan Wisya di depan kamarnya yang sedang beradu mulut. Tidak biasanya dua gadis itu bertengkar. Dan nampaknya menyangkut dirinya.


“Kamu mau Nares berharap terus? Kayak orang bodoh, hah?”


Eh, apa ini? Nares diam, mengurungkan niatkan untuk membuka pintu. Ia ingin dengar kelanjutan pperseteruan itu.


“Nggak ada yang mau Nares kayak gitu.”


“Lalu kenapa kamu nggak mau kasih tahu?”


“Jangan teriak-teriak nanti Nares bangun.”


“Biar saja, biar dia tahu sekarang juga kalau Satria tuh sukanya sama kamu!”

__ADS_1


Deg.


__ADS_2