
Dena tersenyum sinis.
"To the poin aja, gue suka sama Ali, dan gue pengen Lo jauhi Ali. !" ucap Dena menatap intens Prilly yang menatap nya kaget.
"Kenapa aku harus menjauhi Ali, dia sahabat aku, jadi kamu atau siapapun ga berhak nyuruh aku menjauh dari Ali. !" Tegas Prilly.
"Terserah Lo mau bilang apa, yang jelas gue lebih unggul selangkah dari Lo, karna kalau ada gue, Ali bisa berjarak dari Lo, bahkan mungkin lupa kali ya sama Lo, saat gue pergi dia deketin Lo ya mungkin karna kasihan kali sama Lo. !" ujar nya sambil tersenyum licik lalu berlalu meninggalkan Prilly yang menatap nya terdiam.
Prilly menghela nafasnya gusar, lalu melirik jam di tangan nya, lalu ia pun mulai berjalan keluar.
*
Prilly berjalan pelan di tengah acara Sambil melirik lirik, tampak dari jarak agak jauh Ali sedang mengobrol dengan Dena, di kiri ujung tampak Amel dan Steven, dengan langkah agak cepat Prilly pun berlalu pergi keluar dari acara ultah Dena.
*
Prilly memasuki kamar dengan gusar.
ia terduduk lemas bersandar di ranjang tempat tidur.
"Ali kenapa sih beda banget sekarang, Ali ga kaya pangeran langit yang aku kenal. !" lirih Prilly lesu.
Tak lama telpon nya pun berdering.
Nama Amel tertulis di layar.
"Iya Mel.!" ujar Prilly.
"Kamu di mana sih Prill. ?" ujar Amel di seberang telpon.
"Aku udah balik Amel, aku lagi di rumah. !" ujar Prilly.
"Kok ga bilang-bilang sih, yaudah kamu di rumah aja jangan kemana-mana ya, ntar lagi kita pulang kok.!" ujar Amel.
Telpon pun terputus. Prilly pun meletakkan hp nya di meja rias lalu mengganti pakaian ke kamar mandi.
*
Prilly keluar dari kamar mandi sudah berganti dengan piyama tidur nya.
Dia duduk di tepi ranjang tak lama dengar ketukan pintu.
"Masuk aja. !" ujar Prilly.
Pintu terbuka, tampak Ali masuk dan berjalan mendekati Prilly.
"Kamu kenapa Prilly, kok pulang duluan. ?" tanya Ali .
"Ngga apa-apa kok, tadi males aja gabung, karna abis dari toilet, kamu lagi ngobrol sama Dena, Amel juga lagi bareng Steven, jadi aku pulang aja.!" ujar Prilly tanpa menoleh ke Ali.
"Masa sih cuma karna itu pulang, aku dari tadi tungguin kamu loh, katanya ke toilet tapi lama banget, ya aku tanya lah sama Dena nya, kenapa tadi ga langsung nyamperin aku aja sih, kalau kamu tadi udah mau pulang aku juga pasti akan ajak kamu pulang kok.!" ujar Ali.
__ADS_1
" Nggak apa-apa kok Ali, udah ga usah di masalahin lah. !" ucap Prilly.
"Dena ngomong apa tadi sama kamu. !" ujar Ali membuat Prilly menatap nya kaget..
"Ngomong apaan sih kamu, dia ga ada ngomong apa-apa kok.!"
"Ngga usah bohong sama aku Prilly, ada yang bilang, kamu ngobrol di depan toilet tadi. !" ujar Ali.
Prilly menghela nafas nya.
"Oke, kamu mau tau apa yang dia bilang, dia, nyuruh aku buat jauhin kamu, karna apa, karna dia itu suka sama kamu Ali, kamu tenang aja, Aku udah bilang kita ini sahabat, jadi dia ga perlu merasa kawathir, lagi pula kamu juga ga perduli kan, kalau ada dia juga kamu lupa sama aku kan. !" ucap Prilly dengan mata mulai berkaca-kaca..
Prilly menoleh ke arah lain, Ali menatap intens Prilly..
"Jadi itu yang dia bilang sama kamu, iya, brengsek juga si Dena. !" ujar Ali membalikkan badannya ke arah luar, tapi di cegah cepat oleh Prilly.
"Kamu mau kemana Ali. !" ujar Prilly.
"Aku mau balik, aku mau ngomong sama Dena. !" ujar Ali.
Prilly menggeleng sambil menyeka air matanya yang hampir jatuh.
"Udah lah Li, ga ada yang perlu di bicarakan lagi, semuanya udah jelas kan, dia suka sama kamu, dia bisa mengutarakan perasaannya, jadi itu semua ga salah Ali. !" ucap Prilly.
"Itu semua salah, aku ga bisa terima dia ngomong gitu ke kamu. !" kesal Ali.
"Biarin aja Li, dia ga salah kok, bener kan, kalau ada dia kamu jadi lupa sama aku, kamu asyik ngobrol sama dia, sampai ga ingat sama aku, kalau ada dia aku ni jadi posisi no 2 di pikiran kamu Ali, jadi aku akan coba terima itu semua, dan aku ga akan lagi terlalu berharap banyak sama kamu lagi, aku cuma mau bilang, besok kita balik ke Indonesia, aku ingin mampir di rumah Bunda di Bandung.. !" ujar Prilly sambil menatap Ali yang terdiam gusar.
Prilly hanya melihat punggung Ali perlahan menghilang di balik pintu, lalu ia pun terduduk diam di ranjang nya.
*
Keesokan hari nya..
"Udah siap semua nya Prilly.?" ujar Amel.
Prilly mengangguk.
"Udah kok Mel, tinggal berangkat. !" ujar Prilly.
Amel mengangguk mengerti.
"Oia Prilly, semalem kamu sayang banget ga lihat adegan seru. !" ujar Amel.
"Adegan seru apa, kok kamu ga cerita tadi malem. !" jawab Prilly penasaran.
"Ya kamu kan pas aku sampe udah tidur, ya ga enak dong kalo aku bangun kamu.?" ujar Amel.
"Ya deh, emang ada kejadian apa sih. !" ucap Prilly.
" Semalem, habis kak Ali dari rumah jumpai kamu, dia balik lagi ke acara ultah, lalu marah-marah dengan Dena.!" ujar Amel.
__ADS_1
Prilly menatap Amel kaget.
"Serius kamu, kok Ali gitu sih, dia itu kan cewek, ga pantes banget di bentak-bentak di depan umum. !" ujar Prilly.
"Lagi pula memang si Dena itu ga tau malu Prill, dia juga malah berani nembak Kak Ali di depan semua orang sehabis kak Ali marah-marah sama dia. !" ujar Amel antusias.
Prilly menghela nafas lesu.
"Ali seharusnya ga perlu kaya gitu kali ya.!" ucap Prilly pelan.
"Udah kamu tenang aja, kak Ali itu setia kok sama kamu. !" ujar Amel.
"Udah lah Mel, kamu ga usah ngomong kaya gitu lagi, aku ga ada hubungan apa-apa kok sama Ali, Ali bebas kok deketin siapa aja yang dia mau. !" ucap Prilly.
"Tapi kan kak Ali sama kamu Prilly, kamu jangan ngaco gitu dong ngomong nya. !" ujar Amel.
"Ngga Amel, aku ga ada hubungan lebih apapun sama Ali selain sahabat, dia itu yang udah tekankan dari dulu kalau kita berdua ini sahabat, jadi aku ga mau menaruh harapan lebih sama Ali, jadi udah stop omongin ini ya. !" ujar Prilly.
Amel hanya terdiam mengangguk pelan..
"Yaudah yuk kita kebawah, udah terang tuh, ntar kita ketinggalan pesawat lagi. !" ujar Prilly.
Amel mengangguk, dan lalu mereka pun mulai berlalu keluar sambil membawa koper masing-masing.
*
Saat tiba di lantai bawah, Ali dan Steven terlihat juga sudah siap.
"Udah siap kan, yuk kita berangkat, Prilly sini koper nya, aku bantu bawain ya. !" langkah Ali terhenti ketika Prilly memberikan kode agar ia tak mendekat.
Prilly berjalan sendiri ke mobil sambil memasuk kan koper nya di bagasi, lalu ia pun masuk ke dalam mobil duduk di bagian jok belakang dengan diam dan menatap kosong lurus ke depan.
Ali hanya termenung sesaat memandang Prilly yang terdiam kaku.
Amel dan Steven terdiam menatap adegan itu.
Lalu sambil berjalan menuju mobil Amel mengusap punggung Ali.
"Udah Lo yang sabar ya, gue yakin, dia nanti akan maafin Lo kok kak. !" ujar Amel tersenyum.
Ali hanya mengangguk tersenyum tipis.
"Ya udah, kalau gitu, ayo kita berangkat kak, ntar ketinggalan pesawat lagi. !" ujar Amel seraya mendahului Ali yang berdiri diam.
Ali menghela nafas nya lesu, lalu mulai berjalan keluar dari rumah.
Memasuki koper nya di bagasi.
Lalu masuk ke dalam mobil duduk di jok belakang tepat di sebelah Prilly yang hanya diam menatap ke arah lain.
*
__ADS_1