Sahabat Hidup

Sahabat Hidup
37#


__ADS_3

" Prilly, ada apa sayang, kok nangis, apa ada yang sakit nak. ?" cemas bunda Prilly.


Prilly menggeleng pelan.


"Amel gimana Bun. ?" lirih Prilly lemah.


"Amel Alhamdulillah baik-baik aja Prill, sekarang kamu istirahat ya nak, jangan banyak pikiran dulu. !" ujar bunda nya.


"Bunda jangan bohong, Aku pengen ketemu Amel bunda, Ali mana bunda, Ali mana Bun. ?" ucap Prilly.


"Ali ada di depan kok sayang. !" jawab bunda nya.


"Panggil Ali bunda, Prilly mau bicara sama Ali. !" pinta Prilly.


Bunda nya pun mengangguk.


"Baik, bunda panggil Ali dulu ya. !" ujar bunda sembari keluar dari ruangan Prilly.


Tak berapa lama Ali pun masuk duduk di kursi samping ranjang Prilly, menggenggam tangan Prilly, dan menatap intens Prilly yang menatap nya sayu.


Tangis Prilly pun pecah menatap Ali.


"Prilly, kamu kenapa, kamu ga apa-apa kan.?" tanya Ali cemas.


"Amel gimana Li, tolong jelasin ke aku Amel gimana, aku ga ikhlas banget kalau Amel sampai kenapa-kenapa, aku gak akan bisa maafin diri aku sendiri Ali, semua nya gara-gara aku.!" tangis Prilly gusar.


"Suuut, udah Prilly udah, ini semua bukan kesalahan kamu, Amel baik-baik aja, dia sudah melewati masa kritis nya, kepala dan kaki nya sudah selesai di operasi, operasi terakhir di kaki nya baru selesai 1 jam yang lalu, hanya saja Amel belum sadar sedari kejadian itu, dokter bilang, kita berdoa saja, semoga tubuh nya merespon baik pengobatan ini dan dia cepat sadar. !" jelas Ali sambil mengusap lembut rambut Prilly.


Tangis Prilly makin pecah mendengar penjelasan Ali.


"Aku ga sanggup kalau Amel kenapa-kenapa Li, aku ga mau, Andai aja Amel ga nyusul ke loteng sekolah itu, ini semua ga akan terjadi Ali, Elisa ga akan dorong Amel, Maafin aku Ali, maafin aku, aku udah bikin adik kamu celaka, satu-satu nya keluarga yang kamu punya, aku tau kamu pasti sedih banget, maafin aku Ali, aku nyesel, kenapa harus Amel Li, kenapa ga aku aja.!" tangis nya.


"Sayang, Prilly, aku mohon kamu jangan ngomong kaya gitu, aku mohon, aku juga ga mau ini semua terjadi pada Amel, tapi aku juga ga mau kamu celaka Putri salju.!" ujar Ali nanar dan mata nya pun berkaca-kaca.


Sesaat mereka hanya terdiam saling menatap, Prilly masih tetap menangis menyesal, tangis Prilly pun mulai mereda perlahan sambil Ali mengusap-usap rambut nya.


Ali menghela nafas nya.


"Aku mohon, kamu jangan ngomong kaya gitu lagi ya, demi aku, aku mohon.!" ucap Ali.


Prilly hanya mengangguk dan lalu Ali mulai mengusap air mata Prilly.


"Pangeran langit.!" ujar Prilly.


"Ya Putri salju ada apa.?" jawab Ali sambil tetap setia menggenggam tangan Prilly.


"Boleh kan, aku jenguk Amel.?" ucap Prilly.


Ali tersenyum mengangguk.


"Sebentar lagi, saat Amel sudah di ruang inap aku akan ajak kamu kesana ya. ?" ujar Ali.


Prilly menjawab dengan anggukan kepala nya.


"Halo sayang, halo Ali, gimana, apa masih ngobrol kah.?" ujar bunda Prilly yang masuk sambil membawa tentengan.


"Iya nih Tante, nemenin Prilly, Oia Tante tadi temen saya Steven di depan masih ada duduk di ruang tunggu kan Tante.!" tanya Ali.


"Masih tuh di depan, suruh masuk aja dong sekalian. !" ucap bunda nya Prilly, sambil mengeluarkan tentengan yang di bawa nya dari plastik, roti dan beberapa buah.


"Baik Tante.!" ujar Ali lalu bergegas keluar memanggil Steven.


Ali pun masuk kembali bersama Steven.


"Hay Prilly, gimana ke adaan Lo.?" tanya Steven.


Prilly terdiam menatap Steven yang penampilan nya terlihat agak kacau, mata sembab merah seperti habis menangis.


"Hay juga kak. !" ucap Prilly sambil tersenyum tipis.


"Gimana ke adaan Lo.?" tanya Steven lagi sembari duduk di kursi samping ranjang Prilly, sedang kan Ali terlihat membantu bunda Prilly mengupas buah jeruk.


"Alhamdulillah kak, udah baikan kok, em kak Steven.!" gumam Prilly.


"Ya.!" ujar Steven.


"Maafin Prilly ya kak, kakak sedih banget tentu ya apa yang terjadi menimpa Amel, aku merasa bersalah banget kak sama Amel.!" ujar Prilly dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu ga salah kok Prill, ini semua bukan kesalahan kamu, Amel juga tau itu, kamu yang sabar ya. !" ujar Steven.


Prilly hanya tersenyum tipis, Lalu Ali datang membawa beberapa potong buah jeruk.

__ADS_1


"Hay, makan buah dulu ya. !" pinta Ali.


"Di makan Prilly, biar kamu ada tenaga ya nak, bentar lagi makan sore kamu akan di antar sama suster, karna kamu baru sadar, jadi tadi bunda udah minta di di siapin makanan untuk kamu. !" sambung bunda sambil duduk di sofa bersama Steven. Ali mengambil alih duduk di kursi samping ranjang Prilly dan membantu Prilly mengubah posisi jadi duduk bersandar di ranjang.


Ali lalu menyuapi Prilly buah jeruk itu.


"Bun.?" ujar Prilly di sela-sela makan nya.


"Ya sayang.!" jawab bunda nya.


"Bunda nginep di sini kan.?" harap Prilly...


"Mau nya gitu sayang, tapi bunda besok pagi-pagi dan lusa harus meeting, tapi ga apa-apa, bunda coba hubungi Om Dodi buat tunda dulu meeting nya, tadi bunda lupa soal nya.!" ujar bunda nya seraya membuka tas nya untuk mengambil Handphone nya, akan menelpon Om dodi orang kepercayaan bunda.


"Ga usah Bun.!" sergah Prilly.


Bunda nya mengernyit kan kening.


"Kenapa nak.?" tanya bunda.


"Bunda kalau memang meeting nya penting banget, bunda pulang ke Bandung aja ga apa-apa kok Bun, Prilly di sini kan banyak yang jagain, ada Ali, ada kak Steven juga.!" ucap Prilly di angguki setuju oleh Ali dan Steven.


"Iya Tante, tenang aja, kita akan jagain Prilly kok di sini.!" timpal Ali .


Bunda Prilly berpikir sejenak dan menghela nafas nya.


"Kamu serius ga apa-apa bunda tinggal.?" ujar Bunda nya.


Prilly mengangguk tersenyum.


"Ya udah, Ali, Steven, Tante titip Prilly, jangan lupa selalu kabarin Tante ya.!" ujar Bunda Prilly.


"Siap Tante.!" jawab Ali dan Steven.


Bunda Prilly melihat jam di tangan nya sudah menunjukan jam 4 sore.


"Udah jam segini, kalau gitu bunda jalan dulu ya Prilly, soal nya takut kemalaman di jalan. !" ujar bunda nya.


"Iya bunda, bunda hati-hati ya.!" ucap Prilly.


Bunda nya pun menghampiri nya dan memeluk nya.


Prilly mengangguk tersenyum.


Bunda nya pun mengecup kening Prilly, Prilly lalu menyalami tangan bunda nya.


"Baik, Ali, Steven, Tante pamit dulu ya, titip Prilly ya. !" ujar Bunda Prilly.


"Siap Tante.!" jawab Ali.


"Mari saya temenin sampai di depan ya Tante.?" tawar Steven di balas anggukan bunda Prilly.


"Assalamualaikum.!" ujar Bunda Prilly.


"Wa'alaikumussalam.!" ucap Prilly dan Ali.


Bunda Prilly dan Steven pun berlalu keluar dari ruangan Prilly.


Tinggal lah Ali dan Prilly.


"Prill, nih makan lagi jeruk nya ya.!" ujar Ali.


Prilly memakan sepotong lagi dari suapan Ali.


"Nih lagi.!" ucap Ali.


Prilly menggeleng.


"Udah Li.!" ucap nya.


"Loh, kenapa.?" bingung Ali.


"Ntar lagi aja ya, aku mau baring ya. !" ucap Prilly.


"Ya udah aku taruh sini ya buah nya.!" ucap Ali meletak kan piring berisi buah nya dan lalu membantu Prilly berbaring di ranjang nya.


lalu Ali pun menggenggam tangan Prilly dan tangan satu nya mengusap lembut rambut Prilly.


Prilly menatap sayu Ali.


"Kamu capek ya Li, kalau capek tidur aja di sofa itu ya.?" ucap Prilly.

__ADS_1


Ali menggeleng tersenyum.


"Ngga kok, aku cuma sedih aja lihat kamu begini, kamu cepat sembuh ya, Putri salju cepat sembuh ya. !" ucap Ali lirih.


Prilly mulai berkaca-kaca menatap Ali.


"Kamu bener-bener ga lupain masa lalu itu ya Ali, kamu tetap seperti pangeran langit yang dulu kan.?" ujar Prilly lirih.


"Aku tetap pangeran langit Putri, sampai kapan pun aku tetap pangeran langit kamu.!" ucap Ali .


Membuat Prilly tertawa kecil dengan air mata mengalir di pipi nya.


"Loh, kok malah nangis.?" ujar Ali.


"Habis kamu sih bikin sedih, kita kan udah gede Li, masih aja ya kita pake nama panggilan waktu kecil kita.!" ucap Prilly.


"Ya ga ada salah nya kali, memang kita ini benar kan si Pangeran langit dan Putri salju. !" ujar Ali.


Prilly mengangguk tersenyum sambil mengusap air mata nya lalu terdengar pintu di ketuk dan masuk suster sambil membawa makanan untuk Prilly.


"Permisi, mbak ini makanan nya ya, di makan, terus ini obat nya di minum sesudah makan ya.!" ucap Suster mendapat anggukan dari Prilly.


"Baik, Terima kasih ya Suster.!" ujar Ali, Suster pun tersenyum dan berlalu pamit keluar.


"Waktu nya makan ya, habis ini minum obat nya, biar cepat sembuh.!" ujar Ali mulai membantu Prilly duduk bersandar, dan lalu mengambil makanan untuk Prilly.


"Aku suapin ya.!" ucap Ali.


Prilly mengangguk tersenyum.


Lalu Ali pun mulai menyuapi Prilly bubur nya.


Beberapa menit kemudian bubur pun tinggal hampir setengah.


"Udah dong Li, aku udah kenyang.!" pinta Prilly.


"Habisin dong Prill, supaya bisa minum obat dan istirahat. !"ujar Ali.


Prilly menggeleng kan kepala nya.


"Udah kenyang Li.!" rengek Prilly.


Ali pun menghela nafas nya menyerah.


"Ya udah, sekarang kamu minum obat nya ya.!" ujar Ali, lalu menyiap kan obat Prilly dan memberikan pada Prilly, Prilly pun meminum obat nya.


"Ya udah, sekarang kamu istirahat ya.!"ujar Ali membantu Prilly baring kembali.


*


"Ali.!" ucap Steven yang tiba-tiba masuk.


Ali dan Prilly pun menoleh pada nya.


"Ya Steven, ada apa.?" ujar Ali.


"Amel udah di pindahin ke kamar inap, tapi sampe sekarang Amel belum sadar juga Li.!" ucap Steven lesu.


"Gue jenguk Amel dulu, Prill, aku ke Amel dulu ya.!" ujar Ali.


"Ikut Li.!" cegah Prilly.


"Kamu istirahat aja dulu ya, biar Steven yang temui kamu.!" ujar Ali.


Prilly menggeleng cepat.


"Nggak Li,aku pengen ikut, aku pengen ketemu Amel.!" ucap Prilly dengan air mata nya yang ikut mengalir.


Ali pun menyerah.


"Ya udah, kamu boleh ikut.!" ucap Ali lalu mengambil kursi roda di sudut ruangan dekat sofa yang sudah di sediakan.


Ali dan Steven pun membantu Prilly untuk duduk di kursi roda nya.


Ali mendorong pelan kursi roda Prilly keluar ruangan nya..


Terus berjalan pelan mengikuti Steven sampai akhir nya berhenti di depan pintu kamar inap.


"Ini kamar ruangan Amel.!" ujar Steven, ia pun mulai membuka kan pintu.


Lalu.....

__ADS_1


__ADS_2