
Saka telah sampai di Bandung. Dari sejak pertama dia menginjakkan kaki di pembangunan proyek, Agnes tidak pernah berhenti mengekorinya. Dia benar-benar merasa risih. Dulu sebelum bertemu Safina, Saka biasa saja dengan kehadiran Agnes karena memang Agnes satu-satunya teman dekat perempuannya. Tapi sekarang, rasanya dia tidak ingin berdekatan dengan perempuan manapun kecuali Safina, istrinya.
" Bukankah survey kita sudah selesai? Kenapa masih mengikutiku. " Saka berkata pada Agnes.
" Lalu aku harus dengan siapa? Dengan pekerja-pekerja itu? " Kesal Agnes. Entalah, dia merasa Saka tidak seramah dulu.
" Terserah. " Hanya itu jawaban Saka.
Agnes merasa Saka berubah semenjam Tante Lidya, mamanya Saka meninggal. Agnes tidak tahu kalau Saka sudah menikah, dia hanya mengira Saka berubah sangat dingin kepadanya karena dia tidak datang ke pemakaman Tante Lidya. Agnes yakin seiiring berjalannya waktu, Saka yang baik padanya akan kembali.
" Aku akan pulang. " Kata Saka membenarkan jasnya.
" Kita baru saja selesai. " Heran Agnes.
" Tujuanku kemari hanya mengecek. Kalau sudah ya pulang. "
" Kenapa tidak jalan-jalan dulu. Di sini kan sejuk.. Ayolah.. " Bujuk Agnes menarik tangan Saka.
Saka melepas tangannya dari tarikan Agnes. Kalau saja yang merayunya adalah Safina, sesibuk apapun pasti akan dia sempatkan. Tanpa mempedulikan Agnes, Saka berjalan menuju ke mobil diikuti Josep yang memang sejak tadi berada di sekitar Saka.
" Menyebalkan. " Kesal Agnes. " Tesa, kita pulang. " Kata Agnes mengajak asistennya pulang.
Agnes kepikiran bagaimana kalau dia datang ke rumah Saka. Pasti Saka langsung pulang.
Dia menyuruh supirnya agar tidak kembali ke kantor atau rumah, tapi mampir ke rumah Saka. Tidak apa lelah, yang penting bisa menghabiskan waktu bersama Saka.
Sekitar tiga jam perjalanan akhirnya mobil Agnes sampai di rumah Saka. Benar dugaannya, Saka langsung pulang ke rumah. Karena merasa sudah akrab dengan Saka, Agnes masuk tanpa permisi, beberapa penjaga juga sudah kenal Agnes jadi mereka mempersilahkan Agnes masuk.
Sebelum menaiki tangga, dia melihat seorang perempuan. Perempuan itu terlihat masih muda, memakai celana santai selutut dan kaos putih polos, rambutnya hanya sepanjang bahu.
Agnes mengira dia salah satu pelayan atau anak pelayan di sini. " Hei kau, pelayan. Bisakah kau membuatkanku minum? " Safina menoleh lalu terkejut melihat perempuan yang menyuruhnya membuat minum.
" Aku bicara padamu. " Kesal Agnes karena perempuan muda di depannya ini tidak merespon. Agnes tidak ingat siapa perempuan ini, tapi Safina jelas ingat betul.
__ADS_1
" Tunggu.. Kenapa sepertinya aku tidak asing denganmu ya... " Tanya Agnes kepada Safina.
Safina tidak mau membuat keributan, nanti Saka akan marah. " Maaf Nona, mungkin anda salah orang. "
" Benar juga. Mana mungkin orang sekelasku mengenalmu. " Tersenyum sinis kepada Safina. " Tolong buatkan aku minum lalu antarkan ke ruang kerja Saka. " Setelah memberi perintah, dia pergi begitu saja.
Safina menarik nafas dalam-dalam. " Sabar Safina sabar.... " Mengusap pelan dadanya.
Sedangkan diruang kerja Saka, dia terkejut karena tiba-tiba Agnes masuk tanpa mengetuk pintu.
" Hai Saka. " Sapa Agnes dengan percaya dirinya.
" Kenapa kau kemari. " Heran Saka.
" Mengunjungi sahabatku. Apalagi. "
Duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Saka. Saka tidak mempedulikan Agnes, dia hanya fokus menatap laptop dan beberapa berkas di tangannya.
Ceklekk.. Pintu kembali terbuka. Muncul Safina dengan membawa dua gelas jus di atas nampan. Saka terkejut.
Saka memelototi Safina dalam hatinya bilang apa-apaan dia ini. Tapi Safina tidak mempedulikannya, dia langsung keluar ruangan.
" Pelayanmu benar-benar tidak sopan. " Kata Agnes.
" Lebih baik kau pulang. Aku sedang sibuk. " Kata Saka keluar dari ruangan kerjanya. Agnes mengikuti Saka keluar dari ruangan kerja Saka.
" Saka.. " Panggil Agnes.
Tidak ada jawaban dari Saka, Dia berjalan menuju kamarnya. Kalau sudah masuk kamar, Agnes tidak berani mengikuti Saka. Saka akan marah besar kalau ada orang lain yang masuk kamarnya. Dengan kesal Agnes turun melewati tangga, dia sempat berpapasan dengan Safina sebelum menuruni tangga.
Agnes melirik kesal kepada Safina, lalu berjalan terburu-buru menuju ke pintu.
" Kenapa dia. " Heran Safina. Mengedikan bahu lalu menuju ke kamar.
__ADS_1
Safina memasuki kamar, terlihat Saka sedang duduk berselonjor di atas ranjang sambil bersedekap dada dan menatap tajam dirinya.
" Aku nggak salah masuk kamar kan? Kenapa yang ada malah singa. " Ucap Safina dalam hati melihat tatapan tak bersahabat dari Saka.
" Kunci pintunya. " Safina menurut saja, bebalik sebentar lalu mengunci pintunya.
" Kemari. " Lagi, Safina benar-benar patuh, tatapan mata Saka benar-benar menghipnotis sampai dia mematuhi apapun perintahnya.
" Ada apa? " Tanya Safina setelah sampai di pinggir ranjang. Berdiri sambil menatap ragu pada mata Saka.
Di lihatnya Safina dari atas sampai bawah. Celana santai yang panjangnya sampai lutut, kaos putih polos, dan rambut pendek sebahu yang dibiarkan tergerai bebas. Safina benar-benar terlihat imut ditambah memang postur tubuh Safina yang sedikit pendek dan kecil tapi badannya cukup berisi.
Safina benar-benar merinding ditatap seperti itu oleh Saka. " Sayang? Ada apa? " Tanya Safina sekali lagi.
Saka menarik pelan tangan Safina, menuntunnya agar duduk di atas pangkuannya. Safina menurut saja, tapi sejujurnya dia gugup dengan posisi sedekat ini.
" Sayang.. Ada apa? " Tanya Safina. Lagi, Saka tidak menjawab. Hanya memandang Safina dengan tatapan yang tidak Safina mengerti.
Safina melotot kaget, lagi-lagi Saka memberi serangan dadakan. Tapi meskipun Saka terlihat kesal, dia tetap menciumnya dengan lembut. Setelah dirasa cukup, Saka menghentikan ciumannya. Menatap dalam mata Safina.
Ketika Saka akan kembali mencium, Safina menahan wajah Saka agar tidak mendekat.
" Mau apa. " Kesal Safina.
" Memakanmu. " Jawaban Saka membuat mata Safina membelalak.
" Is, ini masih sore. Jangan bertindak mesum. " Ucap Safina semakin kesal.
" Memangnya kenapa. Mau sore, malam, atau siang sekalipun.. Kita bebas melakukannya. " Ucap Saka sambil memberikan senyum menggodanya.
Saka membaringkan Safina lalu terjadilah apa yang diinginkan Saka...
Dasar Saka.
__ADS_1
Bersambung....