
Safina memperhatikan mata suaminya yang mulai terpejam. " Aduh Saka, jangan tidur dulu donk. Aku kan mau bicara. " Ucap Safina dalam hati.
" Saka.. " Lirinya.
" Hmm.. " Sahut Saka malas karena sudah sangat mengantuk.
" Emm.. Itu... " Safina terlihat ragu-ragu untuk berbicara.
" Cepat bicaralah. Kalau tidak langsung bicara, aku akan tidur. " Saka terlihat kesal.
" Bolehkah.. Aku meminjam uang? " Saka langsung membuka lebar matanya mendengar ucapan Safina. " Jarak rumahmu ke kantor lumayan jauh, tidak seperti kontrakanku. Aku benar-benar tidak punya ongkos untuk bolak-balik dari kantor ke rumahmu. Uangku hanya cukup untuk makan sampai akhir bulan sebelum gajian. " Lanjut Safina.
Terdengar hembusan nafas panjang dari Saka. Dia membalikan posisinya menghadap Safina. " Dengar, aku ini suamimu. Semua kebutuhanmu adalah tanggung jawabku. Mulai besok kau tidak perlu lagi bekerja. Uangku tidak akan habis walaupun setiap hari kau menghambur-hamburkannya. "
Safina menggeleng cepat. " Tidak tidak. Aku masih ingin bekerja. Aku suka bekerja. " Safina memohon.
" Baiklah. Mulai besok kau akan diantar sopir kemanapun kau pergi termasuk ke kantor. Masalah uang, aku tidak akan membiarkan rekeningmu dalam keadaan kosong. Kau boleh mengambil kartu yang ada di dompetku. Kau pilih saja yang mana. " Safina hanya melongo mendengar ucapan suaminya.
" Saka? Itu terlalu berlebihan.. Aku... "
__ADS_1
" Jangan membantah. " Saka memotong ucapan Safina. " Sekarang tidurlah. Besok aku tidak ke kantor, aku harus ke Bandung. Melihat proyek yang ada di sana. " Saka mulai memejamkan matanya.
" Besok Saka mau ke Bandung? " Ucap Safina dalam hati. Safina penasaran dengan siapa dia akan ke Bandung. Dia benar-benar takut kalau Saka pergi ke Bandung bersama Agnes, atau rekan kerja perempuannya yang lain. Pernikahan mereka belum banyak yang tahu, pasti banyak perempuan yang mengincar suaminya. Apalagi Saka terlihat tidak berniat memberi tahu ke semua orang kalau dia sudah menikah. Apa Saka malu punya istri seperti dirinya.
" Apa besok kau pergi dengan Pak Josep? " Tanya Safina.
" Hmm.. " Sahut Saka.
" Dengan siapa lagi? " Tidak ada jawaban dari Saka.
" Saka. " Tidak ada jawaban. " Apa kau tidak dengar? " Safina menggoyangkan lengan Saka.
Saka berbalik dan menatap tajam istrinya.
" Ti.. tidak. " Jawab Safina terbata.
" Bagus. Jika kau ikut kau pasti akan membuat kekacauan. Kau dan Agnes tidak mungkin akur. " Saka kembali terlentang dan mulai memejamkan mata.
Benar dugaan Safina, Saka akan pergi bersama Agnes. Sebenarnya tidak apa-apa, Safina akan berusaha percaya. Tapi apa harus dengan kata-kata yang menyakitinya seperti itu? Apa Safina hanya pembuat kekacauan bagi Saka? Safina bergerak pindah posisi memunggungi Saka. Menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan hatinya.
__ADS_1
Sepuluh menit berlalu.. Safina belum juga menutup matanya. Masih dengan posisi memunggungi Saka.
" Kau sudah tidur? " Sekarang Saka yang bertanya. Safina pura-pura memejamkan mata.
" Aku tahu kau belum tidur. " Menyentuh bahu Safina. " Menghadaplah kesini. " Pinta Saka. Tapi Safina tak bergeming masih bertahan pada posisinya.
" Fina? " Panggil Saka.
" Fina? " Panggil Saka sekali lagi.
Karena tidak sabar, Saka membalik paksa Safina agar menghadap ke dirinya. Menatap lekat wajah istrinya. Saka menarik dagu istrinya agar mau melihat wajahnya.
" Apa aku menyakitimu? " Safina menggeleng.
" Aku tanya sekali lagi. Apa aku menyakitimu? " Safina tidak menggeleng tapi juga tidak menjawab.
" Sayang. Pertemuan pertamamu dengan Agnes tidak baik. Dia pasti tidak akan menyukaimu. Pasti akan terjadi kekacauan dan aku tidak mau kau terluka seperti waktu itu. " Saka menarik Safina dan memeluknya erat.
Saka mengelus pipi Safina dengan lembut. " Sekarang tidurlah.. Atau kau ingin kita begadang? Dengan senang hati aku akan menemanimu begadang, sekalian.. Aku bisa meminta malam pertamaku yang belum kau berikan. " Deg. Safina terkejut mendengar ucapan Saka. " Tidak.. Aa.. Aku akan tidur seeekarang. " Ucap Safina merasa gugup, karena jujur saja Safina belum siap mengenai itu. Saka tersenyum gemas.
__ADS_1
" Yasudah. Tidurlah. " Menarik Safina ke dalam pekukannya. Mereka tidur dengan nyenyak.
Bersambung.....