
Safina Pov
Gara-gara Saka sekarang aku jadi satu-satunya karyawan yang terlantar di halte depan kantor. Aku bingung mau pulang bagaimana. Tadi siang setelah makan siang bersama di ruangannya, aku tidak diizinkan kembali ke ruanganku. Alasan masih rindulah. Pengen berduaanlah. Aku baru bisa keluar ketika ada Pak Josep memberikan berkas yang butuh tanda tangan Saka. Selagi dia sibuk menandatangani berkas, aku gunakan kesempatan itu untuk kabur. Haha.. Dia bahkan sampai berteriak memanggilku, tapi tidak kupedulikan.
Sampai di ruangan aku kena semprot Mbak Sarah. Pekerjaanku terbengkalai. Lembur deh karena Mbak Sarah nggak mau tahu, tugasku harus selesai hari ini. Satu jam aku menunggu bus tidak ada satupun yang lewat. Mau naik taksi tapi uangku tidak cukup. Jarak kantor ke rumah Saka cukup jauh. Sedangkan motorku ada di rumah Saka. Aku yakin sekarang dia sudah ada di rumah mewahnya itu. Katanya tadi sore ada pertemuan dengan klien, setelah bertemu klien pasti dia langsung pulang. Ngapain ke kantor lagi, udah sepi.
Ting.. Satu pesan masuk ke ponselku. Nomor baru? Siapa ya?
0853xxxxxxxxx
Kau dimana? Kenapa belum pulang?
Apa kau pulang ke kontrakanmu?
Aku yakin ini pasti pesan dari dia. Cih, aku pulang terlambat juga gara-gara siapa. Tapi, kok dia bisa tahu nomorku ya?
Jangan heran Safina, suamimu orang hebat, dapat nomormu itu hal kecil baginya.
Ting.. Satu pesan lagi dari dia.
0853xxxxxxxxx
Jika sampai kau tidak pulang. Awas!!
__ADS_1
Apa-apaan dia, mainnya ngancam-ngancam. Tidak tahu apa aku sedang kesusahan. Huh, tidak akan aku balas pesanmu. Rasakan. Tapi sebaiknya aku simpan dulu nomornya.
Ting..
Suami Menyebalkan
Kenapa tidak dibalas? Fina!!!!!!!
Baru selesai baca pesannya, dia sudah menelpon. " Halo Fina. Kau dimana. " Aku sedikit menjauhkan ponselku. Galak sekali.
" Kalau dalam sepuluh menit kau tidak pulang, awas kau. " Ancamnya
" Tidak bisa Saka. Jarak kantor ke rumahmu jauh. Mana bisa sampai secepat itu. " Protesku.
" Aku lembur. Sekarang sedang nunggu bus di halte. " Jawabku.
" Apa? Kenapa tidak menghubungiku. Kau dengan siapa di sana? " Bagaimana mau menghubungimu Saka, nomormu saja aku baru punya. Dasar.
" Sendiri. " Jawabku malas.
" Apa? Malam-malam begini kau sendirian di halte? Sekarang, kau kembali ke kantor. Tunggu di pos satpam. Jangan kemana-mana, aku akan menjemputmu. " Apa? Saka mau menjemputku? Benarkah?
" Fina? Kau dengar? " Saka mulai tidak sabar.
__ADS_1
" Iya. " Jawabku.
" Sekarang juga kau ke pos satpam. Jangan sendirian di halte. " Tuttttt..... Belum juga aku menjawab, sudah dimatikan.
Aku masuk kembali ke gerbang kantor menghampiri bapak-bapak satpam yang jaga malam. Salah satu dari mereka aku kenal, namanya Pak Sucipto. Pak sucipto sering berada di area parkir motor karyawan kalau sore, aku sering meminta tolong padanya kalau motorku bermasalah.
" Loh.. Neng Safina kok belum pulang? " Tanya Pak Sucipto.
" Lagi nunggu jemputan Pak. Nggak bawa motor soalnya. " Jawabku sopan.
" Oh. Mari neng. Duduk sini. " Aku dipersilahkan dudu di kursi yang biasa diduduki Bapak-bapak Satpam ketika jaga.
Tiga puluh menit aku menunggu Saka. Untung ada Pak Sucipto, jadi ada temen ngobrol, nggak bosen. Aku menyipitkan mataku ketika menangkap sorot lampu mobil masuk ke gerbang. Pak Satpam yang membukakan gerbang mengangguk sopan kepada pemilik mobil itu. Siapa lagi. Pasti itu Saka. Itu kan mobil Saka. Setelah ambil putar balik, mobil Saka berhenti di depanku. Pak Sucipto menghampiri mobil Saka dan membukakan pintu kemudi. Keluarlah Saka, dengan pakaian santainya.
Ganteng banget....
Saka menggandeng tanganku bahkan membukakan pintu mobil di kursi penumpang bagian depan untukku. Manis bukan? Seorang Saka mau bersikap manis begitu. Pak Sucipto dan Satpam yang lain juga terlihat kaget. Aku mengangguk pamit kepada mereka sebelum mobil keluar dari gerbang.
Hening.. Tidak ada percakapan antara aku dan Saka di dalam mobil. Aku fokus menatap jalanan. Lagian, aku juga masih kesal dengan Saka.
Kulirik dia sebentar. Tuh kan. Apa dia tidak merasa bersalah? Kenapa sekarang wajahnya dingin seperti itu. Pengen aku gejek tuh kepala.
" Berani kau mengumpatku di dalam hatimu, aku cium kamu di sini sekarang juga. " Aku sontak menengok ke arahnya. Apa-apaan dia, selalu saja serba cium-cium. Tidak ingat apa tadi di kantor sudah berapa kali dia menciumku. Membuat kesal saja.
__ADS_1
Kulirik dia dengan sorot mata membunuh dariku, bukannya takut dia malah tersenyum dan... Apa tadi? Dia? Mengedipakan sebelah matanya? Kok aku jadi deg-degan.. Saka? Kamu?