
Saka dan Agnes berjalan di taman yang ada di hotel. Agnes sudah tidak menarik tangan Saka karena Saka yang melepaskannya.
" Kau tidak ada kerjaan sampai datang ke sini hanya untuk mengekoriku. " Ucap Saka dengan nada dingin.
Agnes menghentikan langkahnya, menarik tangan Saka agar ikut berhenti. Saka menarik tangannya yang dipegang Agnes.
" Jaga sikapmu, Agnes. " Ucap Saka tegas.
" Kamu berubah Saka. " Agnes mulai mengutarakan isi hatinya.
" Tidak ada yang berubah. " Jawab Saka memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
" Saka yang aku kenal tidak akan mau disentuh oleh perempuan manapun. Kau bahkan tidak suka jika aku sentuh. Tapi tadi, kau.. Kau menyentuh perempuan itu? " Agnes sedikit menaikkan intonasi bicaranya.
" Dia perempuan yang ada di rumahmu kan? Aku tidak lupa Saka. Jelaskan, ada apa antara kau dan dia! Kalau dia pelayanmu, kenapa dia ada disini bersama karyawan kantormu. Waktu itu juga dia tidak memakai seragam pelayan. " Agnes kembali mengutarakan isi hatinya.
" Saka? Kenapa kau diam? " Agnes mulai kesal karena Saka hanya diam saja.
" Apa hakmu bertanya seperti itu. " Ucap Saka tanpa menatap wajah Agnes.
Agnes semakin geram, " Hakku? Apa hakku kau bilang? Saka? Kau tau aku mencintaimu sejak dulu. Aku tidak mau kamu dekat dengan perempuan lain. " Hendak memeluk Saka tapi Saka langsung menghindar.
" Maaf Agnes. Tapi aku tidak pernah mencintaimu. " Jawab Saka, sebenarnya dia tidak tega mengatakan ini. Bagaimanapun juga Agnes adalah teman yang selalu ada untuknya sejak dulu.
" Aku tahu. Orang sepertimu tidak akan bisa jatuh cinta. Maka dari itu, izinkan aku menjadi pendampingmu. Biarkan aku yang mencintaimu, aku tidak masalah jika kau tidak membalasnya. " Agnes berkata sampai matanya berkaca-kaca.
" Maaf Agnes. Tapi kau salah. Aku mencintai seseorang. Sekarang, besok, dan selamanya hanya ada dia. Aku tidak bisa membayangkan kalau aku hidup tanpa dia. " Ucap Saka dalam hati.
__ADS_1
" Saka? Jawab aku. " Agnes berkata pelan, menandang lekat wajah Saka.
Saka menghela nafas. " Agnes, bagiku kau adalah sahabat. Sahabat baik. Aku menyayangimu sebagai sahabat. Dari dulu aku tidak pernah memiliki teman perempuan kecuali kamu. Tapi sekarang berbeda Agnes, kita tidak bisa bersikap seakrab dulu lagi. " Jelas Saka.
" Kenapa tidak bisa? " Agnes berusaha mencari sesuatu dari mata Saka, tapi sejak tadi Saka enggan menatapnya.
" Bersikaplah layaknya teman Agnes. Dulu aku membiarkanmu bersikap semaumu karena aku menghargaimu. Kau baik padaku, pada mamaku, aku menghargai persahabatan kita. Kau datang semaumu ke kantorku, datang ke rumahku semaumu, aku tidak pernah melarangmu. Tapi sekarang sudah berbeda, aku adalah pria yang sudah beristri. " Deg. Kata-kata terakhir Saka membuat Agnes terkejut.
" Kamu bercanda kan Saka? " Agnes berharap Saka hanya main-main dengan kata-katanya.
" Kamu cuma mau mengerjaiku kan? " Lanjut Agnes.
" Aku serius. " Jawab Saka singkat.
" Siapa Saka? Siapa perempuan murahan itu? " Agnes menggoyangkan lengan Saka sambil terisak.
Saka menahan marah karena Agnes mengatai Safina perempuan murahan. " Dia bukan perempuan murahan. " Kata Saka menatap Agnes tajam.
" Kau sudah tahu. " Kata Saka mengatur kembali emosinya.
Agnes menyerngit terlihat memikirkan sesuatu. " Apa perempuan itu? Perempuan yang waktu itu ada di rumahmu, perempuan yang tadi..... " Agnes tidak melanjutkan ucapannya, dia semakin tidak bisa menahan sedih dan emosi yang bercampur aduk. Hatinya benar-benar sakit mendapat kenyataan bahwa seseorang yang selama ini dia cintai, dia kejar, sudah menjadi suami orang lain.
" Maafkan aku Agnes. " Ucap Saka pelan.
" Tidak Saka.. Aku tidak mau.. Aku mau kamu jadi milikku.. Huuu " Agnes semakin menangis.
Saka jadi bingung, orang-orang yang melihat mereka pasti mengira dia menyakiti Agnes. Meskipun kenyataannya memang menyakiti.
__ADS_1
" Aku akan mengantarmu ke kamar. " Menarik tangan Agnes. Agnes menurut. Hatinya benar-benar hancur. Dia berjalan menunduk, mengikuti langkah kaki Saka tanpa melihat ke depan.
Di lobi, Saka yang sedang menggandeng tangan Agnes berpapasan dengan Safina. Safina melihat Saka dan Agnes, tapi Saka tidak, karena dia berjalan terburu-buru tanpa melihat sekitar.
" Itu perempuan yang sering menemui Pak Saka di kantor kan? Kenapa dia menangis ya? " Heran Lili.
" Pak Saka juga terlihat baik menggandeng tangannya. Apa mereka pacaran dan baru saja bertengkar ya. " Imbuh Laras.
Safina tidak menanggapi ucapan kedua temannya. Dia juga penasaran. Tapi rasa cemburu lebih menguasai dirinya.
" Kita ke kamar aja yuk. Aku pengen mandi. Badanku penuh dengan keringat. " Ajak Safina kepada Laras dan Lili.
" Iya. Aku juga.. " Lili menyahut. Mereka berjalan ke lantai empat dimana kamar mereka berada.
Sesampainya mereka di kamar. Lili yang terlebih dahulu masuk ke kamar mandi. Sedangkan Laras mengambil tas untuk mengambil baju.
Melihat Laras yang memegang baju, Safina jadi teringat kalau tasnya masih ada di kamar Saka. Dia harus mengambilnya. Mungkin Saka belum kembali ke kamar. Jadi dia tidak akan bertemu Saka. Beruntung dia punya kartu kamar Saka, semalam Pak Josep yang memberinya.
" Ras, aku mau keluar sebentar. Tasku tertinggal di kamar temanku. " Ucap Safina.
" Iya Saf. Mau ditemenin? " Kata Laras menawarkan.
" Tidak usah. Sendiri saja. Aku bentar aja kok. " Jawab Safina
" Oke. Hati-hati. " Laras mengangguk.
Setelah itu Safina berjalan keluar kamar.
__ADS_1
Bersambung.....
Agnes kasihan banget yaaa..... Aku juga sedih menulisnya...