Saka, My Cool Husband

Saka, My Cool Husband
Episode 14


__ADS_3

Mobil yang dinaiki Safina memasuki halaman rumah, terlihat mobil yang tadi pagi dibawa Saka sudah terparkir di halaman, itu artinya dia sudah pulang. Safina segera turun dari mobil tanpa menunggu Pak Heri membukakan pintu. Dia bergegas masuk ke rumah mencari suaminya.


Setelah mencari ke kamar, ruang kerja, dan ruang tengah, akhirnya Safina melihat suaminya sedang duduk di meja makan. Sepertinya Saka baru selesai makan, padahal Safina membawakan batagor.


" Saka, kamu udah makan? " Tanya Safina menghampiri Saka dan ikut duduk di samping Saka.


Tidak ada jawaban dari Saka. Saka malah asik bermain ponsel. " Saka, tadi di jalan aku beli batagor. Kamu coba ya? Mau aku siapin? " Sambil mengeluarkan dua bungkus batagor dari dalam kantong plastik. Lagi-lagi Saka tidak menjawab.


" Saka. " Panggil Safina sambil menahan lengan Saka yang beranjak pergi.


" Makan sendiri. " Kalimat itu yang keluar dari mulut Saka.


Safina menyerngit heran. " Kamu udah makan ya? Yaudah cobain aja sedikit. Ini makanan kesukaanku. " Safina masih mencoba.


" Apa kau lupa siapa aku? Aku tidak mungkin makan makanan pinggir jalan. " Safina melepas pegangan tangannya pada Saka. Membiarkan Saka menjauh dari dapur. Perkataan Saka mengingatkan siapa dirinya dan siapa Saka. Mereka berbeda.


" Kenapa Saka jadi dingin seperti itu? " Pikirnya. Safina sadar, dia harus siap menerima ini. Saka memang suka berubah semaunya, sebentar manis sebentar lagi dingin.


" Permisi Non. Nona mau makan? Nanti biar bibi siapkan. " Safina tersadar dari lamunannya lalu menoleh kepada Bi Astin. Salah satu pelayan di rumah Saka.


" Tidak usah bi. Emm bi, ini tadi aku beli batagor. Tapi sepertinya Saka tidak suka, bibi makan saja, atau kasih siapa yang mau. " Tutur Safina sambil menyerahkan kantong plastik berisi batagor.


" Lalu Nona? " Tanya Bi Astin.


" Aku udah kenyang. " Jawab Safina. Jujur saja sekarang dia tidak berselera makan lagi.


" Terima kasih Nona. " Safina mengangguk tersenyum.


Safina berjalan menuju ke kamar. Sepi, Saka tidak ada di kamar. Diletakannya tas kerja Safina lalu mengambil baju tidur yang ada di ruang baju. Dia masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih dan mengganti bajunya.


Dua puluh menit Safina sudah selesai bersih-bersih, keluar dari kamar mandi bersiap untuk istirahat. Saka belum juga kembali ke kamar.


" Mungkin dia masih banyak kerjaan. " Pikirnya dan langsung merebahkan diri di kasur. Menyelimuti tubuhnya.


Sedangkan di ruangan kerjanya, Saka masih fokus pada laptopnya. Mengecek email yang masuk. Tok tok. Terdengar suara pintu diketuk. " Masuk. " Sahut Saka dari dalam.


Pak Heri melangkah masuk dan menunduk hormat kepada tuannya, " Tuan memanggil saya? " Tanya Pak Heri sopan.


Saka mengalihkan pandangannya ke Heri.


" Apa kau tadi selalu bersama Nona? " Tanya Saka.


" Iya Tuan. "


" Lalu kenapa tadi Nona naik motor bersama laki-laki. " Tanya Saka lagi.

__ADS_1


" Oh, itu teman Nona, Tuan. " Jawab Saka.


" Kenapa kau tahu kalau itu cuma teman? Memang kau bapaknya? " Kata Saka dengan sorot mata tajamnya.


" Nona sendiri yang bilang Tuan. Nona dan teman laki-lakinya bermaksud menjenguk temannya yang sakit. Kalau Nona naik mobil bersama saya, Nona takut temannya curiga. Nona bilang, Nona tidak mau orang kantor tahu kalau Nona istri tuan karena takut tuan marah. " Jelas Heri panjang lebar.


" Lalu kau kemana waktu itu " Tanya Saka.


" Nona meminta saya mengikutinya dari belakang. " Jawab Heri.


Terdengar helaan nafas panjang dari Saka. " Yasudah kau boleh keluar. "


" Baik. Permisi Tuan. " Heri keluar dari ruangan kerja Saka.


Saka segera menutup laptopnya dan bergegas ke meja makan. Mungkin Safina masih makan. Tapi sesampainya di meja makan, Safina tidak ada. Bahkan makanan yang tadi dihidangkan di meja juga sudah dirapihkan semua.


" Tuan butuh seuatu? " Tanya Bi Astin menghampiri Saka.


" Apa Nona sudah makan? " Tanya Saka.


" Belum Tuan. Tadi batagor yang dibawa Nona juga diberikan kepada saya. " Jawab Bi Astin. Tanpa mengatakan apapun lagi Saka langsung pergi. Dia ingin segera menemui Safina.


Didekatinya perempuan yang terbaring di kasur. " Sayang, bangunlah. " Safina membuka matanya karena merasa ada yang mengelus kepalanya.


" Tidak. Aku tidak lapar. " Safina berucap dengan suara pelan. Menahan air mata yang siap meluncur dari ujung matanya.


" Nanti kau sakit kalau tidak makan. " Saka masih setia membujuk istrinya.


" Tidak. Aku mengantuk, ingin tidur. " Lirih Safina.


Saka menarik tubuh Safina sehingga Safina sekarang dalam posisi duduk. " Kau berani melawanku? Aku suruh makan ya makan. " Saka berbicara pelan tapi penuh penekanan dan sorot mata yang tajam.


Air mata lolos begitu saja dari mata Safina. Dia menunduk takut, tidak berani menatap Saka. Saka menghela nafas panjang menahan emosinya. Sorot matanya kini berubah lembut.


" Sayang.. Kalau kau tidak makan, nanti kau sakit. Menurutlah. Aku tidak mau kau sakit. " Sambil menghapus air yang menetes dari sudut mata istrinya.


" Aku benar-benar tidak lapar. Aku ingin tidur. "


" Yasudah. " Saka membaringkan Safina lalu ikut berbaring di samping istrinya.


" Maaf ya kalau tadi aku menyakitimu. " Ucap Saka melingkarkan tangannya untuk memeluk Safina.


Safina mengangguk. " Maaf juga. Aku sudah lancang mau memberimu makanan yang tidak kau sukai. Maaf, Seharusnya aku paham kalau kau hanya makan makanan dari lestoran mahal. "


" Tidak bukan begitu.. " Saka terlihat gusar. Karena marah dia jadi salah bicara.

__ADS_1


" Aku masih kesal tadi, sampai salah bicara. Maaf ya? Lain kali aku akan makan apapun yang kau berikan. Sekalipun itu racun. " Lanjutnya.


Safina mencubit pelan perut suaminya. " Kau pikir aku pembunuh? " Kesalnya.


" Dan aku rela jika aku mati di tangan pembunuh sepertimu. " Mereka tertawa bersama.


" Saka.." Panggil Safina pelan.


" Kenapa? " Masih setia memeluk Safina.


" Sabtu nanti karyawan kantor akan berlibur ke Bali, apa kau ikut? " Tanya Safina.


" Iya. Tapi aku tidak berangkat bersama karyawan. Aku akan menyusul nanti. Apa kau mau berangkat bersamaku? "


Safina menggelang pelan dalan pelukan Saka. " Tidak, aku bersama teman-teman kantor saja. "


" Baiklah. " Saka seperti sedang memikirkan sesuatu.


Hening.....


" Fina.. " Panggil Saka pelan.


Safina mendongak menatap wajah suaminya. Saka tersenyum menatap wajah istrinya. Safina menyerngit heran, kenapa Saka tiba-tiba tersenyum.


" Bolehkah.. Aku melakukannya sekarang? " Tanya Saka penuh kehati-hatian.


Safina terlihat bingung. " Melakukan apa? " Tanya Safina polos.


Diusapnya bibir mungil Safina dengan ibu jari Saka. " Tentu saja, apa yang biasa dilakukan suami istri. " Saka tersenyum nakal.


Bluss.. Pipi Safina merona seketika. Dia benar-benar malu. Bisa-bisanya Saka mengatakan itu.


Hal itu memang pasti akan terjadi, Saka adalah suaminya, dia berhak atas itu. Dengan malu-malu, Safina mengangguk pelan.


Saka tersenyum bahagia, dielusnya pipi mulus sang istri dengan lembut. Lalu jarinya beralih mengusap lembut bibir mungil sang istri. Malam itu terjadilah apa yang seharusnya terjadi....


Safina telah menjadi istri Saka seutuhnya. Milik Saka seutuhnya.. Keduanya diliputi rasa bahagia dan cinta.


" Aku mencintaimu. " Ucap Saka setelah selesai melakukannya.


Safina tersenyum manis. " Aku juga mencintaimu sayang. " Balas Safina dengan raut wajah lelah.


" Sekarang dan seterusnya panggil aku seperti itu. " Pinta Saka.


" Iya sayang. " Keduanya menutup mata dan tertidur saling berpelukan.

__ADS_1


__ADS_2