Saka, My Cool Husband

Saka, My Cool Husband
Episode 3


__ADS_3

Saka Pov


" Ma.. maaf Pak. Maaf. " Itu kata terakhir yang kudengar darinya sebelum dia berlalu pergi. Beruntung aku bisa menguasi diriku agar tak terlihat gugup. Jantungku benar-benar berdegup kencang saat tanganku tak sengaja melingkar di tubuhnya. Ya, dia tadi hampir jatuh. Benar-benar gadis yang ceroboh. Semoga dia tidak mendengar detak jantungku tadi.


Safina, yang kutahu namanya Safina. Entahlah sejak aku memarahinya kemarin, aku jadi selalu ingin menatap wajahnya. Aku rasa dia sudah berusia 20 tahunan, melihat dia yang sudah bekerja di perusahaanku aku yakin dia sudah lulus kuliah. Pasti usianya sudah 20 tahunan. Tapi dia benar-benar seperti anak remaja. Dia masih terlihat seperi anak SMA, manis dan menggemaskan. Aku benar-benar suka ketika melihat wajahnya yang gugup, terlihat imut dan menggemaskan. Cantiknya benar-benar alami tanpa polesan make up.


Aku rasa aku tertarik dengan dia, tapi aku tidak akan menunjukkannya. Mana mungkin seorang Saka Nugraha menunjukkan sisi lemah di depan wanita. Apalagi gadis kecil seperti dia. Wibawaku bisa hancur.


Tunggu, apa yang aku pikirkan. Sadarlah Saka, dia hanya karyawanmu. Lebih baik aku menelpon mamaku, aku akan memberi kabar bahwa aku akan tiba di Paris beberapa jam lagi. Mama memang tinggal di Paris. Setelah Papa meninggal, Mama ingin melewati masa tuanya di Paris. Kata Mama, Paris adalah tempat penuh kenangan bersama Papa. Mereka pasangan yang romantis.


Author Pov


Sampai di Paris Saka dan karyawannya yaitu Safina dan Sarah, tidak lupa Josep asisten setia Saka, langsung menuju ke hotel untuk beristirahat setelah perjalanan jauh di pesawat. Kamar mereka berdampingan, Saka sendiri, Asisten Josep sendiri, sedangkan Safina satu kamar dengan Sarah.


Selama dua hari mereka melakukan pekerjaan dengan lancar tanpa ada kendala. Sampai pada hari ketiga Saka mendapat kabar bahwa mamanya dilarikan ke rumah sakit. Padahal ketika baru sampai di Paris, malamnya Saka langsung ke rumah mamanya dan mamanya sedang dalam keadaan baik-baik saja. Sekarang dia mendapat kabar kalau mamanya drop dan dilarikan ke rumah sakit. Saka yang panik langsung ke rumah sakit dengan mengajak Safina. Karena pada saat itu Safina yang sedang bersamanya setelah menemui rekan bisnis di salah satu lestoran Paris.


Saka dengan cepat menuju ruangan mamanya di rawat. Setelah pintu terbuka nampak seorang wanita berusia 50 tahunan sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan selang infus yang menempel di tangannya, serta beberapa selang dan kabel-kabel yang lain, menandakan bahwa mamanya sedang dalam kondisi tidak baik.

__ADS_1


" Ma.. " Saka mengusap lembut kepala mamanya.


Mama Saka terlihat membuka matanya.


" Saka.. " Panggil Mama Saka.


" Iya Ma. Saka di sini. " Saka berkata dengan sangat lembut penuh kasih sayang. Memang hanya kepada mamanya saja Saka tidak menunjukan sisi dingin dan galaknya.


" Saka, sepertinya mama tidak akan lama lagi. " Lirih mama.


" Mama jangan berkata seperti itu Ma. Mama akan sehat. " Ucap Saka menguatkan sang mama.


" Ma? " Saka terlihat tidak senang dengan ucapan mamanya. Tapi tetap berkata lembut.


" Mama mohon Saka. Mama benar-benar ingin melihat kamu menikah. " Lirih Mama mengelus tangan putra satu-satunya.


Di lain sisi, Safina yang menunggu luar merasa ragu untuk masuk. Dia ingin memberi tahu Pak Saka kalau Pak Josep mengabari sore nanti mereka akan kembali ke Jakarta. Dengan keberanian yang susah payah dia kumpulkan, Safina membuka pintu ruangan Ibu dari bosnya dirawat. Saka dan Mama kompak melihat ke pintu.

__ADS_1


" Permisi Pak.. Nyonya.. Barusan... " Belum sempat Safina menyelesaikan kalimatnya, sudah dipotong oleh Mamanya Saka.


" Kamu siapa? " Tanya Mamanya Saka.


" Ee... Sa.. saya? " Tanya Safina memastikan. Padahal sudah jelas Mamanya Saka bertanya pada dirinya, karena tidak ada orang lain lagi selain mereka.


" Dia Safina ma.. Dia.." Kembali Mamanya Saka memotong pembicaraan.


" Kamu pacarnya Saka? Cantik sekali. Kemarilah nak. " Saka dan Safina terkejut mendengar Mama yang mengira mereka pacaran.


" Saka, Mama mohon. Segeralah nikahi Safina. " Ucap Mama menggenggam tangan Saka. Belum Saka menjawab ucapan mamanya, Mama Saka terlihat kesusahan bernafas. Saka benar-benar panik. Safina yang berdiri di ambang pintu juga langsung mendekati Saka dan Mamanya, dia juga terlihat panik. Dia melihat tombol di sebelah ranjang Mama Saka, dia yakin itu tombol darurat untuk memanggil suster jika terjadi apa-apa. Langsung saja dia memencet tombol itu. Tak lama doktet dan perawat masuk.


" Saka, niiiikahhi Safina se...karang. " Dengan suara pelan Mama mengucapkan itu.


Dokter berusaha memberikan pertolongan kepada Mamanya Saka.


Saka meraih handphone dan menghubungi seseorang. " Josep, siapkan segala kebutuhan pernikahan sekarang...... "

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2