
Ali mendorong pelan kursi roda Prilly masuk ke dalam ruangan Amel untuk mendekat ke ranjang Amel.
Mata Prilly berkaca-kaca melihat Amel terbaring di ranjang nya.
"Amel.!" lirih Prilly lemah sambil meneteskan air mata.
Prilly mengusap pelan punggung tangan Amel.
Terlihat Amel yang tertidur diam dengan masker oksigen serta Alat lain yang terpasang di nadi nadi tangan nya.
Ya, Amel belum juga sadar kan diri, Prilly menangis tertahan Melihat Amel.
Di lihat nya Ali yang hanya terdiam lesu menatap Amel.
"Mel, Lo bangun dong dek, Lo kuat, gue yakin Lo kuat, Lo satu - satu nya keluarga yang gue punya, Lo sembuh ya Mel. !" gumam Ali dengan mata yang berkaca-kaca.
"Amel, kamu kuat ya Mel, aku ga akan maafin diri aku sendiri kalau sampai kamu kenapa-kenapa Mel, Please Mel, jangan pernah menyerah ya, demi aku, demi kakak kamu Ali, kamu bilang walaupun dia menyebalkan, cuma dia yang kamu punya, dan kamu tetap akan selalu ada bersama nya, ya kan Mel, jadi bangun ya Mel, maafin aku.!" ucap Prilly sambil menangis tersedu.
Ali mengusap-usap lembut bahu Prilly, mereka melirik Steven yang terlihat menangis di hadapan mereka , di sebelah kanan Amel, karna Ali dan Prilly berada di sebelah kiri Amel.
Steven hanya diam menatap Amel dengan air mata yang terus mengalir di pipi nya.
"Steven, gue tau, Lo sayang banget sama Amel, Lo janji sama gue, Lo akan jagain Amel terus ya.!" ucap Ali .
Bahu Steven bergetar menahan tangis dengan terus menatap Amel.
"Gue, gue sayang banget sama dia Li, dan Lo tau kan itu dari dulu, walaupun dia selalu anggap gue cuma bercanda, gue sayang banget sama dia. !" ujar Steven sambil mengusap air mata nya dan Terus menatap Amel yang terbaring.
Ali hanya mengangguk tanda paham.
ia lalu melirik jam tangan nya.
"Prill, udah hampir jam tujuh, kita balik ke kamar ya, aku takut nya suster cariin kamu.!"ujar Ali.
"Tapi Amel Li. !" ucap Prilly.
"Kan ada Steven, em bro, gue titip Amel ya.!"ujar Ali.
"Siap, gue akan jagain dia.!" jawab Steven.
Ali dan Prilly pun mulai berlalu pergi ke luar..
Steven mengambil kursi untuk duduk di samping ranjang Amel.
Lalu ia menggenggam tangan kanan Amel.
"Mel, Kakak sayang banget sama kamu, kakak ga bisa lihat kamu sakit begini, Kakak mohon, jika di beri kesempatan kakak ingin selalu bisa menjaga kamu. !" ucap Steven lalu mulai membaringkan kepala nya di sisi ranjang Amel hingga ia perlahan pun tertidur..
*
Setelah tiba di kamar inap nya, Ali membantu Prilly naik berbaring lagi di ranjang nya.
"Li..?" ujar Prilly pada Ali yang mengembang kan selimut lalu menyelimuti Prilly.
"Ya ..?" jawab Ali.
"Amel belum sadar juga, kalau lewat dari dua belas jam ga sadar juga dia akan di nyatakan koma kan, aku ga mau Li, aku ga mau Amel kenapa-kenapa, karena Amel pingsan kan dari jam 9 pagi tadi Li, yang arti nya kurang dari dua jam lagi itu udah masuk dua belas jam Ali .!" gumam Prilly menangis.
__ADS_1
Ali mengusap-usap jemari nya.
"Sekarang kita hanya bisa berdoa ya Prill, semoga Amel bisa melewati masa kritis nya.!" jawab Ali.
Prilly hanya mengangguk lesu.
Tak berapa lama.
"Permisi.!" ujar suster yang tiba-tiba masuk.
"Mbak Prilly,waktu nya mandi ya, mari saya bantu.. !" ujar suster itu.
Prilly hanya mengangguk..
Ali pun mengiyakan dan lalu berlalu keluar dari ruangan Prilly.
Ali terus berjalan, berniat ke ruangan Amel untuk mengajak Steven keluar dan cari makan, karna hari hampir mendekati waktu shalat isya.
Ali tertegun melihat ke ruangan Amel Di mana Steven tengah berbaring di sisi ranjang Amel dengan jemari nya di menggenggam di atas punggung tangan Amel.
Ali tersenyum tipis menatap nya.
"Steven lagi tidur, ga enak gue bangunin, mending gue sendiri aja deh cari makan nya. !" jawab Ali lalu berlalu.
*
Steven mengernyit kan dahi nya dan gelisah karena merasa ada yang mengusap-usap kepala nya.
Steven pun membuka perlahan mata nya dan menoleh ke tangan yang mengusap kepala nya, Steven tersentak sedikit kaget tak percaya akan yang di lihat nya.
Seketika senyum nya pun mengembang dan berbinar..
Terlihat Amel hanya membalas tersenyum lesu.
Steven pun segera memencet tombol bantuan untuk memanggil suster.
Ia tersenyum terus sambil menggenggam tangan Amel.
"Apa yang sakit Mel, coba bilang sama kakak.!" ucap nya antusias, Amel hanya terdiam lesu, Steven maklum karna Amel baru sadar dan masih lemah.
Tak lama Dokter dan Suster datang, Dokter mulai memeriksa Amel, lalu ia tersenyum.
"Alhamdulillah, dia sudah melewati masa kritis nya, tapi jangan terlalu banyak gerak ya, jangan terlalu di ajak bicara juga, soal nya dia masih sangat lemah dan butuh istirahat. !" ucap Dokter pada Steven.
"Baik Dok. !" jawab Steven.
"Baik, saya permisi ya. !" ucap Dokter lalu berlalu di ikuti Suster..
Steven tersenyum menatap Amel.
genggam erat jemari Amel..
"Mel, kakak senang kalau kamu mulai pulih kaya gini, Mel, kamu jangan begini lagi ya, kakak ga sanggup lihat nya. !" gumam Steven pada Amel yang hanya menatap nya nanar.
Lalu perlahan Amel mencoba melepas masker oksigen nya, Steven pun mulai membantu.
Setelah terlepas Amel tersenyum tipis menatap Steven.
__ADS_1
"Terima kasih ya kak udah jagain Amel.!" ujar Amel lesu.
Steven mengangguk.
"Oia, kakak akan Telpon Ali ya.!" ujar nya, lalu mulai menelpon Ali.
*
Skip.
Ali masuk dengan berjalan cepat ke ranjang Amel dengan wajah senyum nya.
Lalu memeluk tubuh Amel yang masih terbaring lemah.
"Alhamdulillah dek, kakak seneng banget Lo udah sadar dek. !" ujar Ali.
Amel menatap nya tersenyum lalu tiba-tiba Amel menetes kan air mata nya.
"Amel, kenapa dek.?" cemas Ali.
"Kak. !". Gumam Amel lemah.
"Iya, kenapa Mel, apa ada yang sakit.?" ucap Ali.
"Gue Kangen Mama dan Papa kak, Please ajak gue ke makam Mama dan Papa kak. !" Tangis Amel .
Ali pun berusaha menenangkan nya.
"Iya Mel, iya, kakak janji akan ajakin Lo kesana, tapi Lo harus sembuh dulu, oke.!" ujar Ali.
Amel mengangguk perlahan.
"Prilly gimana keadaan nya kak, seingat Amel, dia kepala nya terluka kak.!" ucap Amel.
"Prilly udah mulai membaik kok, dia juga di rawat di rumah sakit ini.!" ujar Ali.
Amel mengangguk lesu.
"Elisa memang brengsek, gue ga akan maafin dia kak.!" geram Amel.
"Udah Mel udah, Lo tenang ya, jangan banyak ngomong dan emosi dulu, biar tubuh Lo makin cepat pulih dan membaik ya, soal Elisa Lo ga usah pusing kan lagi, karna dia sudah di tangani oleh pihak yang berwajib.!" ujar Ali.
"Bagus kalau gitu, dia itu memang benar-benar keterlaluan kak.!" ujar Amel.
"Ya udah, Lo istirahat ya, bentar lagi perawat akan anterin makanan untuk Lo dek, Oia gue temenin Prilly dulu ga apa-apa kan dek.?" ucap Ali.
Amel mengangguk tersenyum.
"Nggak apa-apa kak, titip salam buat Prilly ya kak.!" ujar Amel.
"Ok, oh ya Steven, gue ke Prilly dulu ya, titip Amel ya.!" ujar Ali.
Steven yang duduk di sofa sudut ruangan hanya mengangguk sambil mengacungkan jempol nya tanda Setuju.
**
Ali pun masuk ke ruangan Prilly sambil tersenyum senang..
__ADS_1
Prilly hanya terdiam.