
Safina Pov
Tadi pagi setelah perdebatan panjang antara aku dan Saka, akhirnya aku ke kantor dengan menaiki bus. Saka memaksa agar aku diantar oleh sopir, tapi aku tidak mau. Aku diam-diam keluar rumah saat dia sedang mandi. Rasakan itu. Aku tinggal.
" Safina. " Aku menoleh karena merasa ada yang memanggil. Ternyata Laras.
" Semalam bagaimana? Kamu pulang sama siapa? " Tanya Laras.
" Aku tidak pulang. " Aku sontak menutup mulutku yang hampir keceplosan ini.
" Nggak pulang? Maksudnya? " Laras kebingungan.
" Ya pulang lah.. Masa nggak pulang. Hehe.. Aku bercanda tadi. " Pura-pura bercanda saja kali ya.
" Oh.. " Laras menggaruk rambutnya, mungkin dia sebenarnya masih bingung tapi malas membahasnya. Haha. Laras.. Laras.
Aku dan Laras tiba di ruangan devisi kami. Di sana sudah ada Mbak Sarah dan Mas Antonio. Dua senior ini memang rajin sekali berangkat pagi.
" Hai Saf.. Selamat pagi. " Mas Antonio menyapaku dengan ceria. Dia memang selalu begitu. Ramah dan suka membantuku. Aku benar-benar beruntung satu tim dengannya.
" Masih punya muka? Setelah tadi malam membuat kekacauan. " Itu bukan Mas Antonio yang berbicara, tapi Mbak Sarah. Huh perempuan satu ini memang. Tanpa menjawab, aku langsung duduk di kursiku. Aku malas menanggapi.
__ADS_1
" Nanti kita makan siang bareng lagi ya.. " Mas Antonio mungkin mau mencairkan suasana yang tiba-tiba hening.
" Masih juga pagi udah kepikiran makan siang. " Ledek Laras.
" Dih. Biasanya juga kamu yang semangat ngajak makan siang. " Balas Mas Antonio tak terima.
" Kita bertiga udah... Biar adil.. " Giliranku yang berbicara.
" Mbak Sarah mau ikut? " Tanyaku basa-basi kepada Mbak Sarah. Kelihatannya saja dia fokus ke berkas, tapi aku yakin telinganya mendengarkan kami.
" Males. " Jawab Mbak Sarah singkat. Ya begitulah Mbak Sarah.
Tiga jam aku berkutat dengan berkas dan laptop yang membosankan ini, aku meregangkan otot-ototku yang mulai terasa kaku. Tinggal satu jam lagi waktu makan siang tiba. Tidak sengaja aku melihat seorang perempuan melintas di depan ruangan devisiku. Sepertinya perempuan tadi tidak asing. Tapi siapa ya? Ah yasudah. Tidak usah dipikirkan, tidak penting juga. Lebih baik aku kembali fokus. Satu jam lagi Safina.. Sabar..
Safina, Laras, dan Antonio berjalan bersama menuju ke kantin kantor. Mereka tidak akan menghabiskan uang mereka untuk makan di luar. Kalau bisa dapat gratis, kenapa harus capek-capek cari yang bayar? Di kantin kantor makanannya juga enak-enak.
Safina mengambil ponselnya. Dia ingin mengirimi pesan kepada Saka, jangan lupa makan. Tapi dia lupa, nomor Saka saja tidak punya. Nomor suami sendiri tidak punya. Dasar aku.
" Chat dengan siapa sih. " Antonio berhasil merebut ponsel milik Safina.
" Mas Anton ih, siniin nggak.. " Safina berusaha merebut kembali ponselnya.
__ADS_1
Mereka tidak sadar kalau ada sepasang mata yang menatap mereka tajam.
" Permisi Pak. " Sapa Laras kepada Saka karena melihat bosnya mau menaiki lift. Hanya saja lift yang akan dinaiki Saka berbeda dengan mereka. Saka menaiki lift khusus petinggi, sedangkan mereka bertiga lift untuk karyawan biasa. Mereka bertiga heran, kok tumben bosnya ada di lantai ini. Ruangan bos kan ada di lantai paling atas?
Antonio juga menyapa bosnya itu. " Selamat siang Pak. " Yang disapa hanya menengok saja. Mereka tidak kaget, karena mereka sudah tahu bagaimana bosnya itu.
Hanya Safina yang tidak menyapa. Selain bingung, dia juga kaget melihat perempuan yang ada di sebelah Saka. Dia adalah perempuan yang tadi malam bertengkar dengannya. Beruntung perempuan itu tidak menoleh dan terlihat cuek, bisa bahaya kalau perempuan itu melihat dirinya.
" Saka, kita mau makan siang dimana? " Kalimat itu yang aku dengar dari mulut perempuan itu sebelum akhirnya pintu lift yang dinaiki dia dan Saka tertutup.
Dia siapa Saka sih? Kenapa akrab sekali dengan Saka. Mau makan siang berdua lagi. Kemana Pak Josep? Biasanya juga dia menemani kemanapun Saka pergi kan? Lagi-lagi aku dicuekin suamiku. Baru saja semalam dan tadi pagi Saka bersikap manis, sekarang sudah dingin lagi.
" Safina. " Aku tersentak karena panggilan Mas Antonio.
" Ayo.. " Dia menarik tanganku untuk masuk ke lift.
" Mikirin apa sih? " Kali ini yang bertanya Laras.
" Ngga mikirin apa-apa. Cuma laper aja. " Jawabku pura-pura baik-baik saja. Padahal hatiku sedang..... Hmm ya begitulah.
Saka sedang makan siang berdua dengan perempuan lain. Itu yang ada di pikiranku sekarang.
__ADS_1
Bersambung