Saka, My Cool Husband

Saka, My Cool Husband
Episode 1


__ADS_3

Namaku Safina Putri, biasa dipanggil Safina. Usiaku 22 tahun bekerja di sebuah perusahaan besar di Jakarta. Aku tinggal seorang diri di Jakarta, Ayah Ibuku meninggal sejak aku SMP, aku masih memiliki kerabat dekat tapi mereka tinggal di Surabaya. Aku terbiasa bekerja keras sejak Ayah Ibu meninggalkanku, sejak usia 14 tahun aku sudah harus bekerja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari dan sekolahku. Kerabatku sering membantu, tapi aku tidak mau terus hidup dalam bantuan. Beruntung aku dilahirkan dengan otak yang cerdas sehingga aku bisa lulus kuliah dengan beasiswa.


Sudah satu tahun aku bekerja di perusahaan ini, dan ini pertama kalinya aku akan bertemu pemilik perusahaan tempatku bekerja. Diusianya yang masih 29 tahun beliau sudah menjadi pengusaha yang sukses, perusahaannya ada dimana-mana. Aku dengar beliau baru pulang dari mengurus perusahaannya yang ada di Jerman. Sekarang beliau ke Jakarta untuk menengok perusahaan yang ada di sini.


Aku menengok seorang perempuan seksi yang duduk di sampingku. Namanya Mbak Sarah, dia adalah seniorku di perusahaan ini. Meskipun Mbak Sarah sedikit menyebalkan orangnya, tapi dia pekerja keras dan berprestasi. Buktinya sekarang dia dan aku ditunjuk untuk mendampingi bos ke Paris besok. Ya, besok bos ada pertemuan bisnis di Paris, aku dan Mbak Sarah ditunjuk mendampingi beliau untuk membantu dalam presentasi dan membantu keperluan pekerjaan lainnya.


" Pak Saka lama banget ya. Aduh udah nggak sabar. " Lihatlah Mbak Sarah sudah tidak sabar menunggu Pak Saka datang. Tapi memang lama banget si itu bos datangnya.


" Aku yakin, Pak Saka nunjuk aku buat ke Paris karena selain aku cerdas pasti karena kecantikanku. " Kata Mbak Sarah sambil merapikan rambutnya. Hm kepedan sekali dia.


" Berarti aku juga cantik donk Mbak. Hehe " Ucapku membalas ucapan Mbak Sarah yang kelewat percaya diri itu.


" Nggak usah sok cantik deh. Kamu beruntung aja. Nggak ada yang lain. " Pedes sekali ucapan Mbak Sarah ini.


Aku hanya tersenyum miris mendengar ucapannya. Memang sih Mbak Sarah ini cantik, seksi, tinggi. Baju-baju selalu terlihat bagus ya meskipun agak terbuka menurutku dan lagi make upnya itu yang sedikit menor. Berbeda dengan aku, sudah pendek, penampilan apa adanya, jarang make up. Kalau sempat aku hanya memakai bedak dan lip balm Saja. Pakaian aku lebih suka memakai kemeja dan celana panjang.


Ceklek..


Terdengar suara orang membuka pintu ruangan meeting. Pasti itu Pak Saka. Kompak aku dan Mbak Sarah berdiri menyambut kedatangan beliau.


Terlihat laki-laki muda dengan wajah sangat tampan, tinggi, tegap, badan proporsional, dan berwibawa. Aku yakin di tengah kesibukan Pak Saka, beliau menyempatkan diri untuk berolahraga. Terlihat dari postur tubuhnya yang.... Ya kalian tahulah sendiri.


" Kamu boleh keluar Jos. " Kudengar Pak Saka memberi perintah kepada asistennya untuk keluar. Pak Josep, asisten beliau menunduk hormat lalu keluar dari ruangan ini.


Kenapa Pak Saka tidak ingin didampingi asistennya itu ya.


" Kalian sudah tahu tugas kalian bukan? Saya mau kalian menjelaskan apa yang kalian pahami dari materi yang sudah kalian terima. " Setelah duduk, Pak Saka mulai memberi perintahnya. Hm terlihat dingin sekali, dan tidak mau berbasa-basi.

__ADS_1


" Saya dan Safina sudah membuat diagramnya Pak. Silahkan kalau Bapak mau lihat. " Mbak Sarah yang berbicara.


" Baik. " Jawab Pak Saka singkat.


Mbak Sarah bangun dari posisi duduknya dan berjalan ke samping Pak Saka memberikan laptopnya. Pak Saka memang duduk di depan kami, tepatnya di depanku. " Ini Pak. " Ucap Mbak Sarah kepada Pak Saka.


Mbak Sarah? Apa apaan dia. Cih benar-benar ganjen. Apa perlu menjelaskannya sampai mepet-mepet gitu. Haha tapi Pak Saka sama sekali tidak terlihat tergoda, matanya hanya fokus ke laptop. Rasakan itu. Jadi cewek ganjen sih.


" Kamu keluar, temui asisten saya. Suruh dia ambil flashdisk di ruangan saya. " Kata Pak Saka tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.


" Saya Pak? " Tanya Mbak Sarah dengan suara yang hehhh sok dilembut-lembutin. Weekk.. Jijik sekali.


" Memang siapa yang sedang saya ajak bicara. " Pak Saka sepertinya eneg dengan Mbak Sarah.


" Ba...baik Pak. Saya keluar dulu menemui Pak Josep. " Mbak Sarah buru-buru keluar ruangan. Kasihan sekali dia sampai gugup.


" Iya Pak. " Ucapku seraya meraih bolpoin. Pak Saka mulai mendikte dan aku mencatatnya dengan baik mungkin.


" Sekarang ketik catatan itu di bawah diagram ini. " Perintah Pak Saka.


" Baik Pak. " Aku mengangguk menerima perintah.


Aku menunggu Pak Saka memberikan laptop itu.


" Kenapa masih diam? Ambil laptopnya. " Aku bingung dengan ucapan Pak Saka.


" Kamu tidak lihat meja ini terlalu besar? Apa saya harus berdiri memberikan laptopnya? " Katanya sambil menatapku tajam. Bodoh memang kamu Safina.. Aku langsung berdiri menghampiri Pak Saka.

__ADS_1


" Bodoh kok dipelihara. " Aku dengar Pak Saka mengataiku saat aku meraih laptopnya.


" Ma.. maaf Pak. " Aku sedikit tidak ikhlas mengucapkan maaf. Apa perlu mengatakan aku bodoh begitu. Tapi apa dayaku. Mana berani aku protes.


Aku langsung mengetik apa yang tadi didikte Pak Saka.


Satu menit dua menit Pak Saka tidak berbicara apapun lagi. Apa dia marah ya? Ah biarlah yang penting ini diketik dulu. Sudah lima menit aku mengetik, hampir selesai. Kenapa tiba-tiba suasana jadi terasa horor ya? Sunyi sekali. Kira-kira Pak Saka ngapain, ngelihatin aku nggak ya? Apa dia lagi melamun? Lagi mainan hp kah? Ah, aku tidak berani menengok. Mbak Sarah juga lama banget si. Kuberanikan diri melirik Pak Saka yang duduk di depanku.


Deg.


Aku langsung kembali fokus ke laptop. Kenapa Pak Saka ngelihatin aku kaya gitu ya? Ada yang salah dengan wajahku? Aku kembali melirik lagi ke Pak Saka. Lagi? Dia masih tetap pada posisinya dan pandangan lurus kepadaku. Satu detik dua detik tiga detik empat detik lima detik.. Mata kami bertemu, aku tidak berani meneruskan tatap tatapan ini. Aku kembali pura-pura memperhatikan layar laptop, padahal pikiranku entah kemana. Tatapan Pak Saka benar-benar bikin jantungku berdebar.


" Manis. " Satu kata keluar dari mulut Pak Saka, sontak aku langsung mendongak melihat ke Pak Saka. Apa tadi? Pak Saka bilang apa? Manis? Apanya yang manis? Di sini tidak ada teh. Maksud Pak Saka ngomong manis apa ya?


" Ma... maaf Pak. Bapak bilang apa tadi? " Tanyaku sedikit gugup.


Ceklek.. Belum sempat kudengar Pak Saka menjawab, Mbak Sarah datang dari arah pintu lalu menghampiri Pak Saka.


" Maaf Pak sedikit lama. Tadi saya mencari Pak Josep tapi tidak ada. Ternyata Pak Josep sedang ada di toilet. Ini Flashdisknya. " Kata Mbak Sarah.


" Salin diagramnya di situ. " Pak Saka memang memberi perintahnya ke Mbak Sarah, tapi tatapan matanya sedikitpun tidak berpindah dariku.


" Baik Pak. " Mbak Sarah menjauh dari Pak Saka dan mendekat ke arahku. Mulai menyalin file ke flashdisk.


Aku memerhatikan Mbak Sarah menyalin file diagram, sama sekali tidak berani menengok ke Pak Saka. Entah, tatapannya itu benar-benar membuatku berdebar. Apa aku siap pergi bersamanya besok ke Paris. Itu artinya aku akan sering bertemu dengannya selama di sana. Huh, ditatap seperti itu saja aku sudah tidak karuan bagaimana selalu berada di dekatnya. Pak Saka.... Pesonamu benar-benar...


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2