Romantisnya Pacarku

Romantisnya Pacarku
Harapan Palsu


__ADS_3

“Yuhuuu Satria minta nomor hapeku doong, yeah. Sungguh bahagia hati ini. Berbunga-bunga, hahaha.”


Sudah berapa lama sejak Nares masuk rumah dan berteriak kegirangan seperti itu? Ah sudah hampir tiga minggu berlalu sejak hari di mana Satria meminta nomor ponsel Nares dan berjanji akan segera menghubunginya. Tapi sampai detik ini tidak ada satu pun nomor asing yang menghubunginya. Satria melupakannya. Atau mungkin Satria tidak serius saat mengatakan akan menghubunginya.


Seminggu pertama Nares masih biasa, masih menunggu dengan perasaan berbunga. Di minggu kedua Nares mulai gelisah dan takut. Minggu ketiga Nares frustrasi sampai beberapa kali lupa makan. Rupanya ia terlalu berharap Satria akan menghubunginya. Berbagai pikiran negatif hadir lagi memenuhi kepalanya hingga membuat Nares merasa hampir gila.


Tidak. Ini tidak boleh terjadi lagi. Nares menggerang dalam hati. Cukup sekali hanya ada Satria di kepala, dan itu dulu, sekarang jangan lagi. Ia tidak mau kembali di kendalikan oleh pikirannya tentang Satria. Lama-lama dia bisa benar-benar gila.


“Satria kambing,” kata Nares tiba-tiba sambil membanting sendok makan diatas meja. Membuat teman-temannya terkejut melihat kemarahan Nares yang tiba-tiba. “Enggak ada bosan-bosannya masuk dipikiran orang lain. Enak sekali mempermainkan perasaan orang. Lihat saja nanti, kalau ketemu lagi, akan kutendang keras-keras tulang keringnya. Biar dia tahu rasa.”


“Yakin?” Alana muncul tiba-tiba di ruang makan membuat teman-temannya mendengkus. Memang kurang ajar gadis yang satu ini. Mbok Darmi sudah kembali ke rumah mereka barulah ia ikut sarapan di minggu pagi. Tampangnnya saat baru muncul pun sangat mengesalkan.


“Yakin, lah!” jawab Nares percaya diri.


“Janji dulu dong!” tantang Alana lagi.


“Iya, janji. Kalau ketemu lagi Satria bakal aku tendang kakinya.”


“Yang keras.”


“AKU JANJI KALAU KETEMU LAGI, SATRIA BAKAL KUTENDANG KAKINYA!”

__ADS_1


“Tendang kakinya yang keras, Buk. Bukan suaranya yang kerasin!” geram Alana karena Nares berteriak di samping telinganya.


“Oh iya, nanti kutendang yang keras,” ucap Nares akhirnya dengan suara nyaris berbisik sambil melanjutkan makannya.


“Mungkin Satria memang pacaran kali, Res, sama Dinda. Terus enggak mau hubungi kamu karena mikir kamu bakal rebut dia dari Dinda?” ucapan Sahda langsung membuat Nares melotot. Entah sejak kapan, Nares benci saat nama Satria di sandingkan Dinda. Cemburu ceritanya.


“Dinda yang mana sih? Yang kecil itu? Teman kantornya Nares?” tanya Izzi penasaran.


“Iya, yang itu. Tapi Dinda mah enggak kecil. Kecil itu Wisya.”


Jawaban Sahda membuat Wisya memberengut. “Makasih loh ya,” katanya ketus.


“Mau pergi dong, bareng Angga, ke workshop penulis ….”


“Ngapain sih tanya-tanya Alana?” sambar Nares cepat, memotong ucapan Alana. “Kalau mau bahas Alana, buat lapak sendiri sana. Sekarang fokus ke aku aja! Aku juga mau pergi tahu.” Setelah mengucapkan itu, Nares langsung berdiri meninggalkan ruang makan.


Selang beberapa menit kemudian, Nares berteriak lagi dari arah ruang tengah. “Aku mau pergi beneran tahu! Enggak ada yang mau tanyain apa?”


Sontak pertanyaan Nares itu membuat teman-temannya memutar bola mata dan mendengkus geli. Berhubung semuanya sudah selesai sarapan, mereka menemui Nares di ruang tengah.


“Loh Nares mau pergi kemana pagi-pagi?” tanya Izzi basa-basi dengan intonasi yang dibuat seantusias mungkin. Buat senang orang pagi-pagi mungkin bisa dapat pahala.

__ADS_1


“Mau cari gebetan baru!” jawabnya ketus lalu melenggang pergi.


Suasana hati Nares sejak tadi benar-benar tidak berubah. Malah mungkin semakin memburuk. Begitu ia keluar dari rumah tadi pagi, ia langsung memutuskan untuk datang ke rumah orang tuanya karena sebenarnya ia tidak punya tujuan. Ia hanya mengambil keputusan asal saat berkata ingin pergi. Ia kesal dengan Alana, dengan semuanya lebih tepatnya. Suka sekali buat hatinya panas.


Saat sampai di rumah orang tuanya, Nares langsung disuguhkan kalimat yang semakin membuat kesal. Bukannya menanyakan tentang kabarnya, orang tua Nares malah bertanya tentang apakah Nares sudah punya pacar atau belum. Benar-benar pertanyaan yang sangat sensitif bagi Nares saat ini. Dan yang lebih mengejutkan lagi, katanya, kalau sampai di hari ulang tahunnya yang ke dua puluh dua bulan depan, belum punya pacar, ia mau tidak mau harus menerima perjodohan yang orang tuanya buat.


“Huh, dasar gila!” umpat Nares saat teringat kembali kata-kata orang tuanya yang mengesalkan itu. Ia jadi menyesal pulang ke rumah orang tuanya tadi. Saat ini ia sedang berjalan tidak tentu arah di mall. Ia terlalu kesal sampai bingung harus apa dan kemana.


Setelah lebih dari satu berkeliling akhirnya Nares merasa lelah dan juga lapar. Ia pun memutuskan masuk ke restoran yang terlihat tidak begitu ramai. Rasanya malas kalau lihat orang makan sambil tertawa bareng pasangan atau temannya. Bikin iri saja.


“Argh, kenapa sih seharian ini orang-orang selalu bikin kesel?” geram Nares saat seseorang menabraknya dari belakang. “Hati-hati lah!”


“Maaf, mbak, maaf, saya tidak sengaja.”


Saat itu juga Nares ingin mengorek telinganya. Kenapa Satria masih ada juga di pikirannya sampai suara orang yang menabraknya itu terdengar seperti suara Satria. “Lain kali ….” Nares membalikkan badannya agar lebih sopan saat berbicara dengan orang lain. Tapi Nares ingin mengumpat sekali lagi saat itu juga. Pasalnya yang orang di depannya ini malah terlihat seperti Satria. Kenapa Satria begitu beracun dipikirannya?


“Nares, maaf!”


 


....

__ADS_1


__ADS_2