
Motor Saka memasuki halaman kantor. Dia menghentikan motornya di depan pos satpam.
" Loh. Pak Saka? " Ucap salah satu satpam setelah melihat wajah Saka.
Saka meletakkan helemnya di kaca spion.
" Tolong pindahin motor saya ya. " Ucap Saka.
" Siap pak. " Sahut satpam yang menghampiri Saka. Kemudian matanya menoleh ke perempuan yang baru saja turun dari motor Saka.
" Sini helemnya. " Ucap Saka menerima helem dari tangan Safina, lalu menyerahkannya kepada satpam. Satpam itu tidak berani tanya siapa perempuan yang baru saja dibonceng bosnya. Dia hanya mengenali perempuan itu sebagai karyawan di kantor ini.
" Ayo. " Menarik pergelangan tangan Safina dan mengajaknya masuk ke dalam kantor.
Safina menundukan wajahnya ketika berpapasan dengan karyawan lain. Mereka menyapa suaminya dengan sopan, tapi mata mereka menatap heran ke arahnya. Safina bahkan mendengar beberapa ada yang berbisik di belakang mereka.
" Sayang, mereka semua memperhatikan kita. " Bisik Safina di telinga Saka.
Saka dengan wajah dinginnya tidak mempedulikan sekitar. " Biar saja. " Ucapnya membalas perkataan Safina.
Safina menoleh ke Saka yang ada di sampingnya, karena tiba-tiba laki-laki itu menghentikan langkahnya.
__ADS_1
" Apa kalian sudah bosan bekerja? Sampai berani membicara bos kalian dan istrinya. " Teriak Saka kepada karyawan yang terlihat saling berbisik.
Beberapa karyawan yang baru saja dimarahi Saka terkejut tak percaya. Perempuan di samping bos mereka yang tak lain adalah karyawan di kantor ini juga adalah istri bosnya?
" Kembali ke tempat kalian. " Karyawan-karyawan itu langsung bubar dan kembali ke ruangan kerja mereka.
Meskipun di depan Saka mereka berhenti berbisik, pasti di belakang mereka tidak akan berhenti bergosip tentang bos mereka dan istrinya.
" Selalu saja marah-marah. " Ucap Safina sesaat sebelum berjalan mendahului Saka.
" Hei. Mereka membicarakanmu. " Ucap Saka mengejar Safina.
" Sudah sampai sini saja. Jangan mengikutiku terus. " Ucap safina mencegah Saka yang mau ikut masuk ke dalam ruangan Safina.
Bukannya menurut, Saka malah mendahului Safina. Di dalam sudah ada Sarah, Antonio, dan Laras. Mereka sontak berdiri melihat kedatangan bosnya.
" Pak Saka? Selamat datang di ruangan kami Pak. " Ucap Sarah menghampiri Saka. Tapi kemudian matanya menatap heran karena Pak Saka datang bersama dengan Safina. Apa cuma kebetulan?
Safina berjalan santai ke kursinya dan langsung mendudukan tubuhnya di sana. Hal itu semakin membuat heran Sarah. Kenapa Safina tidak takut bersikap seperti itu? Dia tidak melihat ada Pak Saka di sini? Berbeda dengan Antonio dan Laras yang tidak menampakan ekspresi kebingungan. Karena mereka sudah tahu kalau Safina adalah istri Saka.
Saka berjalan ke arah Safina. Lalu berdiri tepat di samping gadis itu duduk.
__ADS_1
" Bekerjalah yang rajin istriku. " Mengelus kepala Safina dengan lembut. " Jangan lupa nanti makan siang datang ke ruanganku. " Lanjutnya kemudian membungkukan badan memberi kening Safina dengan sebuah ciuman singkat.
Kedua mata Sarah melotot tak percaya melihat perlakuan Pak Saka terhadap Safina. Apa tadi? Istri?
Safina sendiri merasa malu diperlakukan seperti itu. Bukannya dia tidak suka, tapi di sana ada orang lain yang sejak tadi memperhatikannya dan Saka.
Saka keluar dari ruangan itu tanpa melirik tiga karyawan lain yang sedang membuka mata mereka lebar-lebar.
" Duh pengantin baru.. " Ledek Antonio yang sudah kembali duduk di kursinya setelah Saka pergi.
" Nggak... Ini salah kan? Aku cuma mimpi kan? Nggak mungkin.. " Ucap Sarah menepuk-nepuk pipinya sendiri. " Pak Sakaku... Sudah menikah? " Lanjutnya.
" Iya dan dia menikah dengan teman kita.. Safina.. " Sahut Laras sambil tersenyum manis kepada Safina. Sedangkan Safina hanya membalasnya dengan senyuman.
Sarah memandang sinis ke arah Safina.
" Cih. Nggak usah sombong ya. Jadi istrinya Pak Saka. Pasti Pak Saka terpaksa nikahi kamu. " Ucap Sarah lalu kembali duduk di kursinya.
Safina berusaha meyakinkan hatinya untuk tidak sakit dengan ucapan Sarah. Memang Saka menikahinya karena terpaksa kan? Meskipun pada akhirnya laki-laki itu jatuh cinta padanya. Tapi tetap saja, mereka menikah bukan rasa cinta sejak awal. Mengingat itu membuat hati Safina sedih. Apa Saka benar-benar sudah sepenuhnya jatuh cinta pada dirinya?
.........
__ADS_1