Sahabat Hidup

Sahabat Hidup
43#


__ADS_3

Ali mengetuk pintu kamar Prilly dan Amel.


"Prill, ini aku Ali, aku boleh masuk. ?" ujar nya.


Tak ada jawaban Ali pun perlahan membuka pintu yang membuat Prilly seketika buru-buru berdiri dan mengusap cepat-cepat air mata nya.


Ali berjalan pelan mendekati Prilly yang mengalihkan tatapan nya ke arah lain.


"Hey, kamu kenapa Prilly, kamu nangis ya. !" ujar Ali seraya mau menyentuh pipi Prilly tapi di tepis pelan oleh Prilly.


"Aku ga apa-apa kok Ali. !" jawab Prilly seketika mau pergi keluar tapi dengan cepat Ali menahan nya.


"Tunggu dulu, duduk dulu, aku mau ngomong. !" ujar Ali mengarah kan Prilly duduk di ranjang, Prilly pun menurut dan duduk di pinggir ranjang di ikuti Ali duduk di samping nya.


"Kamu marah ya sama aku. !" ujar Ali sambil fokus menatap Prilly yang memandang ke arah lain.


Prilly hanya menggeleng pelan.


"Maafin aku ya, aku ga bermaksud cuek sama kamu, kemaren itu aku hanya pusing dan bingung dengan masalah yang ada, maafin ya Prill, dan juga masalah Dena, dia hanya temen aku Prill, ga lebih, kamu mau maafin aku kan.!" harap Ali.


Ditatap nya Prilly lekat yang membuang wajah nya berpaling ke sisi lain..


Terlihat mata Prilly berkaca-kaca.


Ali menghela nafas nya.


Lalu mulai berlutut di depan Prilly sambil menggenggam jemari Prilly.


"Tatap aku Prill, kamu percaya kan sama aku, please, tatap aku.!" ujar Ali.


Perlahan Prilly pun menatap ke Ali yang di hadapan nya.


Satu kedipan mata air mata Prilly pun jatuh.


"Kamu janji, akan selalu ada buat aku, kamu janji akan selalu sayang sama aku, kamu bilang kita ini sahabat hidup, tapi kamu, baru karna masalah sedikit aja berubah kaya gitu, tapi setelah jumpa cewek itu, kamu ga ada tunjukkin kalau kamu itu seperti ada masalah Ali, kamu seperti ga ada beban dan terlihat sangat bahagia ketemu dia, sampai lupa kalau aku ada di sini. !" ungkap Prilly terlihat ekspresi sedih dan kesal di raut wajah nya.


Ali menggeleng cepat.


"Hey Prilly, aku itu ga pernah lupain kamu, aku udah janji sama diri aku dari dulu, kalau kita itu akan bersama, kamu percaya aku kan.!" yakin Ali.


Prilly menggeleng pelan.


"Aku ga tau Ali, sebelum aku lihat bukti nya aku ga tau, karna semua keputusan ada di tangan kamu, aku hanya bisa menerima dan menunggu. !" ucap Prilly.


seketika Ali pun memeluk nya.


"Sayang, aku buktikan ke kamu, kalau kita akan bersama, aku akan selalu memilih kamu, aku janji. !" gumam Ali.


Prilly hanya terdiam di pelukan Ali.

__ADS_1


"Semoga saja ya Li, aku ga tau apa benar kita akan selalu bersama, sampai sekarang aja status kita hanya sahabat, sed, jadi aku ga mau terlalu berharap banyak sama kamu, aku takut nya nanti tersakiti. !" batin Prilly dalam hati di pelukan Ali.


Ali pun melepaskan pelukannya dan mengusap air mata Prilly.


"Maafin aku ya.!" ujar Ali sambil tersenyum.


Prilly pun mengangguk sambil tersenyum..


*


"Udah siap belum semua, kita berangkat sekarang yuk. !" pandu Amel .


Prilly, Ali, dan Steven pun mengangguk.


"Udah, yuk kita berangkat. !" ucap Prilly.


Mereka pun melangkah menuju keluar rumah, saat Amel membuka pintu.


"Hay guys. !" sapa Dena sambil tersenyum membuat semua nya cukup kaget.


"Wah pada rapi nih, pada mau kemana nih.?" ujar Dena.


"Oh, ini, kita mau ke makam. !" jawab Ali.


Dena pun mengangguk.


Ali pun menerima nya.


"Ok, thanks, Insyaallah kami semua akan datang, sorry, aku ga bisa temenin kamu buat ambil gaun nya. !" ujar Ali sambil sekilas melirik Prilly yang terdiam lebih memilih menatap ke arah yang lain.


Dena mengangguk tersenyum.


"Oke ga masalah kok, yang penting ntar malem jangan lupa datang ya, bye. !" ujar Dena tersenyum dan lalu berlalu pergi.


Mereka pun mulai menaiki mobil, Steven menyetir dengan Ali di samping nya, sedang kan di belakang duduk Prilly dan Amel.


**


Mereka berempat jalan perlahan dan hati-hati melewati makam, tak Lama Amel berjalan sedikit berlari dan terduduk diam di tanah. Menatap makam yang berdampingan.


Ali, Prilly dan Steven mengikuti nya.


Steven di sebelah Amel, Ali dan Prilly di sisi depan nya.


"Ma, Pa, ini Amel, Amel kangen. !" tangis Amel pun pecah sambil memeluk nisan mama nya.


Steven pun mengusap-usap punggung bahu Amel mencoba menenang kan.


"Ma, Pa, maafin Amel, baru tau sekarang kalau Mama dan Papa itu meninggal bukan karena kecelakaan, tapi di bunuh.!" histeris Amel membuat yang lain panik.

__ADS_1


"Amel kamu yang sabar ya, kamu jangan emosi, doain Mama dan papa kamu.!" ujar Prilly ikut menangis sedih.


"Dek, Lo jangan kaya gini ya, kita harus ikhlas. !" ujar Ali tabah menahan air mata nya.


"Gue belum bisa terima rasa nya kak, setelah tau yang sebenar nya, yang awal nya gue udah ikhlas atas kematian Mama dan Papa, sekarang gue rasa nya ga terima dengan semua ini kak, hati gue sakit banget kak. !" tangis Amel yang di pelukan Steven.


Beberapa saat semuanya hening.


Lalu Amel pun mulai mengusap nisan Papa dan Mama nya.


"Pa, Ma, maafin Amel ya, Amel janji akan jadi anak yang baik yang selalu mendoakan Mama dan Papa, Mama dan Papa tenang aja ya, di sini banyak yang sayang sama Amel, banyak yang jagain Amel di sini.!" ucap Amel sendu sambil tersenyum ke menatap Prilly, Ali dan Steven yang tersenyum haru menatap nya.


"Kamu yang sabar ya, sekarang kita baca doa yuk buat Mama dan Papa kamu.!" ucap Steven di angguki yang lain nya, lalu mereka pun mulai menabur bunga dan air di makam bergantian lalu berdoa.


"Ya udah yuk, sekarang kita ke sana dulu.!" ajak Ali dan yang lain pun mengikuti.


Ali berhenti di Makam yang berdampingan yang bertuliskan nama Maya, dan Rio, Makam Mama dan Papa nya.


Ali berdiri kaku menatap kedua makam tersebut, dia pun mulai terduduk di samping Makam Mama nya, Amel dan Steven di sebrang nya di Makam papa Ali, Prilly ikut terduduk perlahan di samping Ali, di tatap nya Ali yang mata nya terlihat berkaca-kaca dan bahu nya bergetar menahan tangis.


Prilly mengusap-usap bahu Ali lembut.


Mencoba menguat kan Ali yang terlihat rapuh meskipun dia sendiri sudah lebih dulu menitikkan air mata nya.


"Ali, kalau kamu mau nangis, jangan di tahan ya, kamu berhak kok meluap kan kesedihan kamu.!" ujar Prilly lembut.


Ali pun mengusap nisan Mama dan Papa nya bergantian.


"Ma, Pa, Ali seneng banget bisa datang ke sini lagi, bisa jenguk Mama dan Papa, Ma, Pa, Ali udah kumpul lagi sama Amel, Ali akan selalu jagain dia, Mama, Papa, Tante dan Om, tenang di sana ya, kami di sini baik-baik aja, Sekarang Ali juga seneng Ma, Pa, Ali udah ngumpul lagi sama Prilly, Mama dan Papa ingat Prilly kan, dia Putri salju sahabat Ali Ma, Ali udah bahagia di sini Ma, tapi Ali akan lebih bahagia lagi kalau Mama dan Papa masih ada di sini bersama Ali.!" gumam Ali lirih sambil bergetar menangis.


Prilly pun ikut menangis di samping nya, begitu pun Amel yang menangis di pelukan Steven yang tegar di samping nya.


Prilly pun mengusap nisan Mama dan Papa Ali.


"Om, Tante, ini Prilly, Prilly kangen banget sama Om dan Tante, Padahal Prilly udah nunggu banget untuk bisa ketemu Om, Tante dan Ali lagi, tapi ternyata semua nya ga seperti yang Prilly harap kan, cuma Ali yang kembali, tapi Prilly janji Om, Tante, Prilly akan selalu temenin Ali, akan selalu ada buat Ali.!" ungkap Prilly sambil menangis tersedu, Ali pun menarik Prilly ke pelukan nya yang juga masih menahan tangis.


"Kamu yang sabar ya Ali, jangan sedih terus, ada aku di sini. !" ujar Prilly pelan di pelukan Ali, Ali mengangguk sambil tersenyum tipis.


"Ya udah, sekarang kita doakan Mama dan Papa aku ya.!" ujar Ali.


Prilly mengangguk dan melepaskan diri dari pelukan Ali.


Mereka pun mulai menabur bunga dan air ke makam orang tua Ali dan lalu membaca kan Doa untuk mereka.


**


Skip.


Malam hari nya.

__ADS_1


__ADS_2