Romantisnya Pacarku

Romantisnya Pacarku
Kebenaran


__ADS_3

Nares mendesah lega. Menarik kedua tangannya ke atas lalu bersandar ke kursinya dan menutup mata. Ingin rasanya tidur saat ini juga jika tidak mengingat ia masih berada di kantor. Ingin langsung pulang tapi masih lelah. Jadi Nares memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil menutup mata.


“Belum selesai?”


Nares nyaris saja tertidur ketika sebuah suara mengusik pendengarannya. Ah, suara Beni, siapa yang ditanyanya? Dinda? Tebak Nares dalam hati. Setahunya beberapa menit yang lalu hanya ada mereka berdua di ruangan itu.


“Sudah kok. Ayo!”


Eh, itu suara Dinda? Mengajak Beni? Sontak Nares membuka mata dan menegakkan tubuhnya. Mengintip Dinda yang sudah berada di luar ruangan bersama Beni bergerak menjauhi ruangan. Ah, mereka mau ke mana? Lantas Nares bergegas mengemas barang-barangnya yang mesti dibawa pulang. Dan menyusul Dinda secepatnya. Nares heran, mengapa Dinda dengan mudahnya jalan sama Beni sementara tadi pagi gadis itu masih terlihat menghindar ketika Beni mulai mengajaknya berinteraksi di luar urusan pekerjaan.


Nares berlari ke parkiran. Walaupun Dinda tidak pernah bawa kendaraan sendiri tapi Beni menggunakan mobil pribadi. Jadi sudah pasti mereka berada di parkiran saat ini, jika Nares belum terlambat mencegah mereka pergi. Namun Nares terlambat, mobil Beni sudah melaju ketika ia sampai diparkiran.


Esoknya, Nares melihat Dinda di depan lift. Berteriak memanggil sambil berlari menyusul, namun Dinda malah melengoskan wajah dan bergerak cepat agar lift segera tertutup. Sejak itulah Nares sadar kalau Dinda menghindarinya. Raut benci Dinda saat melihatnya membuat Nares gelisah. Dan sejak hari itu Nares dan Dinda tidak lagi berinteraksi di luar urusan pekerjaan.


ὥὣὣ


Saat jam makan siang tiba, Nares melihat Dinda bergerak menuju atap gedung dengan membawa sesuatu. Curiga Nares, Dinda akan makan siang bersama Beni di atap karena tadi ia juga melihat Beni yang terburu-buru menyelesaikan pekerjaannya, tapi harus tertinggal di ruangan Ayu. Dan Nares memanfaatkan itu untuk menyusul


Dinda ke atap. Ia takut hubungan Dinda dan Beni akan semakin jauh.

__ADS_1


“Aku lihat kamu jadi dekat dengan Beni dari seminggu yang lalu.”


Dinda terkejut menyadari Nares yang tiba-tiba ada di sampingnya. “Ada masalah kalau aku dekat dengan Beni?” tanya Dinda ketus, untuk pertama kalinya sepanjang mereka kenal.


“Iya, aku enggak suka kamu dekat-dekat Beni. Apalagi sampai menjalin hubungan.” Nares berusaha mengatur intonasinya agar tidak terdengar membentak karena terlalu emosi. “Kamu tahu kan Beni seperti apa?”


“Terus urusannya dengan kamu apa? Aku mau dekat dengan siapa itu bukan urusan kamu!” Dinda menatap nyalang ke Nares.


“Terserah kamu mau dekat dengan siapa, terserah. Tapi aku mohon jangan sama Beni.”


“Kenapa?”


“Seperti yang pernah aku kasih tahu ke kamu sebelumnya. Tidak seharusnya kamu dekat dengan dia, Din. Dia itu berengsek.”


“Bukan begitu,” bantah Nares keras.


“Kalau begitu bukan urusan kamu, aku dekat dengan Beni.”


“Beni itu sudah menikah Dinda!” bentak Nares tiba-tiba. “Sudah berapa kali sih aku bilang, jangan mau didekati Beni, hah?”

__ADS_1


Dinda menelan salivanya sulit. Terkejut dengan bentakan Nares hingga ia tidak harus berucap apa. Nares memang sering berucap ketus padanya, tapi tak pernah membentaknya seperti ini.


Berulang kali pula Nares menasehatinya untuk menghindari Beni dan tidak termakan omongan manisnya. Nares juga pernah bilang kalau Beni itu pria berengsek yang suka mempermainkan wanita, yang suka main-main dari wanita satu ke wanita yang lain.


Namun Nares belum pernah mengatakan padanya kalau Beni adalah pria beristri. Dan setahunya teman-teman sekantornya tidak ada yang menyebut Beni sudah menikah.


“Harus ya aku bentak-bentak kamu dulu baru kamu mau dengar aku? Harus aku jutek-jutek sama kamu biar kamu mau di kasih tahu, iya?” Nares mendesah berat, “aku pikir sudah saatnya aku enggak jutek-jutek lagi sama kamu, karena itu berlebihan. Tapi kayaknya memang lebih baik aku tidak bersikap lebih baik ke kamu kalau akhirnya malah seperti ini. Kamu jadi enggak mau lagi dengerin aku.” Nares membalikkan badan, hendak pergi. Matanya menatap tajam ke Beni yang baru saja datang ke atap.


Dinda tertawa sinis, “bukannya perubahan sikap kamu yang lebih baik ke aku beberapa terakhir ini karena kamu mau dekati Abangku lewat aku?” akhirnya Dinda bisa mengeluarkan pendapatnya yang lain tentang sikap Nares padanya.


Langkah Nares terhenti, tidak percaya dengan apa yang diucapkan Dinda. Jadi itu juga yang menjadi alasan Dinda menjauhinya? Karena berpikir Nares mau mendekati Satria lewat dirinya?


“Kupikir kamu tahu kalau aku tidak sepicik itu.” Entah mengapa Nares mendadak sedih, kecewa dengan pemikiran Dinda tentangnya. Dengan menahan mata yang panas, Nares melanjutkan ucapannya, “perlu kamu tahu aku tidak pernah dan tidak akan pernah mendekati seseorang dengan tujuan memanfaatkan.” Nares tahu suaranya terdengar


serak tapi ia tidak peduli.


Nares melanjukan langkahnya, dengan mata yang memerah menatap tajam Beni. “Jangan sekali-kali mendekati Dinda lagi kalau masih ingin hidupmu bebas dan tenang!” peringatnya pada laki-laki itu. Matanya bergerak memerintahkan Beni untuk turun lebih dulu.


Mau tidak mau Beni menuruti perintah Nares, karena di kantor mereka, hanya Nares-lah satu-satunya yang tahu seberapa berengseknya dirinya. Mendekati banyak wanita padahal dirinya telah menikah, lalu setelah mendapat apa yang ia mau, wanita itu akan ditinggalkan. Bahkan Beni pernah mencampakkan seorang perempuan yang telah mengandung anaknya. Beni tak mau bertanggung jawab dan menyeret perempuan itu untuk aborsi. Dan akibatnya perempuan itu meninggal dunia karena infeksi setelah aborsi. Perempuan itu adalah sahabat Nares saat SMP.

__ADS_1


 


...


__ADS_2