Romantisnya Pacarku

Romantisnya Pacarku
selesai


__ADS_3

bisa. Satria terlambat karena rasa keprimanusiaannya. Tapi masalahnya kenapa tidak memberi kabar? Malas bertanya lagi, Nares menginjak kaki Satria hingga laki-laki itu mengaduh.


Nares berdiri dan menjauh. Walaupun bercakap serius, tapi rasanya tubuh Satria makin dekat padanya. Jantungnya jadi dag dig dug.


Melihat Nares yang salah tingkah, Satria tertawa dan ikut berdiri. “Kamu sudah mandi, kan? Aku belum, mau temani?”


Nares melotot, wajahnya memerah. Untung saja posisi ia berdiri membelakangi Satria. Kalau berhadapan pasti ia bisa lebih malu dari ini.embayar masa-masa saat aku belum bisa bebas memelukmu dulu. Bahkan hanya sekedar memegang tanganmu saja, aku tidak berani.”


Nares tersenyum tipis, memperhatikan kedua tangannya yang digenggam. Iya, selama mereka dekat, tak pernah sekalipun Satria sengaja menyentuhnya. Laki-laki yang telah menjadi suaminya ini seperti berusaha menjaga kehormatannya sebagai wanita sampai akhirnya mereka sah.

__ADS_1


“Jadi, … kenapa kamu terlambat?” Nares menatap Satria tajam. Ketika Satria membuka mulut akan menjawab, ia kembali bersuara, “Jangan bilang kalau kamu sempat merasa ragu.”


Satria tertawa. “Nggaklah. Kalau ragu, aku nggak akan nekat melamarmu saat itu, padahal aku tahu kamu sudah dijodohkan.” Satria menatap Nares intens, membuka lembaran kenangan saat diMau ngapain sih dekat-dekat?” wajah Nares yang suka memerah, semakin memerah sampai di telinga. Rasa panas seketika menjalar dengan buas.


Satria terkekeh. Ia juga malu sekaligus gugup, tapi kalau bukan dia yang memulai ya siapa lagi. Tak mungkin ia menunggu Nares yang memulai. Karena tak jarang wanita yang merasa harga dirinya turun ketika memulai lebih dulu. Atau mungkin juga takut jika dicap agresif.“ diam memeluknya hingga lima menit berlalu.


Gerah, Nares melepaskan pelukan Satria. “Meluk sih meluk, tapi jangan kelamaan juga dong,” sungutnya.


Semenit dua menit, Nares masih tahan dalam pelukan Satria. Ia pikir Satria akan mengatakan atau melakukan sesuatu. Tapi ternyata, tidak. Satria hanyarinya nekat menemui ayah Nares kala itu. “Aku tidak menyangka hari itu adalah hari di mana pelamaran resmi, hampir saja telat. Dan aku masih ingat gurat bahagia di wajahmu saat perjodohan kalian batal.”

__ADS_1


Bibir Nares mengerucut. “Aku nggak bahagia tuh, biasa aja.” Tangannya bergerak memukul pelan suaminya. “Alihkan pembicaraan, kan?”


Satria menghela napas pelan. “Tadi mobilku ditabrak. Ternyata yang nabrak sedang panik karena dia bawa istrinya yang mau melahirkan. Panik dan kasian melihat istrinya kesakitan, fokusnya jadi terbelah.”


Tatapan Nares mulai melunak. “Terus gimana jadinya?”


“Dia janji akan tanggung jawab, dan minta tolong juga buat antar mereka ke rumah sakit. Aku kasian lihat dia yang gemetar dan mau menangis. Jadi ya gitu, telat jadinya.”


Nares bingung. Sebenarnya dia ingin kesal, ingin marah, ingin ngambek, tapi kalau kejadiannya tenyata seperti itu, jelas ia tak

__ADS_1


Yeah, tak bisa Satria pungkiri bahwa banyak pria yang tidak menyukai wanita agresif, termasuk dirinya. Namun, tak masalah baginya jika wanita yang bersikap agresif padanya adalah Nares. Wanita cantik yang baru saja ia nikahi.


Sekarang sudah sah, jadi Satria tak perlu takut ataupun sungkan untuk menyentuh atau memeluk Nares. Ia sudah berhak. Sekali lagi Satria


__ADS_2