
**
Prilly memasuki kelas dengan perasaan sedikit gusar, lalu ia melihat Elisa menangis tersedu di olok beberapa teman sekelas nya.
"Alah, itu aja nangis Lo, emang kenyataan kan Lo anak seorang pembunuh, semua nya udah tau kali. !" ujar Stevi teman sekelas mereka.
Prilly menghampiri mereka.
"Stevi, kamu ga boleh gitu ngomong nya sama Elisa. !" ucap Prilly.
"Emang iya kan Prill, lagi pula masih berani banget dia masuk ke sekolah ini, muka tembok banget sih dia. !" ujar Stevi.
"Diaaaaam . !" Histeris Stevi tiba-tiba menatap mereka semua marah sambil menjambak rambut nya sendiri.
"Diam Lo semua, gue ga butuh Lo semua, supaya Lo semua puas gue akan pergi dari sekolah ini, kalau perlu gue mati sekalian biar puas Lo. !" Bentak nya keras lalu berlari keluar kelas.
"Elisa tunggu.!" kejar Prilly.
Prilly terus berlari mengikuti Elisa yang berlari sambil menangis.
"Elisa, berhenti Elisa. !" cegah Prilly dan dapat meraih nya saat Elisa mau menaiki anak tangga.
"Apa lagi sih Prill, lepasin gue, biarin gue pergi, ga ada guna nya lagi disini Prill, semua nya ga ada yang mau terima gue . !" Tangis Elisa.
"Kamu mau kemana Elisa, lebih baik kamu izin pulang aja, supaya bisa istirahat di rumah. !" ujar Prilly.
Elisa menggeleng tertunduk, lalu menepis pelan tangan Prilly yang memegang tangan nya.
"Gue mau ke loteng sekolah, gue memang biasa nya disitu buat tenang kan diri gue, biarin gue sendiri dulu ya. !" ujar nya lalu lanjut berlari menaiki anak tangga.
Prilly terdiam sejenak berpikir jernih.
"Ngapain Elisa ke loteng sekolah sendiri an, kasihan banget sih dia, dia pasti stres banget dengan semua ini sendirian,apa gue susul aja ya ke loteng sekolah.!" batin Prilly di dalam hati.
"Gue coba susul deh, takut nya dia nekat ngelakuin hal yang aneh - aneh. !" ucap Prilly lalu perlahan mulai menaiki anak tangga dengan berlari kecil.
"Eh , Prill Lo mau kemana. !" teriak Stevi temannya yang tiba tiba lewat masih di bawah tangga, Prilly pun menoleh ke bawah tangga.
"Aku mau nyusulin Elisa ke loteng sekolah, takut nya dia macem macem di atas, kamu sih tadi gitu banget banget ngomong nya.!"ujar Prilly.
"Alah udah lah Prilly biarin aja, biar dia berpikir dulu yang jernih akibat ulahnya sendiri.!"ucap nya.
"Ngga boleh gitu ya, dia kan juga temen kamu .!" ucap Prilly lalu melanjutkan berlari menaiki anak tangga.
Stevi hanya geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Ngeyel banget sih Prilly. !" ujar Stevi.
"Udah biarin aja deh, yuk kita ke taman.!" ucap Ayu teman nya.
Mereka pun berlalu.
*
Sekolah Prilly memiliki tiga lantai, dan loteng sekolah diatas lantai tiga.
Tap
Tap
Tap
Klik...
Prilly pun membuka perlahan pintu loteng sekolah, melihat kanan dan kiri dan terlihat lah punggung Elisa seperti menangis tersedu di bagian kiri loteng sambil menatap lurus ke depan.
Prilly pun perlahan menghampiri Elisa pelan dan berdiri beberapa langkah di belakang nya.
"Elisa, kamu jangan sedih lagi ya, kamu jangan mikir yang macem-macem ya, ga usah dengerin mereka. !"ujar Prilly.
Perlahan Elisa pun membalikkan badan nya, dan menatap Prilly nanar sambil terus menangis tersedu.
Prilly pun lalu mendekati dan memeluk nya.
Elisa terus menangis di pelukan Prilly..
Ia sesaat membiarkan Elisa menangis di pelukannya, membiarkan Elisa meluap kan semua tangis nya agar lebih tenang.
*Disisi lain Amel terlihat menolak di dekati Steven.
"Udah lah kak, ga ada yang perlu kakak jelasin lagi, mending kakak pergi aja sana, urus tuh pacar Lo.!" ujar Amel kesal.
Steven menghela nafas gusar sambil terus menatap Amel yang tak mau berpaling ke arah nya.
"Amel, please, percaya sama kakak, kakak kan sudah bilang, dia bukan siapa siapa kakak, dia memang suka sama kakak, tapi kakak ga pernah gubris karna kakak memang ga ada perasaan apa - apa sama dia, kakak kan sudah bilang kakak serius suka sama Lo Mel.!" ujar Steven sambil menatap Amel yang menatap ke arah lain tanpa menoleh pada nya.
"Terserah kamu kalau ga percaya, tapi kakak serius suka sama kamu. !" ucap Steven gusar.
Lalu datang Ali menghampiri mereka.
"Ada apa an sih. !" tanya Ali bingung.
__ADS_1
"Angel Li, dia serang Amel, suruh jauhi gue, resek banget sih tuh cewek.!" umpat Steven geram.
"Hah, emang Lo pacaran sama dia?" ujar Ali.
"Apaan sih Lo, jangan bikin suasana tambah panas dong, adek Lo nih, ga percaya sama gue, Lo setuju kan gue sama dia, jadi bantuin gue dong bujuk Amel, dari tadi ga mempan.!" ucap Steven.
"Alah udah Lo beliin aja dia Eskrim, di jamin luluh, iya kan Mel.!" ujar Ali sambil godain Amel dengan mencolek dagu nya.
"Apaan sih Lo kak, ga jelas, udah mending gue cari Prilly, males sama kalian berdua.!" ujarnya seraya beranjak.
"Yah kok pergi, ya udah kalau ketemu Prilly, suruh dia kesini ya.!" ujar Ali agak berteriak.
"Bodo amat.!" balas Amel seraya terus berjalan..
Ali dan Steven hanya tergelak lalu memilih duduk di bangku taman.
"Susah juga ya bujuk si Amel. !" ucap Steven.
"Ya Amel kan memang begitu anak nya, jadi Lo harus sabar sabar aja hadapin nya, tapi gue yakin kok, Lo bisa jagain dia dengan baik. !" ucap Ali sambil tersenyum.
Steven hanya mengangguk tersenyum..
*
Amel keluar kelas sambil celingak-celinguk kanan kiri.
"Lo cari siapa Mel?" tanya Stevi yang duduk di bangku beton di depan kelas.
"Lo pada lihat Prilly gak.?" tanya Amel.
"Prilly ada di loteng atas bareng Elisa.!" ujar nya.
"Hah, ngapain?" kaget Amel.
Stevi menggeleng.
"Bujuk Elisa kali, dia nangis karna di bilang anak pembunuh padahal kan emang iya, udah gue larang tapi Prilly nya ngeyel.!" ujar nya.
"Oh gitu ya, thanks ya. !" ucap Amel seraya berlalu dengan perasaan bingung.
"Ada ada aja sih Prilly, segitu baik banget sih sama Elisa, apa gue coba susul aja kali, tapi males ah ada Elisa, muak banget lihat wajah nya.!" gumam Amel kesal..
*
Prilly terus mencoba menenangkan Elisa yang menangis di pelukan nya..
__ADS_1
Lalu Perlahan mereka pun melepaskan pelukan, dan Prilly menatap Elisa yang menatap nya perlahan tersenyum, Prilly pun balas tersenyum Lalu.......