Saka, My Cool Husband

Saka, My Cool Husband
Episode 30


__ADS_3

Setelah kejadian di kantor tadi, dua manusia itu sekarang saling mendiamkan. Safina tidak berani mengajak Saka bicara, dan Saka juga menunggu Safina mengajaknya bicara. Mereka tidur seranjang, tapi memberi jarak satu sama lain.


Safina berusaha memejamkan matanya tapi tidak bisa. Hatinya benar-benar gelisah.


" Kenapa dia jadi mendiamkanku. " Ucap Safina dalam hati.


Matanya masih menatap langit-langit kamar. Begitu juga dengan Saka. Mereka berdua tidur dengan posisi terlentang.


Safina menoleh sebentar ke arah Saka yang tidur di sampingnya. Mata laki-laki itu sudah terpejam. " Dia sudah tidur ya. " Ucap Safina dalam hati.


Tiba-tiba dia teringat dengan ucapan Agnes di kantor. Bagaimana jika perempuan itu masih mendekati Saka, dan bagaimana jika hati Saka luluh. Mereka sudah dekat sejak lama. Tidak menutup kemungkinan jika itu terjadi. Jika waktu itu dia dan Saka tidak menikah, mungkin saja Saka akan menikahi Agnes. Dia tidak sanggup melihat itu, hatinya sudah terlanjur dalam mencintai Saka.


Air matanya tiba-tiba saja menetes. Buru-buru dia merubah posisi tidurnya membelakangi Saka, menarik selimut sampai ke kepala. Nafasnya naik turun tidak teratur karena menahan isak agar Saka tidak mendengar tangisannya.


Tiba-tiba selimutnya tertarik sehingga kepalanya kembali muncul keluar. Safina hendak menutup kembali kepalanya dengan selimut, tapi langsung ditahan oleh Saka.


" Kau menangis? " Tidak ada jawaban.


" Fina? Kau menangis? " Tanya Saka sekali lagi.


" Tidak. " Jawab Safina menghapus air matanya cepat.


Saka berusaha membalikan badan Safina agar menghadap ke arahnya. Tapi Safina menolak.


" Kalau kau menolak, aku akan mendorongmu sampai kau jatuh ke bawah. " Ucap Saka tegas.

__ADS_1


" Dorong saja kalau kau berani. " Safina menyahut dengan kesal.


" Tega-teganya dia mau mendorongku. " Gerutu Safina dalam hati.


Saka menempelkan kakinya di pinggang Safina. " Kau menantangku? " Ucap Saka menantang.


Safina yang terlanjur kesal langsung bangun dari tidurnya, menurunkan kedua kakinya ke bawah. Mengambil posisi berbaring di lantai.


Saka terkejut dengan apa yang dilakukan Safina.


" Tidak usah mendorongku. Aku akan tidur di lantai atas kemauanku sendiri. " Ucap Safina ketika sudah berbaring di lantai.


Saka langsung bangun dan turun dari ranjang menghampiri Safina. " Apa yang kau lakukan? " Ucapnya setelah berjongkok di samping Safina.


" Kau mau mendorongku kan? Aku akan turun sendiri. Jadi kau tidak perlu repot. " Kesal Safina.


" Auu... " Ucap Safina karena Saka melemparnya dengan kasar tubuh Safina ke ranjang.


Saka menatap Safina sambil berkacak pinggang.


" Apa? " Ucapnya ketika mendapat tatapan tajam dari Safina.


Safina memalingkan wajah. " Menyebalkan. " Gerutunya.


Saka naik ke kasur dan membaringkan tubuhnya di samping Safina. Safina menggeser tubuhnya memberi jarak kepada Saka.

__ADS_1


Saka tidak lantas diam, dia masih iseng menjahili istrinya. Kakinya menendang-nendang pelan kaki Safina. Safina masih diam tidak peduli, tapi lama-lama dia kesal. Dia membalas menendang kaki Saka lebih keras.


Bukannya sakit, Saka malah merasa senang. Senang rasanya melihat raut kesal istrinya.


" Fina... Kenapa kau menggemaskan sekali sih? " Memandang wajah istrinya sambil memberikan senyuman menggoda.


Safina menyipitkan matanya. " Apa-apaan dia. Tadi diam, sekarang kenapa jadi aneh begini. " Ucapnya dalam hati.


Saka masih senyum-senyum menggoda istrinya. " Apa senyum-senyum.. " Ucap Safina mendelik sebal kepada suaminya.


" Istriku benar-benar menggemaskan. " Ucapnya lalu mencubit pipi Safina dengan satu tangan.


" Saka.......????? " Kesal Safina setelah Saka melepaskan cubitan di pipi Safina. Yang dikesali malah semakin melebarkan senyumnya.


Saka menggeser tubuhnya lebih mendekat ke Safina. Dipeluknya tubuh istrinya itu dengan gemas. " Sini-sini.. Biar kumakan kau. Membuatku gemas saja. " Ucapnya lalu menggigit pipi istrinya yang terlihat semakin berisi.


" Saka ih.... " Kesal Safina.


Bibir Saka sudah tidak bisa dikondisikan. Dia menghujani wajah istrinya dengan banyak ciuman. Safina tertawa kegelian diperlakukan seperti itu.


Saka menghentikan aksinya tetapi tidak melepas pelukannya kepada Safina. Mereka saling pandang sejenak, lalu keduanya tertawa bersama.


Saka lebih dulu menghentikan tawanya. Dia memandang lekat wajah cantik yang sedang tertawa itu. Menyadari tatapan mata Saka, Safina menghentikan tawanya. Dia membalas tatapan mata Saka.


" Aku mencintaimu.. " Ucap Saka lalu mendekatkan wajahnya ke Safina, memberi ciuman lembut pada bibir istrinya itu.

__ADS_1


Malam itu mereka menghabiskan malam dengan perlakuan cinta.


........


__ADS_2