
Author Pov
" Apa-apaan dia, berani membuat keributan di rumahku. Apa karena sudah merasa menjadi istriku jadi seenaknya begitu. " Saka sedang meluapakan emosinya di ruang kerja. Setelah memarahi Safina, dia langsung pergi ke ruang kerjanya. Dia kesal kepada perempuan itu tapi juga tidak tega melihat matanya berkaca-kaca.
" Ahhhhh!!!! " Saka kesal karena baru sekarang dia merasa bersalah sudah memarahi seseorang.
Josep yang sedang berdiri tak jauh dari Saka merasa tidak tega dengan Safina. Dia tahu Safina tidak bersalah.
" Maaf tuan, Nona tidak bersalah. Non Agnes yang berjalan dan menabrak Nona. " Josep mencoba memberi tahu bosnya.
" Maksudmu? " Tanya Saka.
" Tadi saya melihatnya Tuan. Nona sedang mengambil makan bersama temannya, Non Agnes menabrak Nona dari samping karena tidak fokus berjalan. Non Agnes berjalan sambil melihat handphonenya. " Jelas Josep sambil menundukan kepala menghormati tuannya.
Saka terkejut mendengar penjelasan asistennya. Mama, maafkan anakmu yang bodoh ini. Sudah memarahami menantu pilihanmu. Bodoh? Ya, Saka jadi ingat, tadi dia mengatai Safina bodoh di depan umum. Kenapa dia tidak berpikir dulu tadi. Bagaimana Safina sekarang.
" Jos, cari Safina. Bawa dia ke kamarku. " Perintah Saka kepada Josep. Josep sedikit terkejut, pasalnya, bosnya tidak suka jika ada orang lain yang masuk ke kamarnya. Kecuali pembantu yang akan membereskan, itupun pembantu pilihan. Agnes saja yang sudah lama menjadi teman baik Bosnya, tidak diizinkan masuk ke kamar bosnya itu. Meski begitu, Josep tetap mematuhi perintah bosnya. " Baik Tuan. "
Josep mengelilingi rumah bosnya mencari keberadaan Istri bosnya itu. " Semoga Nona belum pergi. " Doa Josep dalam hati.
__ADS_1
Ketika sampai di taman yang berada di samping pekarangan rumah, Josep melihat dua perempaun yang sedang duduk. Josep segera menghampiri mereka.
Josep membungkuk sebentar memberi hormat kepada Safina. " Nona, mari ikut saya. " Kata Josep dengan sopan.
Laras terlihat bingung, kenapa asisten bosnya bisa bersikap begitu kepada temannya. Seperti kepada majikannya saja.
" Kemana Pak? " Tanya Safina bingung.
" Ikutlah saja Nona. "
" Yasudah. Laras, aku tinggal ya? " Safina berdiri.
" Tidak apa-apa. Kamu pulanglah. Sudah malam. " Kata Safina menyuruh Laras pulang duluan.
" Tapi nanti kamu bagaimana?" Laras tidak tega membiarkan Safina pulang sendiri dengan kondisi kaki yang terluka.
" Tidak apa-apa. Aku masih kuat naik motor kok. Sakit begini bagiku hal kecil. " Safina tersenyum untuk meyakinkan temannya.
" Baiklah. Aku pulang ya. Kalau ada apa-apa, telpohone aku. " Laras beranjak berdiri hendak pergi. Safina mengangguk tersenyum. Senang rasanya punya teman sebaik Laras.
__ADS_1
" Hati-hati. " Kata yang diucapkan Safina sebelum Laras menjauh.
" Mari Nona. " Ucap Josep menyadarkan lamunan Safina.
" Iya. " Safina mengikuti langkap Josep dengan sedikit kesusahan karena kakinya yang terluka. Tapi sebisa mungkin dia tahan.
Padahal masih dalam satu rumah, tapi rasanya Safina sudah berjalan jauh. Mungkin karena rumahnya yang terlalu besar.
Josep berhenti di depan pintu besar. Safina ikut berhenti.
" Silahkan masuk Nona. " Ucap Josep mempersilahkan setelah dia berbalik menghadap Safina.
" Tapi......" Safina Nampak ragu.
" Tidak apa-apa Nona, saya akan memanggil tuan. Nona bisa menunggu di dalam. " Ucap Josep meyakinkan. Safina sedikit bingung, tuan siapa yang dimaksud Josep. Pak Saka? Mungkinkah? " Apa dia mau bertemu denganku setelah kejadian tadi? " Pikir Safina. Tapi dia tetap masuk setelah Pak Josep membukakan pintu.
Pintu kembali ditutup Josep dari luar. Safina memperhatikan ruangan itu. " Ini kamar kan? " Ucap Safina. Safina terkagum dengan kamar yang sedang ia pijaki. Luasnya saja melebihi kontrakannya. Benar-benar orang kaya, kamar bisa selengkap ini. Kenapa tidak diberi dapur sekalian di kamar biar lebih komplit kan?
Karena perih di kakinya semakin terasa, akhirnya Safina melangkah ke sofa yang ada di kamar itu. Ia mendudukkan dirinya di sana. Setelah bekerja seharian dan karena kejadian tadi, dia benar-benar lelah. Dia tidak tahan dengan rasa kantuk yang menyerang. Tanpa sadar, dia menselonjorkan kakinya di sofa dan tertidur.
__ADS_1