Romantisnya Pacarku

Romantisnya Pacarku
Satria


__ADS_3

“Suram


amat sih tu muka.”


Mendengar


suara Danis, Satria semakin membenamkan wajahnya di sudut sofa. Dia sedang


galau. Pertemuannya dengan Nares yang tiba-tiba sungguh di luar dugaan. Ia


tidak menyangka akan bertemu Nares di sana. Padahal, niatnya pergi ke restoran


itu karena ingin melarikan diri dari Dinda yang memaksanya menemani belanja.


“Lagi


galau, ya?” Danis menekan kepala Satria lebih dalam ke sofa membuat pria itu


menggeram. Danis tertawa. “Hubungi Nares sana! Ajak jalan. Nomornya tidak kamu


hapus, kan?”



“Bukannya


kasusmu sudah selesai ya? Jadi tunggu apa lagi? Mau tunggu sampai Dinda datang


merengek ajak kamu jalan lagi?” kata Danis lagi setelah beberapa saat Satria


masih diam saja.


“Wah!”


Danis


berdecak. Baru disebut namanya satu kali saja langsung muncul orangnya.


“Bagus


banget main tinggal-tinggal gitu aja.” Omel Dinda pada Satria begitu sampai


dihadapan mereka. Dinda duduk di samping Satria yang masih betah tengkurap di


sofa. “Abang!” rengeknya seraya berusaha mengguncang tubuh Satria namun tidak


bereaksi apa-apa. “Woi, Bang Sat!” teriak Dinda asal.


“Dindaa


….” geram Satria lalu bangkit perlahan.


“Huwaa,


Abang!” teriak Dinda saat kepalanya ditarik tiba-tiba oleh Satria untuk dijepit


di ketiaknya. “Ih Abang, lepasin dong!” pinta Dinda dengan suara sedikit


teredam.


“Enggak


akan sampe kamu bilang maaf.”


“Buat


apa? Dinda enggak salah apa-apa juga.”


“Ada.”


“Enggak


ada. Ih lepasin dong, Bang Sat!”


“Itu,


itu. Bilang gitu lagi, enggak bakal Abang lepasin.”


“Iya,

__ADS_1


iya, maaf. Enggak lagi deh nyebut Abang dengan Bang Sat. Janji,”


“Tidak


usah janji-janji segala kalau ujung-ujungnya masih akan diingkari lagi.”


“Dinda


bukan abang ya, yang suka ingkar janji. Tadi aja kalau tidak dipaksa, janji


bulan lalu itu pasti enggak bakal ….”


“Nah.”


Satria memotong ucapan Dinda. “Satu lagi kesalahanmu hari ini. Gara-gara kamu


maksa buat nepatin hari ini, Abang jadi ketemu sama Nares.”


“Hah?”


“Kamu


ketemu Nares, Sat? Di mana?” Tanya Danis yang sejak tadi hanya diam mendengarkan


seraya bermain ponsel.


Perlahan


Satria melepaskan Dinda, dan ekspresinya kembali kecut. “Tadi di mall, pas


melarikan diri dari Dinda.”


“Salah


sendiri melarikan diri, coba enggak.”


“Mana


dianya jutek banget lagi,” lanjut Satria mengabaikan ucapan Dinda.


“Siapa


suka jutek sama Abang itu,  mending


naksir sama Nares teman kantorku, walau namanya sama, dijamin kelakuan sama


sifatnya beda. Nares temanku itu udah cantik, baik, perhatian, lembut lagi


orangnya. Kak Danis saja sudah mulai naksir, tanya-tanya terus lagi.”


Satria


melotot ke Danis, sedang Danis melotot ke Dinda.


“Mau


nikung kamu?” tanya Satria dingin pada Danis.


Danis


tertawa hambar. “Enggak lah, masa nikung sodara sendiri.”


“Loh,


kok Bang Satria yang di tikung? Harusnya kan Kak Danis.”


Danis


menghela napas. “Duh Dindaku sayang, Nares teman kantormu dengan Nares yang


ditemui Satria di mall tadi yang katanya dia suka itu adalah orang yang sama.”


“Kalau


Kak Danis tahu Bang Satria suka sama Nares, kenapa Kakak tanyain Nares terus?”


Danis


melotot lagi. “Aku tanya cuma sekali ya,” belanya melirik Satria yang

__ADS_1


menatapnya horor.


Dinda


memutar bola matanya. “Iya, cuma sekali. Sekali per hari.”


“Jadi


begitu kelakuanmu di belakangku ya, Danis.” Satria mengangguk-angguk.


“Enggaklah


Bang,” bantah Danis cepat, sampai menyebut Satria dengan abang yang biasanya hanya ia pakai kalau ada maunya. “Aku cuma mau


bantu Abang dengan cari tahu tentang Nares.”


“Hallah,


kalau kamu beneran niat, kamu sudah dari dulu kasih tahu aku kalau mereka


berdua satu kantor, biar aku bisa tanya-tanya sendiri.”


“Iya,


harusnya Abang kasih tahu biar aku juga bisa bantu PDKT-in.” kata Dinda ikut


protes pada Danis.


Danis


berdecak. “Sok-sok mau bantu kasih dekat, dia saja selalu jutek sama kamu.”


“Ah


iya,” Dinda mendesah sedih. “Tapi jangan salah ya, jutek-jutek gitu dia


perhatian tahu sama aku, dia selalu bantu aku kalau lagi diganggu sama senior


playboy di kantor. Dia waktu awal-awal baik kok enggak jutek gitu, tapi sejak Kak


Danis suruh tanya-tanya yang aneh-aneh dia jadi berubah,” katanya sedih sambil


menunduk lesuh.


Satria


berdecak, “kamu juga mau-maunya disuruh kepoin orang.” Satria tidak bisa


menyembunyikan kekesalannya.


“Kan


ceritanya bantu Kak Danis tahu tentang orang yang disuka.”


Satria


melotot, “Danis bilang kalau suka Nares?”


Dinda


mengangkat kepalanya menatap Satria singkat. Lalu bergerak hendak menoleh


pada  Danis tapi langsung ditahan oleh


Satria dengan kedua tangannya. Membuat fokus Dinda hanya menatapnya.


“Enggak


sih,” jawab Dinda terdengar ragu.


“Jawab


jujur!” pinta Satria masih dengan kedua tangan di sisi kepala Dinda.


“Iya,


enggak pernah. Dinda mikir kalau Kak Danis suka Nares kan gara-gara dia


tanya-tanya terus,” aku Dinda, kali ini tidak terlihat adanya keraguan.

__ADS_1


__ADS_2