
1. Safina Putri (Safina)
2. Saka Nugraha (Saka)
3. Agnes Hutomo (Agnes)
4. Larasati (Laras)
5. Antonio Abraham (Antonio)
6. Sarah Angela (Sarah)
7. Josep
8. Bagas
Agnes mencengkram kuat tangannya saat melihat Safina keluar dari kamar Saka. Saka tidak pernah mengizinkan siapapun masuk ke kamarnya, baik itu kamar pribadi di rumah atau di hotel sekalipun. Hanya Josep asistennya yang pernah sesekali masuk ke kamar Saka jika Saka memanggil.
" Sekarang, anak ingusan itu dengan mudahnya keluar masuk kamar Saka. " Yang dimaksud anak ingusan oleh Agnes adalah Safina.
Dia kembali menutup pintu kamarnya. Kamarnya masih satu lorong dengan Saka meskipun tidak bersebelahan.
__ADS_1
Di dalam kamar dia menangis sejadi-jadinya, melempar semua barang yang bisa dijangkaunya. " Ahhhh... Kamu jahat Saka!!!!!" Teriak Agnes.
" Apa hebatnya perempuan itu dibanding aku.. Aku lebih cantik, lebih pintar, lebih kaya. " Agnes masih berteriak meluapkan emosinya.
" Tidak.. Aku yakin, Saka punya perasaan terhadapku. Selama ini kami berteman baik. Tidak mungkin Saka hanya menganggapku teman. Pasti perempuan itu yang menggoda Saka. Dia hanya menginginkan harta Saka. " Agnes meyakinkan asumsinya.
" Aku akan merebut Saka. Tidak, bukan merebut, tapi meminta kembali apa yang seharusnya menjadi milikku. " Agnes tersenyum meyakinkan dirinya sendiri.
Sedangkan di tempat lain. Safina dikejutkan dengan seseorang yang memanggil namanya. " Safina. " Safina menoleh.
" Mas Antonio? " Safina terkejut kenapa ada Antonio di sini.
" Mas Antonio lihat aku keluar dari kamar Saka nggak ya? " Ucap Safina dalam hati.
" Kamu kenapa ada di sini? Kamar kamu bukannya ada di lantai..... " Antonio tidak melanjutkan kata-katanya. Dia melihat ke arah belakang di mana Safina berdiri. Di sana ada Saka yang berjalan ke arah mereka.
" Sayang... " Panggil Saka sambil melingkarkan tangan di pinggang Safina.
Antonio membelalakan matanya mendengar panggilan Saka kepada Safina. Apa tadi? Sayang?
Sedangkan Safina tersenyum canggung kepada Antonio.
" Kalian sedang mengobrol apa? " Bertanya pada Safina dan Antonio tapi pandangannya tetap pada Safina. Dia tidak mempedulikan keberadaan Antonio.
" Saya tidak sengaja melihat Safina berada di lantai ini. Dia keluar dari kamar yang dijaga oleh anak buah bapak, dan..... Maaf Pak. Baru saja saya melihat Bapak keluar dari kamar yang sama dengan Safina. Maaf Pak. " Jelas Antonio sekaligus berharap mendapat jawaban dari kebingungannya.
" Oh. Baguslah kalau kamu melihatnya. " Ucapan Saka membuat Antonio bingung. Bagus katanya?
" Dia istriku. Jadi wajar saja dia keluar masuk kamarku sesuka hatinya. Iya kan sayang? " Saka memberikan kecupan singkat di kepala istrinya.
Antonio sekarang benar-benar terkejut, lebih terkejut dari yang tadi. " Sa.. Safina.. Istri Bapak? " Tanya Antonio memperjelas.
" Tanya saja pada istriku yang manis ini. " Jawab Saka santai.
Antonio melihat ke arah Safina yang ditanggapi senyuman canggung oleh Safina.
" Iya Mas Anton, kami menikah waktu di Paris. " Jelas Safina.
Antonio berpikir berarti umur pernikahan mereka masih baru, karena Safina dan Sarah pulang dari Paris belum ada satu bulan, masih sekitar dua minggu.
__ADS_1
" Eee.. Selamat ya Bu Safina.. Pak Saka.. Semoga pernikahan kalian langgeng, bahagia dan segera diberi momongan. " Antonio tersenyum tulus.
Safina menyerngit mendengar panggilan baru Antonio. Apa tadi? Bu? Bu Safina?
" Mas Anton jangan memanggilku bu begitu. Aku akan terlihat tua nanti. " Protes Safina.
Antonio tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. " Em... Tidak enak rasanya. Kamu kan istrinya Pak Saka. Berarti istrinya bosku. " Jelas Antonio.
" Tapi.... " Ucapan Safina terpotong oleh Saka.
" Apa kalian sudah selesai mengobrol? " Tanya Saka.
Merasa tidak enak. Antonio berniat undur diri.
" Emm.. Maaf Pak.. Safina.. . Saya permisi. Mau kembali ke kamar saya. " Menunduk hormat kemudian berlalu dari pandangan Saka dan Safina.
Dari semenjak sampai di Bali, Antonio memang menaruh curiga kepada Safina. Dari mulai kedipan mata Saka, Safina yang bolak-balik ke lantai atas, dan saat foto di pantai tadi. Ternyata kecurigaannya membuahkan hasil, sekarang dia tahu kalau Safina teman akrabnya di kantor adalah istri dari Pak Saka, bosnya.
" Sayang... " Panggil Safina kepada Saka yang ada di sampingnya.
" Hmm... " Sahut Saka kemudian memandang lembut wajah istrinya.
Safina mendongak menatap wajah Saka.
" Apa tidak apa-apa? Kalau karyawan kantor tahu hubungan kita? " Tanya Safina.
" Memang seharusnya semua orang tahu bukan? Kalau ngumpet-ngumpet nanti dikira kucing-kucingan... " Jawab Saka sambil tersenyum manis.
Safina menyipitkan matanya memandang Saka, lalu memukul pelan lengan Saka, " Sejak kapan suamiku ini pintar bercanda. "
Saka tertawa pelan lalu memeluk istrinya.
" Sejak barusan. " Jawab Saka, Lalu keduanya tertawa bersama.
Mereka tidak tahu kalau ada sepasang mata yang memperhatikan mereka sejak tadi.
" Selama aku berteman dengan Saka. Dia tidak pernah tertawa seperti itu denganku. Tapi dengan perempuan itu....... " Ucap Agnes pelan di balik pintu yang terbuka sedikit.
Bersambung.....
__ADS_1