
Sembari menunggu laki-laki yang dijodohkan dengan Nares, Ayah Nares mengajak Satria mengobrol.
Mereka mengobrolkan banyak hal. Mulai dari yang sederhana sampai yang rumit, mulai dari yang biasa saja sampai yang kontrovensional. Bahkan Satria juga menceritakan dirinya dan sedikit tentang keluarganya. Terbesit sedikit dalam benak Satria barangkali ayah Nares jadi mau mempertimbangkan dirinya sebagai calon menantu.
Yeah, berharap saja tidak masalah kan, walau tidak akan terwujud. Setidaknya sedikit menenangkan perasaannya.
Tapi ngomong-ngomong gadis yang baru saja ia lamar namun ditolak ayahnya itu belum juga terlihat di mata Satria. Mungkin sedang siap-siap untuk bertemu calon suami.
Ah, Satria teringat itu lagi. Perasaannya kembali menyesal. Kenapa ia tidak cepat bertindak. Dan seandainya Dinda tidak tambah parah keadaannya, sudah pasti ia yang jadi calon suami Nares saat ini.
"Jadi bagaimana tanggapanmu tentang orang-orang yang menimbun masker dan makanan itu?"
Satria tertawa pelan. "Saya tidak bisa menyalahkan mereka sepenuhnya yang tidak ingin terkena virus itu meski sedikit kelewatan. Masing-masing manusia mempunyai sifat egois, hanya berbeda kadarnya. Seperti mereka-mereka yang seperti mau hidup sendiri tanpa mau berbagi."
Papa Nares ikut tertawa. "Lucu memang. Padahal ada banyak sekali penyakit mematikan yang ada di sekitar mereka, di sekitar kita. Dan kematian seseorang tidak ada yang tahu, kan?"
__ADS_1
Satria mengangguk menyutujui, lalu menyeruput minumannya yang tinggal sedikit.
"Ayo ke ruang tengah yang lebih luas."
Satria ikut bangkit mengikuti papa Nares ke ruang tengah. Ia dipersilakan duduk di deretan sepupu laki-laki Nares. Ia tersenyum kikuk ketika diperhatikan. Sementara Nares membuang tatapannya ketika pandangan mereka bertemu.
Entah Nares merasa kesal, kecewa atau malu kerena kedatangannya. Yang pasti raut wajah Nares tak nampak semangat seperti biasanya. Mungkin kedatangannya merusak suasana bahagia Nares.
Deru mesin mobil terdengar, papa dan mama Nares bergegas keluar, menjemput tamu yanh sudah ditunggu-tunggu.
Tak lama papa mama Nares masuk kembali diikuti rombongan keluarga calon suami Nares. Satria meneliti laki-laki yang dirasa lajang dan kemungkinan menjadi suami Nares.
Sementara perwakilan keluarga pria memperkenalkan diri dan mengatakan maksud kedatangan, Nares sibuk menunduk dan berbisik-bisik dengan kakaknya.
Satria memperhatikan dua kakak beradik itu berinteraksi. Sebentar lagi ia tidak boleh memandangi Nares, jadi ia akan memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya.
__ADS_1
Tiba-tiba Nadia, kakak Nares, mendoang, melotot melihat calon suami Nares.
"Randi!" panggil Nadia dengan suara kencang.
Pria yang dipanggil itu mendongak. Sementara ia menatap Nadia dengan pandangan terkejut, Nadia menatapnya dengan tatapan terluka dan kecewa.
"Eh, ada apa ini?" gumam Satria pelan.
Nadia berdiri. "Maksud kamu apa?" Ia menunjuk Randi, laki-laki yang dijodohkan dengan Nares. "Setelah minta aku jadi pacar, sekarang kamu mau menikahi adikku?"
Kejadiannya begitu cepat sampai tiba-tiba Nadia sudah berada di depan Randi dan menampar pria itu.
Semua orang jadi berbisik, bertanya-tanya ada apa sebenarnya. Nares dan orang tuanya berdiri menenangkan Nadia.
"Sayang, ada maksudmu?" mama Nares bertanya dengan memegang lengan Nadia.
__ADS_1
Sontak Nadia menangis dalam dekapan sang mama. "Pacar yang aku maksud itu Randi, Ma."