
“Suram
amat sih tu muka.”
Mendengar
suara Danis, Satria semakin membenamkan wajahnya di sudut sofa. Dia sedang
galau. Pertemuannya dengan Nares yang tiba-tiba sungguh di luar dugaan. Ia
tidak menyangka akan bertemu Nares di sana. Padahal, niatnya pergi ke restoran
itu karena ingin melarikan diri dari Dinda yang memaksanya menemani belanja.
“Lagi
galau, ya?” Danis menekan kepala Satria lebih dalam ke sofa membuat pria itu
menggeram. Danis tertawa. “Hubungi Nares sana! Ajak jalan. Nomornya tidak kamu
hapus, kan?”
…
“Bukannya
kasusmu sudah selesai ya? Jadi tunggu apa lagi? Mau tunggu sampai Dinda datang
merengek ajak kamu jalan lagi?” kata Danis lagi setelah beberapa saat Satria
masih diam saja.
“Wah!”
Danis
berdecak. Baru disebut namanya satu kali saja langsung muncul orangnya.
“Bagus
banget main tinggal-tinggal gitu aja.” Omel Dinda pada Satria begitu sampai
dihadapan mereka. Dinda duduk di samping Satria yang masih betah tengkurap di
sofa. “Abang!” rengeknya seraya berusaha mengguncang tubuh Satria namun tidak
bereaksi apa-apa. “Woi, Bang Sat!” teriak Dinda asal.
“Dindaa
….” geram Satria lalu bangkit perlahan.
“Huwaa,
Abang!” teriak Dinda saat kepalanya ditarik tiba-tiba oleh Satria untuk dijepit
di ketiaknya. “Ih Abang, lepasin dong!” pinta Dinda dengan suara sedikit
teredam.
“Enggak
akan sampe kamu bilang maaf.”
“Buat
apa? Dinda enggak salah apa-apa juga.”
“Ada.”
“Enggak
ada. Ih lepasin dong, Bang Sat!”
“Itu,
itu. Bilang gitu lagi, enggak bakal Abang lepasin.”
“Iya,
__ADS_1
iya, maaf. Enggak lagi deh nyebut Abang dengan Bang Sat. Janji,”
“Tidak
usah janji-janji segala kalau ujung-ujungnya masih akan diingkari lagi.”
“Dinda
bukan abang ya, yang suka ingkar janji. Tadi aja kalau tidak dipaksa, janji
bulan lalu itu pasti enggak bakal ….”
“Nah.”
Satria memotong ucapan Dinda. “Satu lagi kesalahanmu hari ini. Gara-gara kamu
maksa buat nepatin hari ini, Abang jadi ketemu sama Nares.”
“Hah?”
“Kamu
ketemu Nares, Sat? Di mana?” Tanya Danis yang sejak tadi hanya diam mendengarkan
seraya bermain ponsel.
Perlahan
Satria melepaskan Dinda, dan ekspresinya kembali kecut. “Tadi di mall, pas
melarikan diri dari Dinda.”
“Salah
sendiri melarikan diri, coba enggak.”
“Mana
dianya jutek banget lagi,” lanjut Satria mengabaikan ucapan Dinda.
“Siapa
suka jutek sama Abang itu, mending
naksir sama Nares teman kantorku, walau namanya sama, dijamin kelakuan sama
sifatnya beda. Nares temanku itu udah cantik, baik, perhatian, lembut lagi
orangnya. Kak Danis saja sudah mulai naksir, tanya-tanya terus lagi.”
Satria
melotot ke Danis, sedang Danis melotot ke Dinda.
“Mau
nikung kamu?” tanya Satria dingin pada Danis.
Danis
tertawa hambar. “Enggak lah, masa nikung sodara sendiri.”
“Loh,
kok Bang Satria yang di tikung? Harusnya kan Kak Danis.”
Danis
menghela napas. “Duh Dindaku sayang, Nares teman kantormu dengan Nares yang
ditemui Satria di mall tadi yang katanya dia suka itu adalah orang yang sama.”
“Kalau
Kak Danis tahu Bang Satria suka sama Nares, kenapa Kakak tanyain Nares terus?”
Danis
melotot lagi. “Aku tanya cuma sekali ya,” belanya melirik Satria yang
__ADS_1
menatapnya horor.
Dinda
memutar bola matanya. “Iya, cuma sekali. Sekali per hari.”
“Jadi
begitu kelakuanmu di belakangku ya, Danis.” Satria mengangguk-angguk.
“Enggaklah
Bang,” bantah Danis cepat, sampai menyebut Satria dengan abang yang biasanya hanya ia pakai kalau ada maunya. “Aku cuma mau
bantu Abang dengan cari tahu tentang Nares.”
“Hallah,
kalau kamu beneran niat, kamu sudah dari dulu kasih tahu aku kalau mereka
berdua satu kantor, biar aku bisa tanya-tanya sendiri.”
“Iya,
harusnya Abang kasih tahu biar aku juga bisa bantu PDKT-in.” kata Dinda ikut
protes pada Danis.
Danis
berdecak. “Sok-sok mau bantu kasih dekat, dia saja selalu jutek sama kamu.”
“Ah
iya,” Dinda mendesah sedih. “Tapi jangan salah ya, jutek-jutek gitu dia
perhatian tahu sama aku, dia selalu bantu aku kalau lagi diganggu sama senior
playboy di kantor. Dia waktu awal-awal baik kok enggak jutek gitu, tapi sejak Kak
Danis suruh tanya-tanya yang aneh-aneh dia jadi berubah,” katanya sedih sambil
menunduk lesuh.
Satria
berdecak, “kamu juga mau-maunya disuruh kepoin orang.” Satria tidak bisa
menyembunyikan kekesalannya.
“Kan
ceritanya bantu Kak Danis tahu tentang orang yang disuka.”
Satria
melotot, “Danis bilang kalau suka Nares?”
Dinda
mengangkat kepalanya menatap Satria singkat. Lalu bergerak hendak menoleh
pada Danis tapi langsung ditahan oleh
Satria dengan kedua tangannya. Membuat fokus Dinda hanya menatapnya.
“Enggak
sih,” jawab Dinda terdengar ragu.
“Jawab
jujur!” pinta Satria masih dengan kedua tangan di sisi kepala Dinda.
“Iya,
enggak pernah. Dinda mikir kalau Kak Danis suka Nares kan gara-gara dia
tanya-tanya terus,” aku Dinda, kali ini tidak terlihat adanya keraguan.
__ADS_1